Tuan Guru Bajang Clean & Clear Dalam Proses Divestasi Newmont

0
156

Rusdianto Samawa
Direktur Eksekutif Global Base Review (GBR)

Seri I

Judul tulisan ini subjektif saya, artinya saya menilai Tuan Guru Bajang Muhammad Zaenul Majdi yang menjabat Gubernur NTB sekarang ini “Clear and Clean” dalam kasus penjualan saham PT. NNT.

Tulisan ini dimulai serial I dan berarti akan ada serial ke II dan seterusnya. Saya menulis ini juga setelah sholat subuh, kemudian berdoa, yang terlintas dalam doa saya mendoakan seluruh Tokoh NTB agar dijaga, diberkahi dan diridhoi oleh Allah SWT.

Yang dapat saya sebut oleh mulut dalam suara doa itu: Fahri Hamzah, Farouk Muhammad, TGB, Nanang Samudera, Kurtubi, H. Wilgo Zainar, Salamuddin Daeng dan M. Hatta Taliwang. Saya berharap mereka tampil sebagai pemimpin masa depan bangsa dan negara. Amien…. ya begitulah. Doa ini juga, bukan dalam konteks lobbi uang THR. Hehe

Kalau ada yang membantah tulisan ini, yah dipersilahkan. Karena kita manusia merdeka, tak ada pilihan untuk menindas diri sendiri maupun orang lain. Mohon dimaknai positif bahasa saya. Tak ada kebenaran tercapai, kalau belum final faktanya dan diukur integritas para analis yang bermunculan akhur-akhir ini.

Maka kita wajib saling mengoreksi dan evaluasi atas analisa kita masing-masing. Tentu juga, orang lain memiliki hak penuh secara akademik ilmiah dan intelek dalam membantah atau menerima suatu kebenaran. Ibaratnya, tulisan ini juga bagian dari TABAYYUN terhadap para analis.

Begini, dasar argumentasi saya berusaha untuk ilmiah dan tak ada tendensi mendebat para analis dan membela Tuan Guru Bajang. Yang saya maksud dasar argumen dalam tulisan ini nanti adalah mengambil makna dan intisari dari beberapa tulisan analis, baik yang dianggap benar maupun kurang ketepatannya.

Membaca banyak analis bermunculan dan mengetahui persis dinamika atas penjualan saham NNT itu, maka baiknya saya sebut nama saja supaya terbuka. Karena tulisan ini bagian dari counterring saya secara intelektual dan sangat terbuka untuk di debatable, seperti Bung Poetra Adi Soerjo, Imam S, Salamuddin Daeng dan banyak lagi tokoh-tokoh yang lain.

Tulisan ini batas kemampuan saya untuk membaca dan memaknai Tuan Guru Bajang dan membaca klausul berbagai tulisan dari nama-nama para analis yang disebutkan diatas itu. Bayangkan, sejak januari hingga Juni ini, saya terus membaca ulang tulisan para analis, terutama tiga buah tulisan terakhir Bung Imam S, tentang saham PT. NNT dan eksistensi PT. DMB.

Kalau ada yang mengatakan saya bukan ahli dalam pertambangan, ya saya mengakui. Namun, semua orang punya hak intelektual untuk merespon gejala sosial yang bereskalasi tinggi. Karena persoalan saham ini, bukanlah persoalan pribadi Tuan Guru Bajang, karena kepemilikan saham Pemerintah Provinsi di. PT. Daerah Maju Bersaing (DMB) hanya 40%, sedang 40% dimiliki oleh Ka. Sumbawa Barat dan 20% dimiliki Oleh Kabupaten Sumbawa. Dengan demikian Provinsi bukanlah pemegang saham pengendali.

Sebagaimana dimaklumi bahwa keputusan-keputusan Perseroan sesuai Undang-Undang PT ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Karenanya konteks kerja sama antara PT. DMB dengan PT. Multi Capital dalam konteks Bisnis to Bisnis.

Begitu juga, saya tak perlu bertanya pada para analis, karena saya kira dari membaca tulisan analis sudah mewakili argumentasi dan cara pandang untuk menilai sesuatu, karena pendapat itu kebenaran relatif, kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Esa. Pendapat analis juga ada benarnya.

