Potret Kelam Reklamasi Tangerang

0
74

Penulis: Rio Imanuel. AP

Reklamasi di Tangerang agaknya terdengar asing di telinga kita. Sebab mungkin kita lebih sering mendengar nama reklamasi Teluk Benoa di Bali ataupun Reklamasi di Jakarta.

Reklamasi hadir sebagai solusi untuk memperluas tanah, yang nantinya akan digunakan untuk membangun infrastruktur baru, dan reklamasi di pesisir utara Tangerang sudah terbit izin sejak 23 September 201. Namun proyek tersebut terhambat karena muncul Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, yang menyebut pengelolaan wilayah pesisir pantai sebagai kewenangan negara atau kementrian terkait.

Sebelumnya Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengklaim bahwa proyek reklamasi di Tangerang telah mematuhi sejumlah ketentuan, bantalan hukum yang dipakai merujuk pada keputusan presiden tentang penataan ruang kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Puncak, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur pada 2008. Dasar itu semakin diperkuat dengan keputusan presiden tentang rancangan tata ruang dan wilayah Kabupaten Tangerang pada 2011.

Reklamasi di Tangerang sendiri didanai oleh PT Agung Sedayu Group yang berkolaborasi dengan PT Tangerang International City, reklamasi tersebut akan menghasilkan 7 pulau baru di utara pesisir Dadap hingga Kronjo, dua kali lebih luas dari reklamasi Jakarta. Diatas pulau-pulau buatan tersebut nantinya akan dibangun berbagai macam fasilitas hunian, kawasan bisnis, kawasan industri, pelabuhan hingga perluasan lahan bandara, yang rencananya akan digarap oleh PT Angkasa Pura II. “Perluasan bandara Soekarno-Hatta akan menggunakan area hasil dari reklamasi tersebut”, ucap Taufik Emil selaku Kepala Dinas Tata Ruang dan Bangunan Kabupaten Tangerang.

Ia sendiri pernah menjelaskan bahwa ada rencana untuk menggarap 7 pulau reklamasi di pantai utara Tangerang, dengan luas 9.000 hektare, di pulau nomor 4, akan digunakan oleh pihak bandara, selaku Head of Corporate Secretary and Legal PT Angkasa Pura II, Agus Haryadi juga membenarkan pernyataan tersebut bahwa pihaknya membahas pembangunan bandara Soekarno–Hatta 2 di pulau reklamasi Tangerang, saat ini mereka sedang membahas tentang pembangunan yang nantinya akan dilakukan, namun dari kedua pihak Pemkap Tangerang & PT AP II, belum bisa memastikan kapan rencana itu akan direalisasikan, mereka masih menunggu kabar dari pemerintah pusat.

Reklamasi Tangerang Senyap

Terungkapnya masalah administrasi dan korupsi dalam reklamasi teluk Jakarta membuat proyek serupa di daerah lain menjadi sorotan, dan Tangerang sendiri adalah salah satu tempat proyek tersebut, bahkan proyek reklamasi telah tertuang dalam peraturan daerah sejak tahun 1996.

Selain kasus-kasus reklamasi yang terjadi di daerah luar, menurut Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, reklamasi di Tangerang masih sebatas rencana dan belum berjalan, Zaki juga mengaku bahwa area tersebut belum tersentuh alat berat, dan pengembangnya belum ditentukan. Hal itu barangkali menjadi sebab proyek Reklamasi Tangerang kian senyap.

Klaim sepihak yang di lakukan oleh Zaki pada kenyataannya agak berbeda, sejak tahun 2015 sudah banyak temuan yang mengindikasikan adanya reklamasi pantai utara Kabupaten Tangerang mulai berjalan. Lebih lagi daerah Dadap, Kosambi sudah tertutup rata dengan tanah dan pasir.

Reklamasi di Tangerang pun tidak luput dari pada aksi penolakan para nelayan, sama halnya dengan yang terjadi di Jakarta, namun aksi mereka luput dari perhatian.

Reklamsi Tangerang Berjalan Sendiri

Kota Industri seringkali membentuk masyarakatnya menjadi apatis terhadap isu lingkungan maupun sosial. Mungkin Menjadi sebab mengapa mega proyek di Tangerang tidak sepopulis yang diharapkan.

