Sosok Daniel Johan: Paripurna Sebagai Aktivis, Matang Berpolitik Praktis

0
49

Di tengah sorotan dan kritik tajam masyarakat terhadap DPR karena mengesahkan pilkada tak langsung, sejumlah 560 orang akan dilantik menjadi anggota DPR yang baru pada tanggal 1 Oktober 2014.

Salah satu yang istimewa terutama bagi umat Buddha adalah Daniel Johan. Pria kelahiran Jakarta tersebut selama ini dikenal luas sebagai aktivis mahasiswa Buddhis terutama ketika masih aktif dalam Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (Hikmahbudhi).

Daniel Johan melenggang ke Senayan setelah meraih 28.324 suara pribadi di daerah pemilihan Kalimantan Barat melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Keberhasilan Daniel Johan menjadi anggota parlemen sekaligus menepis anggapan bahwa kader Buddhis tidak mahir berpolitik. Daniel Johan sendiri mengakui kiprahnya kali ini salah satunya karena mendapat inspirasi dari almarhum Gus Dur.

Suatu ketika Daniel Johan diterima Gus Dur di istana negara ketika masih menjabat presiden. Gus Dur berpesan kepadanya, “Dan, kamu harus naik kelas.” Daniel menanyakan balik, “Maksudnya apa Gus?” Gus Dur menjawab, “Saya ingin orang Tionghoa, orang Buddha jadi pemimpin nasional.”

Dan harapan Gus Dur tersebut kini telah Daniel Johan wujudkan.

Bagaimana perjalanan Daniel Johan hingga akhirnya dilantik menjadi anggota DPR? BuddhaZine secara khusus melakukan wawancara dengannya.

Bisa diceritakan secara singkat bagaimana perjalanan karier politik Anda?

Sejak dari SMP di Tri Ratna, saya sudah bangun majalah. Lalu OSIS dari nggak ada, kita aktifin. Terus masuk KMBJ (Keluarga Mahasiswa Buddhis Jakarta –red), kita dorong berubah menjadi Hikmahbudhi. Hikmahbudhi kemudian bergabung dalam Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI). Di FKPI itulah kita menjadi sahabat dengan Muhaimin Iskandar, Helmy Faishal, Anas Urbaningrum, dengan seluruh angkatan yang sekarang menjadi tokoh muda pemimpin nasional.

Karena sudah sangat dekat dengan Gus Dur dan Kyai Imin, saya masuk ke PKB dari 2007 sampai sekarang. (Sekarang Daniel Johan adalah wakil sekjen PKB).

Apa sih yang mendorong Anda terjun ke politik?

Sebenarnya sih persoalan nilai. Kebetulan saya itu kalau sudah menyangkut persoalan nilai, saya suka. Persoalan nilai keadilan, kebenaran, demokrasi, dan sejenisnya. Karena waktu itu kan zaman Suharto, nilai-nilai itu kita rasakan jauh di masyarakat sehingga menjadi tantangan kita waktu itu. Sementara saat itu Buddhis sangat apatis, sangat takut berpolitik, bahkan politik nilai pun dianggap sebagai sesuatu yang adharma (bukan Dharma –red) waktu itu. Pokoknya dianggap orang pesakitan. Terlalu status quo, terlalu mendukung status kemapanan. Saya dan teman-teman di KMBJ dulu berusaha mendobrak hal itu. Kita bersyukur setelah reformasi kesadaran politik komunitas Buddhis sudah jauh lebih baik. Walaupun dibandingkan komunitas lain, komunitas Buddhis paling terlambat.

Anda memulai sebagai aktivis pergerakan dan sekarang terjun ke politik. Kedua dunia tersebut memang dekat ya?
Namanya pergerakan kan harus punya kesadaran sosial. Kesadaran sosial pada suatu titik, kita akan menemukan persoalan-persoalan sosial itu berakar pada politik. Ketidakadilan sosial itu semua berakar pada politik. Sehingga untuk menyelesaikan persoalan sosial secara luas, mau nggak mau kita harus menyentuh urusan politik. Nggak bisa hanya duduk meditasi.