***********

Serial Kajian Ilmiah II

Apakah PT. DMB mengalami kerugian ?

Rusdianto Samawa, Ketua Umum Front Nelayan Indonesia

Ya, mungkin saja dan sudah pasti terjadi akan ada pendapat bahwa saya bukan ahli pidana maupun pertambangan. Namun, karena saya belum lulus S1 hukum di salah satu Univeraitas Swasta di Jakarta. Ya jadi argumentasi saya soal hukum nanti ala kadarnya saja.

Begini, membaca beberapa media dan tulisan para analis juga, seperti karya tulis Poetra Adi Soerjo, Imam S, Salamuddin Daeng, M. Hatta Taliwang, dan banyak yang lainnya. Tulisan tersebut telah dilansir oleh berbagai pemberitaan media tentang divestasi saham PT. NNT.

Ya, saya membuat analisa ini berdasarkan tulisan para analis dan fakta yang ada.

Maka perlu dijelaskan bahwa pasca divestasi penjualan saham milik daerah NTB di PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT), melalui entitas anak usahanya PT. Daerah Maju Bersaing (DMB), bahwa sesungguhnya daerah sangat diuntungkan. Ya, substantif luar biasa, karena belum ada perusahaan daerah yang maju dan mampu bersaing dengan perusahaan besar lainnya untuk menjaga divestasi PT. NNT dan sahamnya.

Lebih detail, bahwa penjualan 24% Saham PT. NNT dilakukan oleh PT. Multi Daerah Bersaing (anak perusahaan DMB dan Multi Capital dimana DMB memiliki 25% Saham dan MC memiliki 75% saham di MDB). Berdasarkan data dan tulisan yang ada bahwa dalam pembelian 24% Saham NNT seluruhnya menjadi tanggungjawab MC sebagai mitra DMB dan DMB sama sekali tidak mengeluarkan dana untuk pembelian saham ini.

Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut: bahwa MDB membeli 24% Saham divestasi PT.NNT seharga $867 Juta USD. Seluruh biaya Pembelian saham tersebut ditanggung oleh MC sementara DMB tidak pernah mengeluarkan dana sama sekali. DMB hanya menerima.

Selama kerja sama MC dan DMB membentuk MDB dalam kurun waktu 2009 sampai 2016, perusahaan MDB hanya pernah memperoleh deviden dari NNT sebesar $187 Juta USD.

Sejak tahun 2011, NNT tidak pernah lagi membagi deviden dan kinerja NNT makin memburuk karena: 1). Harga tembaga merosot: 2). Perlu tambahan modal untuk melalui beberapa fase: 3). Adanya batasan eksport karena tidak membangun smelter: 4). Kebutuhan dana untuk pembangunan smelter.

Atas persetujuan Pemegang saham DMB (Prov. NTB 40%, KSB 40% dan Kab. Sumbawa 20%) dan DPRD ketiga Pemda tersebut. Maka untuk menghindari kerugian yang makin besar maka 24% saham NNT yang dimiliki MDB di jual. Harga penjualan 24% Saham NNT $400 Juta USD.

Terkait penjualan tersebut DMB mendapat pengganti investasi sebesar $54 Juta USD. Mengapa DMB hanya mendapat $54 Juta USD. Harus dipahami bahwa MDB membeli 24% Saham divestasi PT. NNT seharga $867 Juta USD. Seluruh biaya Pembelian saham tersebut ditanggung oleh MC sementara DMB tidak pernah mengeluarkan dana sama sekali.

Selama kerja sama MC dan DMB membentuk MDB dalam kurun waktu 2009 sampai 2016 bahwa MDB hanya pernah memperoleh deviden dari NNT sebesar $187 Juta USD. Sedangkan nilai penjualan 24% saham NNT hanya $400 Juta USD dengan demikian MDB masih menanggung kerugian sebesar.

Ya kita hitung sendiri saja, bagi yang bisa berhitung. Kita mulai susun angkanya ya: Harga pembelian $ 867 Juta USD sedangkan Deviden yang pernah diterima $ 187 Juta USD, berarti hasilnya sebesar: $680 Juta USD. Sementara, Harga penjualan Saham itu sebesar $ 400 Juta USD. Sehingga menyebabkan kerugian sebesar $ 280 Juta USD.

