Saling Sandera Jokowi & HRS

0
90

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Persaudaraan Alumni (PA) 212 bertemu Jokowi. Pertemuan di istana Bogor. Tapi bocor. Tepatnya, dibocorkan. Oleh siapa? Mudah menebaknya. Siapa yang diuntungkan dengan bocornya pertemuan itu? Itulah pelakunya. Dan siapa yang dirugikan? Mereka adalah korbannya.

Aktivis PA 212 harus menghadapi dampaknya. Disalahpahami oleh umat. Dihajar fitnah. Berkembang dugaan dan prasangka. PA 212 masuk angin. Hanya segitu iman Habib Rizieq. Begitulah kira-kira target dan sasarannya. Lalu, banyak orang sibuk cari tahu dan melakukan klarifikasi. Jelas? Kalau gak paham juga, kebangetan.

Pertemuan itu menunjukkan pertama, ada indikasi pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kecil kemungkinan presiden menemui PA 212 jika tidak ada pengkodisian. Dengar kabar, ada beberapa kali utusan istana. Nego dengan Habib Rizieq. Tentang apa? Mudah ditebak dan gampang dibaca isinya.

Istana ingin aman suaranya di pilpres 2019. Menang lagi, dan lanjut dua periode. Habib Rizieq dan PA 212 jangan ganggu. Diem aja. Apa kompensasinya? SP3. Buat siapa? Semua aktivis 212 yang tersandera kasus hukum. Apalagi kalau bukan itu. Simple menganalisisnya. Apakah deal?

Kedua, bocornya pertemuan di istana Bogor menunjukkan bahwa negosiasi Istana dengan Habib Rizieq “No Deal” kalau deal, buat apa dibocorin. Kalau 212 masuk angin, istana akan anteng-anteng aja. Diam-diam aja. Tenang-tenang aja. Toh, Habib Rizieq, komandan GNPF Ulama dan PA 212 sudah takluk.

Sudah bungkam mulutnya. Tinggal dirawat, dielus-elus, dan sedikit dimanjakan. Buat berlutut dan bersimbah kaki. Tak perlu ada ribut-ribut. Tapi nyatanya, dibongkar. Dibocorin. Dibuat gaduh. Kesimpulannya, Habib Rizieq belum juga takluk. Maka, mesti di-“downgrade.” Caranya? Bocorin pertemuan, biar ada stigma Habib Rizieq dan PA 212 masuk angin. Siapa yang melakukannya? Ah, jangan berlagak gak paham.

Kalau No Deal, kenapa ada pertemuan itu? Pertanyaan cerdas. Ada dua kemungkinan. Pertama, sebagai closing statement. Nge-deal-kan yang belum deal. Jika deal, maka tinggal eksekusi. Gak deal, balik badan.

Atau membicarakan ekskusi poin yang sudah di-deal-kan. Poin yang sudah disepakati. Apa sudah ada yang disepakati? Boleh jadi. Tapi, tampaknya itu kesepakatan terpaksa. Kesepakatan yang pura-pura. Berat sebelah. Siapa yang merasa berat dan terpaksa?

Bocornya pertemuan di Istana Bogor tanda ada yang keberatan dengan kesepakatan itu. Itupun kalau ada. Indikasi adanya kesepakatan itu cukup kuat. Informasi yang berseliweran, Habib Rizieq sudah buat kesepakatan. Diceritakan kesepakatan itu kepada sejumlah ulama.

Sebagai langkah antisipatif. Sehingga, ketika ada yang mengkapitalisasi kesepakatan itu untuk tujuan politik, sejumlah ulama yang sudah dapat informasi itu tidak akan kaget. Tidak salah paham. Sebaliknya, bisa jadi juru klarifikasi. Sebuah antisipasi yang cerdas.

Apa kesepakatannya? SP3 vs Gangguan politik. Kira-kira begini. Namanya juga kira-kira. Sebuah analisis. Bisa jadi benar. Dengan SP3, Habib Rizieq sepakat tidak ganggu dan melawan Jokowi di pilpres 2019. Tapi, dengan syarat. Syarat itu yang kira-kira tak mungkin bisa -atau setidaknya sulit- dipenuhi oleh istana. Misal, deal kalau Jokowi pecat Luhut Binsar Panjaitan (LBP).

Deal, kalau Jokowi batalkan kerjasama dengan China. Deal, kalau Jokowi tidak melanggar aturan negara dan ajaran agama. Deal, kalau tidak ada lagi kriminalisasi atau perlakuaan tidak adil kepada umat Islam. Ini misalnya.

Kalau begitu, tidak ketemu dong kesepakatannya? kalau toh deal, itu hanya di lisan. Atau hanya dalam tulisan. Tapi, tidak di hati dan tidak juga di sikap. Inilah deal pura-pura. Kesimpulannya “No Deal” juga.

Apakah sulit untuk deal? Pasti! Istana ingin GNPF Ulama yang mengoperasikan gerakannya melalui PA 212 tidak lagi ikut campur dan terlibat dalam politik, khususnya pilpres 2019. Ini tidak mungkin. Sebab, PA 212 yang dikomandoi Habib Rizieq justru “legitimed” di mata umat ketika bersama-sama melawan Jokowi di 2019.

Diem, apalagi sampai mendukung Jokowi, PA 212 akan berakhir nasibnya. Mati, dan digantikan organisasi yang lain. Ini pasti disadari betul oleh Habib Rizieq dan seluruh aktivis PA 212.

Karena itu, Habib Rizieq membuat syarat yang tak mungkin bisa dipenuhi istana. Coba mengelabui dan menekan istana. Tapi, istana tak mudah ditekan. Bocornya pertemuan di Istana Bogor bisa diartikan sebagai bentuk perlawanan istana. Cara klasik untuk mematikan langkah lawan.

Saling menekan dan mengancam pihak satu dengan yang lain nampaknya akan terus terjadi. Satu pihak menggunakan kekuatan hukum. Pihak lainnya menggunakan jalur politik. Pilpres 2019 hanya tinggal menghitung bulan. Masing-masing pihak saling Sandera.

Kedua, ada pihak yang terlalu lihai untuk membujuk PA 212 agar mau bersilaturahmi ke istana. Bahasa “silaturahmi” seringkali ampuh untuk melumpuhkan kecerdasan politik sekelompok orang. Diksi “silaturahmi” ini mujarap untuk menjebak orang-orang polos yang keterlaluan polosnya.

Tidakkah silaturahmi itu memperpanjang usia dan melapangkan rizki? Makin ketahuan polosnya. Silaturahmi yang bagaimana bro? Tanya anak gaul. Politik itu kepentingan. Silaturahmi itu ketulusan. Dua hal yang bertentangan. Intinya, silaturahmi itu beda dengan lobi. Lobi ada kalkulasi dan sarat hitung-hitungan. Tidak dengan silaturahmi.

Bocornya pertemuan di Istana Bogor adalah sebuah contoh “silaturahmi membawa luka”. Niat baik yang berujung duka. Negosiasi buntu, rekonsiliasi makin sulit terwujud. Pertama, masing-masing pihak semakin waspada. Kedua, konflik politik akan semakin seru.

Kedua belah pihak akan menaikkan intensitas perlawanannya. Jalur hukum dan politik akan jadi sarana pertempuran. Pilpres 2019 adalah puncaknya. Siapa yang akan jadi pemenang? Apakah ganti presiden? Ataukah salam dua periode? Bergantung Sandera siapa yang paling kuat diantara keduanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here