Berbanding terbalik jika kita bercermin pada proyek reklamasi di Bali, hampir seluruh lapisan masyarakat di Bali sangat mendukung penolakan reklamasi tersebut.

Penolakan tersebut belakangan diketahui masyarakat Bali sangat percaya dengan “Tri Hita Karana” yang artinya tiga penyebab terciptanya kebahagiaan, konsep dasarnya adalah melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah globalisasi, reklamasi sendiri sudah melanggar soal lingkungan, maka dari itu masyarakat Bali bersatu untuk menolak reklamasi.

Apakah karena tidak adanya “Tri Hita Karana” di Tangerang menyebabkan masyarakat Tangerang sendiri apatis terhadap proyek reklamasi yang jelas menciderai lingkungan.

Pentingnya Membangun Kesadaran

Selain Kota Industri Tangerang merupakan kota transmigrasi, sebagian besar masyarakatnya adalah perantau yang tinggal di Tangerang untuk bekerja, namun kebanyakan dari mereka sudah resmi menjadi warga Tangerang, meskipun bukan tanah kelahirannya.

Nampaknya kita perlu kembali membangun sebuah hal sederhana, yakni kesadaran akan bahayanya dampak dari mega proyek Reklamasi yang sedang berlangsung di Tangerang.

Penting untuk seluruh lapisan tokoh masyarakat, seniman dari Tangerang untuk muncul kepermukaan dan membangun kesadaran dan menyuarakan penolakan terhadap reklamasi.

Sama halnya seperti reklamasi di Jakarta, setidaknya biarpun kita ini orang-orang kota, kita juga harus sadar akan pembangunan-pembangunan yang berdampak negatif, khususnya bagi warga yang terkena dampak reklamasi, hal ini nampaknya harus kita jadikan bahan pelajaran, terlebih bagi angkatan-angkatan muda yang sangat berperan penting bagi keberlangsungan hidup

Kita telah tinggal di Tangerang, kita telah mendapat rejeki di kota ini, kita punya keluarga di kota ini, lalu apa salahnya mempertahankan keberlangsungan kota ini agar lebih sehat. Disana saudara-saudara kita sendiri yang sedang kesulitan, kita tidak boleh terus-terusan dihancurkan oleh pembangunan-pembangunan dan industri skala kapital.

Selain itu, reklamasi juga bisa menimbulkan banjir, akibatnya mengurangi sedimentasi air sungai dan kualitas air di sekitarnya, reklamasi membuat terjadinya perlambatan kecepatan arus, material lama tertinggal, sedimentasi logam berat, sehingga memperparah pencemaran dan sedimentasi. Dan tanah reklamasi juga sangat rentan terhadap likuifaksi selama gempa bumi yang dapat memperkuat jumlah kerusakan pada bangunan dan infrastruktur.

Peninggian air laut juga akan terjadi karena air laut yang sebelumnya berfungsi sebagai kolam telah berubah menjadi daratan, akibat dari peninggian air laut maka daerah pantai lainnya rawan tenggelam, atau setidaknya air asin laut naik ke daratan sehingga akan banyak tanaman yang mati, terlebih area bercocok tanam, hal ini sangat dikhawatirkan akan terjadi di daerah pedesaan pinggir pantai, selain itu tidak ada lagi ruang publik bahkan ruang untuk mengintip senja, sebab tanah reklamasi akan digunakan untuk kepentingan privat, bangunan megah akan menghalangi keindahan pantai.

Sebenarnya masih banyak sekali dampak kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan dari reklamasi, seharusnya pemerintah lebih memperhatikan aspek-aspek tersebut. Mengingat kebutuhan maritim Indonesia sangatlah penting.

Lagi-lagi rakyat kecil yang akan jadi korbannya, jumlah nelayan akan semakin berkurang, tentunya akan berdampak bagi kebutuhan maritim, jangan sampai nanti ikan-ikan didapat dari import atau bahkan garam.

Jadi untuk siapakah reklamasi dibuat. Untuk kepentingan rakyat, atau untuk kepentingan segelintir orang. Apakah hal ini penting bagi kita sebagai masyarakat Tangerang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here