Menurut saya dari kacamata bisnis, DMB malah harus menanggung kerugian sebesar 25% x USD 280 juta.

Namun justru, selama kerja sama dengan MC, DMB telah diuntungkan, berupa: 1). $ 38 juta (berupa CSR PT. NNT kepada Pemda); 2). $ 35.6 juta (Deviden / Dan Advance Devideb dari MC / MDB) dan 3). $ 54 juta (Pengganti Ivestasi). Sehingga bisa dihitung bahwa keuntungan daerah / PT. DMB, capai $127 juta (Keuntungan Daerah / DMB).

Dengan demikian tidak ada kerugian yang di alami DMB, justru DMB sangat diuntungkan karena DMB (yang didirikan dengan penyertaan modal Rp.500 juta oleh Pemerintah Provinsi NTB Rp.200 juta, Kab. Sumbawa Barat Rp.200 juta dan Kab. Sumbawa Rp.100 juta) sama sekali.

Dengan demikian tidak ada kerugian yang di alami DMB, justru DMB sangat diuntungkan karena DMB (yang didirikan dengan penyertaan modal Rp.500 juta oleh Pemerintah Provinsi NTB Rp.200 jt, Kab. Sumbawa Barat Rp.200 jt dan Kab. Sumbawa Rp.100 jt) sama sekali tidak mengeluarkan dana dan telah mendapat manfaat sebesar $127 Juta.

Maka, secara otomatis, pemahaman hukum S1 saya yang belum tamat ini adalah: BAHWA KERJA SAMA ANTARA DMB DAN MC DALAM KONTEKS BISNIS TO BISNIS SERTA TUAN GURU BAJANG CLEAR AND CLEAN, BERSIH DARI TINDAK PIDANA KORUPSI.

Jadi menurut saya, tak ada yang perlu dipersoalkan sebenarnya. Yang diperlukan oleh PT. DMB saat ini adalah dukungan dan masukan seluruh Stake Holders mau diapakan dana pengganti investasi yang ada di DMB agar memiliki manfaat jangka panjang.

PT. DMB sudah sangat berhasil dalam proses pengembalian dana penjualan saham PT. NNT itu. Bayangkan keberhasilannya dari 0 rupiah hingga bisa mengambil keuntungan ke angka triliun. Menakjubkan. Mari kita wujudkan kesejahteraan rakyat NTB dengan mendukung sepenuhnya PT. DMB sebagai perusahaan mandiri kedepannya.

Dengan demikian tidak ada kerugian yang di alami DMB, justru DMB sangat diuntungkan karena DMB (yang didirikan dengan penyertaan modal Rp.500 juta oleh Pemerintah Provinsi NTB Rp.200 jt, Kab. Sumbawa Barat Rp.200 jt dan Kab. Sumbawa Rp.100 jt) sama sekali tidak mengeluarkan dana dan telah mendapat manfaat sebesar $127 Juta.

Maka, secara otomatis, pemahaman hukum S1 saya yang belum tamat ini adalah: BAHWA KERJA SAMA ANTARA DMB DAN MC DALAM KONTEKS BISNIS TO BISNIS SERTA TUAN GURU BAJANG CLEAR AND CLEAN, BERSIH DARI TINDAK PIDANA KORUPSI.

Jadi menurut saya, tak ada yang perlu dipersoalkan sebenarnya. Yang diperlukan oleh PT. DMB saat ini adalah dukungan dan masukan seluruh Stake Holders mau diapakan dana pengganti investasi yang ada di DMB agar memiliki manfaat jangka panjang.

PT. DMB sudah sangat berhasil dalam proses pengembalian dana penjualan saham PT. NNT itu. Bayangkan keberhasilannya dari 0 rupiah hingga bisa mengambil keuntungan ke angka triliun. Menakjubkan. Mari kita wujudkan kesejahteraan rakyat NTB dengan mendukung sepenuhnya PT. DMB sebagai perusahaan mandiri kedepannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here