ROMANSA MACKEREL & ANISAKIS

0
58

Mariyatul Qibtiyah
Ibu rumah tangga
Bojonegoro, 31 Maret 2018

Perasaan galau sepertinya masih terus menghantui masyarakat, terutama para ibu. Baru saja kelar kasus telur palsu, sekarang muncul kasus ikan kaleng bercacing. Awalnya para cacing hanya ditemukan dalam 3 merek ikan kaleng.

Namun, setelah BPOM kembali melakukan uji sampel terhadap berbagai merek ikan kaleng, ada 27 merek ikan kaleng yang mengandung cacing. Semua dari jenis ikan mackerel, dengan rincian 16 produk impor dan 11 produk lolokal (CNN Indonesia, 28 Maret 2018).

Cacing yang ditemukan adalah jenis cacing anisakis. Cacing anisakis merupakan sejenis parasit yang menyerang ikan laut. Beberapa jenis ikan yang biasanya diserang oleh anisakis adalah salmon, hering, ikan cod, kakap merah, halibut, cumi, dan mackerel.

Jika cacing itu masuk ke dalam perut manusia dalam keadaan hidup, akan menginvasi dinding perut atau usus sehingga menyebabkan sakit, mual, dan muntah. Dalam beberapa kasus, orang dapat mengalami komplikasi termasuk pendarahan pada pencernaan, peradangan pada dinding dalam perut, serta kerusakan usus. Ini disebut anisakiasis (CNN Indonesia, 23 Maret 2018).

Menurut Purwiyatno Hariyadi, Guru Besar Teknologi Pangan, Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor, proses pengolahan yang baik akan mematikan cacing yang mengkontaminasi ikan. Jadi tidak ada resiko kesehatan pada orang yang mengkonsumsinya. Hanya saja, keberadaan cacing di dalam olahan ikan itu menunjukkan bahwa pihak produsen belum mengolah bahan baku secara higienis.

Menurut beliau, ada indikasi bahwa produsen belum menerapkan good manufacturing practises (GMP) sesuai dengan standart operational procedure (SOP) yang baik. Lebih jauh beliau menuturkan, “Adanya anisakis mengindikasikan bahwa bahan baku ikan tersebut telah tetkontaminasi dengan cacing tersebut.

Kalau ditemukan dalam ikan (yang tentunya sudah diproses dengan prosedur yang baik) sebenetnya si cacing tersebut sudah mati. Jadi, walaupun tidak akan menimbulkan penyakit pada manusia, keberadaannya tetap tidak diinginkan karena “menjijikkan”, dan sering digolongkan sebagai filth atau bahaya fisik yang menjijikkan”. (CNN Indonesia, 23 Maret 2018)

Tindakan BPOM untuk mengkaji ulang sampel-sampel ikan kaleng yang beredar di pasaran itu merupakan hal yang tepat. Sebagai badan pengawas obat dan makanan, BPOM berkewajiban untuk mengawasi semua bahan pangan dan obat-obatan yang beredar di masyarakat. Bahkan, semestinya BPOM juga mengawasi mulai dari proses pengolahan. Sehingga, masyarakat bisa terjaga dari mengkonsumsi bahan pangan yang berbahaya bagi mereka.

Fungsi pengawasan ini sebenarnya juga sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Diriwayatka dari Abu Hurairah RA, ia mengatakan, “Bahwasanya pada suatu ketika Rasulullah SAW melewati ash shubrah atau tumpukan makanan. Kemudian beliau memasukkan tangannya pada tumpukan makanan itu hingga jari jemarinya basah. Lalu beliau bertanya, “Wahai pemilik makanan, ini apa?”

Pemilik tersebut menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Kemudisn beliau bersabda, kenapa engkau tidak meletakkan ini (yang basah) di atas makanan yang lain sehingga orang-orang dapat melihatnya? Barangsiapa melakukan penipuan, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Muslim)

Setelah Fatkhu Makkah, Rasulullah SAW mengangkat pengawas pertama dalam Islam, yaitu Sa’id bin Sa’id bin al Ash. Tugas pengawas itu adalah mengawasi aktifitas di pasar di Makkah. Inilah yang disebut dengan hisbah atau pengawasan. Dan orang yang diangkat untuk melakukan hisbah disebut qadli hisbah.