Ideologi apa yang Anda bawa dalam terjun di politik?

Simpelnya yang penting hidup kita bisa berguna untuk masyarakat, nggak hanya mikirin diri sendiri. Artinya, kalau kita memahami Dharma, ya bagaimana Dharma itu bisa relevan bukan hanya untuk pribadi, tetapi juga bisa menjawab persoalan-persoalan sosial, politik, atau kesenjangan ekonomi. Karena kita berkeyakinan Dharma itu universal sehingga jangan membonsai Dharma seakan-akan Dharma hanya relevan di vihara saja.

Kebanyakan orang menganggap politik itu kotor dan banyak intrik. Sebenarnya di dalam politik itu ada hal-hal positif nggak sih?
Banyak! Politik itu sama persis dan tidak berbeda sama sekali dengan ekonomi, sama persis dan tidak berbeda sama sekali dengan agama. Siapa bilang agama nggak kotor? Semakin Anda masuk ke lembaga agama, kotor. Mungkin departemen paling korup adalah Departemen Agama.

Pemikiran-pemikiran (politik itu kotor) itu pemikiran lama waktu masih zaman Pak Harto sehingga kesadaran kita dibuat seperti itu. Tapi kalau kita mau jujur, semua dimensi kehidupan itu kotor sekaligus baik. Tergantung kita. Siapa bilang ekonomi lebih bersih? Ekonomi itu lebih jahat dari politik. Cuma bedanya adalah ekonomi menghasilkan duit, bisa memenuhi hasrat keserakahan. Sehingga meskipun kotor, orang tutup mata.

Politik carut marut saat ini kan pendorongnya para pelaku ekonomi yang di atas, para konglomerat, para pengusaha minyak dunia, seven sisters. Terjadi perang Irak, itu semua pendorongnya ekonomi. Politik hanya sebagai alat.

Agama kotor secara kelembagaan. Tetapi juga baik. Politik kotor, tapi ada baiknya. Ekonomi lebih kotor, tapi ada juga baiknya. Jadi semua sama. Tetapi kita punya filosofi teratai, kita tidak mengingkari yang kotor, kita tidak berusaha untuk tidak hidup di dunia yang kotor. Karena kalau teratai menolak kekotoran, dia mati. Karena kolamnya kotor terus dicabut, teratai nggak hidup. Apalagi kalau sudah bicara Dharma yang dalam, Sunyata, kotor dan bersih menjadi sama. Artinya, kita nggak boleh lari dari situ. Kita masuk kita nyemplung, tapi kita mewarnai dengan semangat Dharma.

Bagaimana Anda menghadapi lingkungan politik yang kotor itu?

Karena jika mengikuti mereka, akan ikut menjadi kotor. Sebaliknya jika tetap bersih akan dimusuhi.
Pada akhirnya persoalan niat. Kalau saya pribadi selalu menjaga niat yang baik. Persoalan dalam prosesnya, kita nggak bisa hitam putih. Pada titik ekstrim mungkin kita masuk pada pilihan yang tidak idealis. Tetapi perspektif niat hati saya, mudah-mudahan juga menjadi niat semua politikus, meskipun pilihannya nggak ideal, tetapi itu tetap menjadi pijakan untuk meraih yang lebih ideal lagi. Soalnya kalau hitam putih memang sulit.

Pernah berhadapan dengan situasi seperti itu?

Pasti banyak. Kayak misalnya di dalam koalisi, karena kita komit terhadap koalisi, mau nggak mau kita memperkuat kebijakan koalisi. Kebijakan bukan tentang baik dan buruk, tapi pilihan. Contohnya sekarang tentang wacana kenaikan harga BBM. Kita menyikapinya tergantung dari perspektif mana. Kalau sekarang kita di koalisinya Pak Jokowi, kita nggak setuju kenaikan harga BBM, tapi karena itu sudah komitmen politik, mau nggak mau kita harus setuju dengan kenaikan harga BBM, misalnya. Begitu juga sebaliknya.

