Sambut Dirgahayu Kemerdekaan RI, Johnny Situwanda Selenggarakan Nonton Bareng Film Jejak Cinta

0
116

Advokat dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang hukum, Johnny Situwanda mengadakan acara nonton bareng film jejak cinta. Acara berlangsung selama dua hari tepatnya di Pluit Junction pada hari Rabu, 15 Agustus 2018 dan Baywalk Pluit pada hari Kamis, 16 Agustus 2018.

Sebelum pertunjukkan dimulai, antusiasme masyarakat terasa begitu besar. Berbagai kelompok komunitas terlihat berbondong-bondong hadir. Antrian tampak mengular di meja registrasi.

Dalam sambutannya Johnny Situwanda menyampaikan, “Pesan moral yang terkandung dalam film jejak cinta harus mampu dikonversi menjadi semangat dalam mengarungi kehidupan sehari-hari.”

Tidak ketinggalan sutradara film Tarmizi Abka menceritakan, “Film ini memberi semangat kepada wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif. Selain itu secara bersamaan juga mengusung pesan kepada para wanita untuk mencegah dan menghindari penyakit kanker serviks tersebut.”

Film yang dibintangi Baim Wong, Prisia Nasution, Mathias Muchus, Della Perez dan Zora Vidayatia ini menceritakan Maryana (Prisia Nasution), seorang desainer batik yang sengaja pulang ke tanah kelahirannya di Singkawang untuk membuat desain batik terbarunya yang akan diikutkan dalam ajang Festival Batik di Berlin.

Maryana setiap hari sangat khawatir dirinya terkena kanker serviks, pasalnya almarhumah ibunya meninggal karena kanker serviks stadium 4.

“Maryana memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Namun ia tak berani membuka amplop hasil pemeriksaan dokter tersebut, karena khawatir hasilnya adalah dia positif terkena kanker serviks,” ujar Tarmizi sutradara film.

Di sisi lain, Maryana dan suaminya Hasan (Baim Wong), ingin sekali mempunyai anak.

“Namun bagaimana bisa punya anak, kalau seandainya sang istri terdeteksi kanker serviks?” tuturnya.

Cerita bertambah rumit, ketika suatu hari, Hasan mendapat telepon dari Sarah (Della Perez). Selama ini, Hasan dekat dengan ayahnya Della (Mathias Mucus).

“Keluarga orang tua Della tengah mengalami musibah. Ayahnya Della dipenjara karena terlibat sebuah kasus. Ia meminta Hasan menolong Della. Hasan bersedia menolong tapi ia bingung, karena ia sudah beristri, sedangkan ia punya hutan budi kepada ayahnya Della,” paparnya.

Lalu bagaimana akhir film ini? Keputusan apa yang akhirnya diambil Hasan?

“Pesan tentang penyakit kanker serviks menjadi sangat menarik dalam film ini, karena dikemas dalam problematika keluarga,” kata Tarmizi yang telah menelurkan ‘Kalam-Kalam Langit’.

Ditambahkan Produser Eksekutif ‘Jejak Cinta’, Hasan Karman, selain tentang kanker serviks, ‘Jejak Cinta’ juga membawa pesan kebangsaan dari ranah Singkawang yang dijuluki ‘Negeri 1.000 Kelenteng’. Film ini juga mengangkat realita kehidupan masyarakat, budaya, dan objek wisata yang ada di kota Singkawang.

“Di Singkawang, masyarakatnya merupakan perpaduan etnis yang kekayaan budayanya menjadi daya tarik tersendiri. Selain mengangkat sisi romantika, ‘Jejak Cinta’ juga mengangkat batik khas Singkawang yaitu Batik Tidayu (Tionghoa, Dayak dan Melayu),” ujarnya.

Melalui film ini, pihaknya juga ingin mengusung pesan kebangsaan, yakni persatuan bangsa kita yang multietnis, makin kuat persatuannya dan saling menghargai satu sama lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here