Qadli hisbah bisa dijabat oleh seorang perempuan karena tidak terkait dengan urusan kekuasaan. Rasulullah SAW pun pernah mengangkat seorang qadli hisbah perempuan, yaitu Samura’ binti Nahik al Asadi. Beliau bahkan tetap menjadi qadli hisbah pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Sistem kontrol dan pengawasan ini terus berlanjut hingga ke masa-masa para khalifah setelahnya. Sejak pemerintahan Bani Abbasiyyah, tugas pengawas ini semakin berkembang dan meluas. Di samping mengontrol timbangan dan takaran, mencegah terjadinya monopoli, mereka juga mengawasi kebersihan pasar dan masjid, mengawasi para pegawai dan kuli panggul agar konsisten dengan pekerjaan mereka.

Bahkan, mereka juga mengawasi para mu’adzin agar tepat waktu dalam mengumandangkan adzan untuk sholat. Bisa dikatakan bahwa pengawas ini membidik segala persoalan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat secara umum.

Pengawasan yang dilakukan begitu detilnya, hingga sampai pada teknis yan rinci. Adalah Dhiya’uddin bin al Ikhwah, ia membuat sebuah aturan dalam pembuatan roti. Isi dar aturan itu adalah: “Hendaknya seorang pembuat roti tidak membuat adonan dengan menggunakan kedua kakinya, tidak pula dengan kedua lututnya atau pun kedua sikunya karena yang demikian ini merendahkan makanan, dan terkadang menetes keringat dari kedua ketiaknya atau tangannya.

Hendaknya seseorang tidak membuat adonan kecuali memakai pakaian yang berlengan dan ditutupi. Karena jika tidak, terkadang ia bersin ataupun berbincang-bincang sehingga ludah dan air liurnya keluar dan menetes pada adonan tersebut.

Hendaknya ia juga memakai pembalut berwarna putih oada dahinya agar tidak berkeringat dan kemudian menetes pada adonan, mencukur rambut kedua tangannya agar tidak ada yang rontok dan jatuh pada adonan. Apabila orang tersebut membuat adonan pada siang hari, hendaklah ia menugaskan seseorang dengan membawa pengusir lalat untuk nenjaganya dari kerumunan lalat,” (Prof. Dr. Raghieb as Sirjani, Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia hal 571).

Pengawasan ini akan berhasil dengan baik jika masyarakat juga memahami tata cara Islam dalam bermuamalah. Dengan demikian, ia akan jujur karena meyakini bahwa Allah akan senantiasa mengawasinya. Keyakinan seperti itu muncul dari keimanan yang kokoh kepada Allah SWT. Kisah Khalifah Umar bersama gadis penjual susu yang jujur adalah salah satu contohnya.

Dikisahkan bahwa Umar bin Khaththab melarang para penjual susu mencampur susunys dengan air. Suatu malam, saat Umar berkeliling untuk melakukan pengawasan, beliau mendengar percakapan seoran ibu dengan anak gadisnya. Sang ibu memerintahkan putrinya untuk menambahkan air pada susunya agar mendapatkan keuntungan yang lebih banyak.

Tetapi, gadis itu menolak karena meskipun Khalifah Umar tidsk tahu, tapi Allah Maha Tahu dan selalu mengawasi perbuatan mereka. Karena kejujuran gadis itu, Khalifah Umar kemudian menikahkannya dengan salah seorang putranya yang bernama ‘Ashim. Kelak, ada di antara jeturunan mereka yang menjadi khalifah yang masyhur, Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Demikianlah, tugas hisbah atau pengawasan ini seharusnya dilaksanakan. Di samping itu, kepada rakyat juga harus ditanamkan akan nilai kejujuran. Dengan demikian, fungsi pengawasan akan berjalan dengan baik. Dan itu hanya akan terwujud dalam sebuah sistem yang tepat, yaitu sistem Islam. Wallaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here