Belakangan banyak muncul tokoh-tokoh politik muda yang baik, bersih, dan bekerja untuk masyarakat seperti Jokowi, Ahok, Tri Rismaharani, atau Ridwan Kamil, bagaimana Anda melihat fenomena seperti ini?

Sangat berbahagia karena itu kemajuan. Kita reformasi 1998, sekarang 2014, berarti sudah 16 tahun. Sempat frustrasi kenapa reformasi justru dalam beberapa aspek justru makin mundur, meskipun di aspek lain mengalami kemajuan. Misalkan dalam aspek demokrasi mengalami kemajuan, tapi di aspek lain mengalami kemunduran.

Dengan hadirnya para pemimpin alternatif yang baik, yang punya hati untuk masyarakat memberikan optimisme kembali kepada kita. Dengan begitu kita berharap masyarakat semakin pintar. Mereka sangat selektif, mereka akhirnya sadar jika berhasil melahirkan pemimpin yang baik maka perubahan menuju Indonesia lebih baik akan lebih cepat.

Apakah komunitas Buddhis sekarang sudah cukup memiliki kesadaran berpolitik?

Iya. Tapi masih sangat jauh tertinggal dengan agama lain. Kita nggak usah ngomong Katolik atau Kristen, dengan Khonghucu saja kita tertinggal. Khonghucu jauh lebih maju dibandingkan agama Buddha.

Yang jadi persoalan adalah, waktu di zaman saya yang mempertahankan status quo bahwa politik adalah kotor itu kelompok tua. Tapi sekarang sebaliknya justru yang punya kesadaran politik lebih baik justru kelompok tua. Kelompok mudanya yang tertinggal. Kelompok bhikkhu atau romo senior sekarang lebih terbuka terhadap politik. Tapi ini tetap kesalahan kelompok tua kenapa tidak memberikan pencerdasan kepada kelompok muda.

Saya merasa sekarang kelompok muda (Buddhis) lebih kolot dalam urusan politik daripada kelompok tua. Dan itu berbahaya. Berbahaya bukan maksudnya jahat atau tidak baik. Karena kalau kelompok muda lebih konservatif itu tanda-tanda sulit untuk maju.

Dalam ceramah-ceramah di vihara segala macam harus diberikan kesadaran politik, ekonomi, budaya itu sama. Bisa baik, bisa buruk. Bisa mulia, bisa brengsek. Apalagi sekarang ini semua tidak lepas dari politik. Sekarang saja partisipasi politik warga sudah sangat kuat. Kalau kita tidak mendorong keterlibatan umat, kita akan makin tertinggal. Agar terlibat, tetapi terlibat dengan baik, maka dibutuhkan ceramah.

Karir politik Anda banyak digembleng di Hikmahbudhi.

Iya. Kalau di Hikmahbudhi itu kita proses dari nol. Benar-benar kita belajar sendiri, jatuh bangun sendiri. Waktu zaman itu kita ditinggal oleh para senior, dikucilkan. Tapi saya tidak menganggap itu buruk. Itu proses sejarah yang justru mungkin baik yang memperkuat kita menjadi mandiri, otentik, lebih matang. Sampai saat ini. Sehingga kader kami banyak. Kami para senior Hikmahbudhi mendirikan sejumlah lembaga, salah satunya Pro Kader yang sekarang telah menghasilkan 10 lulusan S2 jurusan beragam, ada yang politik, pertanian.

Kader-kader itu siap diberdayakan untuk komunitas Buddhis. Mereka ini berasal bukan dari umat berpunya. Mereka sebagian besar berasal dari keluarga tidak punya sehingga memiliki keterbatasan, tetapi mereka punya semangat.

Bagaimana prosesnya hingga Anda terpilih menjadi anggota DPR dari dapil Kalimantan Barat?

