Saat Puisi Tak Sekedar Karya Seni

0
120

Mariyatul Qibtiyah
Ibu rumah tangga

Sukmawati Soekarnoputri akhirnya menyampaikan permohonan maafnya kepada umat Islam di Indonesia. Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Warung Daun pada Rabu, 4 April 2018, ia menyatakan bahwa puisi itu ia tulis sebagai refleksi dari keprihatinannya tentang rasa kebangsaan. Puisi itu sendiri adalah bagian dari Buku Kumpulan Puisi yang telah diterbitkan pada 2006 (Okezonenews, 4 April 2018).

Berikutnya, pada Kamis 5 April 2018, Sukmawati mengunjungi kantor MUI Pusat dan bertemu dengan Ketua Umum MUI, K.H. Ma’ruf Amin. Setelah melakukan pertemuan tertutup, K.H. Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa Sukmawati tidak bermaksud melecehkan agama Islam.

“Tidak ada niatan menghina Islam. Itu pemikiran budayawan dan seniman yang mengekspresikan sehingga tak memperhitungkan apa yang terjadi oleh kelompok lain,” kata beliau (Okezonenews, 5 April 2018). Namun, menurut beliau, seharusnya Sukmawati lebih menghormati norma hukum, kepatutan, dan agama dalam berkarya sehingga tidak menyulut emosi masyarakat.

Sebagai sebuah karya seni, puisi merupakan sarana bagi seorang seniman dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya. Karena itu, H.B. Jassin mendefinisikan puisi sebagai “suatu pengucapan dengan sebuah perasaan yang di dalamnya mengandung fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan” (www.pelajaran.co.id, 1 Januari 2017).

Dalam sistem demokrasi, seorang seniman berhak untuk mengekspresikan apa pun yang ada di dalam pikirannya tanpa pertimbangan apa pun, termasuk agama. Hal itu karena kebebasan berekspresi merupakan salah satu kebebasan yang dijamin dalam sistem demokrasi. Jadi, dalam pandangan penganut demokrasi, seni itu untuk seni. Jadi, seni itu bebas dari nilai. Karena itu, sah-sah saja jika seorang seniman seperti Sukmawati menulis puisi seperti itu.

Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan pandangan Islam. Di dalam Islam, setiap perbuatan manusia senantiasa terikat dengan hukum syara’. Saat beribadah, berinteraksi dengan orang lain, bertransaksi, atau pun berkesenian, seorang muslim harus mendasarkan semuanya pada aturan-aturan Allah. Karena, semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat. Allah SWT berfirman:

Karena itu, tidak ada karya seni yang bebas nilai di dalam Islam. Baik itu seni musik, seni sastra, atau pun seni rupa. Semua harus mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Misalnya, tidak mengandung unsur pornografi, atau pemikiran-pemikiran sekuler, liberal dan atheis.

Adanya aturan-aturan ini tidak lantas membuat bidang seni terlupakan atau menghilang. Sebaliknya, para seniman muslim semakin kreatif dalam menghasilkan karya seni. Misalnya, adanya larangan untuk menggambar dan membuat bentuk-bentuk yang menyerupai makhluk hidup telah menginspirasi para arsitek untuk membuat hiasan-hiasan rumah dengan bentuk-bentuk yang lain. Misalnya dengan bentuk daun, bunga atau bentuk-bentuk geometri. Dan ini masih bisa kita saksikan hingga saat ini.

Terkait dengan hal ini, seorang filsuf Perancis, Roger Garaudi mengatakan, “Sesungguhnys seni hiasan Arab merupakan pionir dalam bidang hiasan yang dalam satu waktu mengumpulkan antara pengosongan dan bobot. Sesungguhnya makna musik alam dan makna akal bangun adalah di balik susunan seni hiasan ini.” (Prof. Dr. Raghib as Sirjani. Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, halaman 683)

Demikian pula dalam bidang sastra. Banyak sastrawan yang dikenal karya-karyanya hingga. Misalnya penyair Kaab bin Zuhair yang menulis Kitab al Burdah. Kemudian ada Abu Nuwas yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Bahkan ada juga buku kumpulan peribahasa. Misalnya, Majma’ al Amtsal karya al Maidani dan al Mustaqshi fil Amtsal al Arab karya az Zamakhsyari (Prof. Dr. Raghib as Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia, halaman 386-388).

Para sastrawan itu seringkali menjadikan karya sastra mereka untuk berdakwah menyampaikan Islam, memuji Rasulullah, atau memanjatkan do’a. Salah satu sya’ir dari Abu Nuwas ini, misalnya. Syair ini sering dibacakan setelah adzan, sambil menunggu berkumpulnya para jama’ah. Berikut adalah penggalan syair Abu Nuwas:

الهي لست للفردوس اهل ولا اقوى على النار الجحيم
فهب لي توبة واغفر ذنوبي. فانك غافر الذنب العظيم

Ilahi lastu lilfirdausi ahlaa.
Wa laa aqwaa’ alaa an naari al jahiimi
Fa hab lii taubatan waghfir dzunuubii
Fa innaka ghaafiru adz dzanbi al ‘adhiimi

Yaa Tuhanku, aku bukanlah calon penghuni surga FirdausMu
Akan tetapi aku tidak mampu menahan panasnya api neraka Jakhiim
Maka terimalah taubatku dan ampunilah dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Begitulah, para seniman yang selalu mendasarkan karya-karyanya pada keimanan kpd Allah. Mereka akan menghasilkan karya untuk kemajuan Islam, bukan untuk kepuasan batin mereka semata. Dan inilah yang seharusnya dilakukan oleh para seniman sekarang. Agar peradaban Islam tidak hilang ditelan zaman. Wallaahu a’lam.

Bojonegoro, 9 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here