Wanita Yang Mulia Adalah Tiang Negara

0
842

Sri handayani,S.Pd
Ibu rumah tangga dan pemerhati sosial

Wanita Yang Mulia Adlah Tiang Negara, itulah gelar yang disematkan pada perempuan. Perempuan adalah sosok yang luar biasa, berbagai gelar pun disematkan pada sosok perempuan, bahkan peringatan terhadap seorang perempuan itu pun ada. Mulai dari hari ibu yang diperingati tiap 22 desember, hari Kartini yang diperingatitiap 21 April,sampai yang bersekala Internasional pun ada, tepatnya tanggal 8 maret,yang dikenal dengan hari Perempuan Internasionl yang diperingati sejak tahun 1900an.

Kenapa perempuan begitu spesial di mata dunia, ataukah memang ada sesuatu yang hendak diraih di balik peringatan sosok perempuan ini, sehingga harus ada peringatan untuk perempuan di tiap tahunnya?. Sebenarnya tuntutan dari kaum hawa setiap tahunnya ini tidaklah jauh berbeda, hanya berkutat pada tuntutan kesetaraan antara kaum laki-laki dengan kaum hawa ini.

Feminisme menganggap bahwa ketika perempuan menjadi pengatur rumah tangga dan laki-laki mencari nafkah di luar dianggap sebagai domestikasi perempuan, padahal itu merupakan pembagian peran Begitu pula pada peringatan perempuan Internasional kali ini.

Pada aksi womens march Jakarta pada taggal 3 maret 2018 terpampang sebuah poster “if woman wants to be a warior let her be and if a man wants tobe a princes let him be “ yang berarti “ Jika perempuan ingin mnjadi ksatria maka biarkan, jika laki-laki ingin menjadi puteri maka biarkan”.

Sehingga menurut mereka, perempuan tidak harus menutup aurot dan ketika terjadi pelecehan merekapun tak mau disalahkan.
Meski pada akhir akhir ini tuntutan aksi mulai berkembang namun tetap saja berkutat pada persoalan feminisme dan kesetaraan gender.

Kaum feminis mengira, ketinggian peradaban perempuan diukur dari peran perempuan dalam pemerintahan. Bahkan menurut mereka, kepemimpinan laki-laki harus di lawan.

Sebenarnya jika kita mencermati tuntutan dalam aksi ini, terlihat jelas bahwa ada misi besar yang ingin di capai. Tuntutan yang ada sebenarnya bukanlah sebuah tuntutan dari hati nurani kaum hawa semata, tetapi telah ditunggangi oleh propaganda jahat dengan upaya sekulerisasi dan liberilisasi di kaum hawa.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sekulerisme adalah paham yang tidak menghendaki aturan agama (islam) diranah kehidupan.
Sedang liberalisme adalah buah buah busuk dari paham tersebut. Kebebasan yang lahir akibat dari keengganan pada aturan Allah.

Menjadi pejuang kaum hawa tidaklah dengan menjadi feminisme, tetapi menjadi muslimah yang taat kepada Allah, berdakwah untuk penerapan Syari’at Islam. Karena sesungguhnya dimata Allah kemuliaan seseorang dilihat dari sisi ketaqwaannya kepada Allah, bukan yang lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here