Awalnya saya hanya menggarap Tionghoa, menggarap Buddhis. Tapi akhirnya jadi sulit karena banyak calon Tionghoa lain yang senior. Sehingga saya mau nggak mau garap yang lain. Karena saya juga perwakilan DPP, saya harus melayani seluruh caleg PKB yang ada di Kalimantan Barat sehingga saya masuk ke semuanya. Tapi pada kenyataannya justru yang Melayu yang Muslim yang menyelamatkan saya.

Awalnya saya masuk Melayu, saya dibego-begoin. Saya penasaran, karena masyarakat saat ini mengharapkan calon pemimpin yang dekat dengan rakyat, masa sih mereka tidak punya hati kalau memang saya dianggap baik. Dan ternyata setelah saya masuk, mereka pilih (saya). Suara dari Melayu lebih besar daripada Buddhis.

Jadi, saya sangat berhutang budi kepada saudara-saudara kita yang Melayu, dan saya juga ingin diakui sebagai keluarga besar Melayu.

Apa pesan Anda untuk anak-anak muda Buddhis yang mungkin tertarik terjun ke dunia politik?

Dunia politik, sosial, ekonomi, budaya, dunia apa pun, itu pilihan. Termasuk dunia spiritual itu juga pilihan. Tetapi dunia sekarang semakin terhubung, kehidupan masyarakat sipil semakin tersambung. Nah, politik itu adalah ruang besar sehingga nggak cukup lagi kerja keras. Buat anak muda, kerja keras sangat penting, tapi kerja keras zaman sekarang belum tentu membuat kita maju. Saat ini jaringan, pengetahuan, sahabat menjadi sangat penting. Jadi ketika kita memilih dunia ekonomi, tetap harus punya kesadaran politik, punya teman-teman yang paham dunia politik. Karena teman itu adalah harta, semakin memungkinkan pondasi kita untuk maju. Jadi, meskipun tidak berkiprah di dunia politik, zaman sekarang harus paham politik karena paritisipasi politik warga semakin kuat. Jika tidak, kita akan semakin tertinggal.

Yang kedua, khusus yang di dunia politik, minimal harus punya pondasi nilai sehingga bisa mewarnai dunia politik dengan lebih baik. Kalau tidak punya pondasi nilai, kita malah akan mewarnai dengan warna yang tidak baik.

Untuk terjun di politik apakah harus aktif dulu berorganisasi?

Wajib! Untuk terjun di dunia politik, harus aktif di dunia organisasi. Organisasi apa pun, bisa organisasi kampus di senat. Organisasi mahasiswa ini adalah rahim untuk melahirkan para pemimpin, seperti Hikmahbudhi atau PMII dibentuk sebagai pengkaderan.

Dalam berorganisasi memang harus membangun jaringan ya?

Pasti. Karena itu bersifat struktural. Kalau aktifnya di vihara, kenalnya ya orang vihara doang. Tapi kalau aktifnya di organisasi mahasiswa, kenalnya mahasiswa lain baik yang Muslim, Kristen, nasionalis, segala macam. Suka nggak suka, cepat atau lambat akan menjadi pemimpin di masa depan. Kayak saya waktu pertama dengan Pak Muhaimin mana pernah ngebayangin bisa jadi ketua umum partai, mungkin ke depan bisa jadi calon presiden, atau malah presiden. Dengan menjalin persahabatan dengan para calon pemimpin masa depan otomatis akan membuka peluang.

Kita juga harus dikenal sebagai pribadi yang unggul. Punya kemampuan, dedikasi sehingga bisa dilirik. Karena kadang terlalu banyak kader. Kalau saya prinsipnya tiga saja: baca-gerak-meditasi. Harus gerak, kalau nggak ya nggak akan membawa kemajuan. Gerak doang tapi ga baca, ya akan keteteran saat menjawab isu-isu. Dasar filosofinya nggak paham. Kalau mau maju ya harus baca-gerak-meditasi, itu yang membuat roda berputar.

sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here