Persaingan Rumah Makan Taliwang di Jakarta Menurut Relawan Teman Bang Karman

0
166

Saiful Hadi
Mahasiswa Paska Sarjana UIN Jakarta Asal Lombok NTB

Saat ini aktif di Relawan Teman Bang Karman

Hujan deras membasahi bibir dinding gedung diseluruh seantero ibu kota Jakarta, tidak menghentikan kami terus berjalan mencari sekeping Hikmah kehidupan ini. tepat pada Long weekend kami bersama teman bang Karman (TBK) berencana menjajaki kuliner khas daerah, salah satunya kami tidak lupa dengan makanan Lombok yakni sering kita sebut makanan khas Taliwang.

Seorang kawan menanyakan tersebut, Bang Karman DM sapaan akrabnya, beberapa hari lalu. Maklumlah, sejak tinggal di Jakarta lidah ini sudah berubah rasa katanya, ia juga mengatakan jarang balik ke Lombok karena kesibukan aktivitasnya, untuk melihat suasana dan mencicipi kuliner seperti semasa kecil dulu. Kecintaan kepada kuliner khas Lombok ibarat bara yang sukar hilang dalam dirinya. Namun, ia selalu memadamkan kerinduan itu dengan cara singgah ke beberapa warung makan yang menyajikan kuliner Lombok di kawasan Tebet, Jakarta.

Jakarta adalah kota yang bertabur etnik. Ini membuka begitu banyak peluang bisnis. Dalam dunia kuliner, banyaknya etnik ini menyebabkan Jakarta dipenuhi dengan aneka kuliner. Banyak pebisnis yang melihatnya sebagai kesempatan untuk mengeruk rupiah. Sosok seperti sahabat saya tidaklah satu orang. Ada begitu banyak manusia yang merindukan asal-muasal serta makanan kampungnya sendiri. Ke manapun kita jauh berkelana, namun lidah dan rasa tetaplah sama. Kita sama merindukan hal-hal yang bisa menautkan dengan tanah air, bumi tempat kita tumbuh dewasa, bumi tempat kita mengenali kebudayaan dan peradaban.

Kata pengamat kuliner Bondan Winarno. Menurutnya, kita sering terlalu khawatir dengan propaganda yang menyebutkan bahwa masuknya kuliner seperti McDonald atau Kentucky Fried Chicken (KFC) akan menenggelamkan kuliner tradisional kita. Malah, banyak juga yang mengkhawatirkan kopi Starbuck yang akan menenggelamkan kopi khas Lombok atau kopi Bali.

Tapi, pernahkah kita bertanya berapa jumlah gerai makanan impor tersebut? Jumlah gerai McDonald justru makin menurun. Apalagi Starbuck. Kenapa demikian? Ia harus bayar seratus ribu rupiah untuk segelas kopi yang nikmatnya sama dengan di pinggir jalan. Masyarakat kita berpikir pragmatis. Mereka justru lebih menyenangi makanan tradisional kita sebab sesuai dengan rasa di lidah.

Saya sepakat dengan Bondan. Sepanjang jalan di jakarta, saya menyaksikan begitu banyak makanan tradisional khas berbagai daerah. Pengunjungnya membludak, sampai-sampai orang-orang rela antri. Apa yang disebut Bondan dengan rasa di lidah adalah perkara kebudayaan.

Dan berbicara kebudayaan, tentu saja kita sedang berbicara tentang pola-pola yang tertanam dalam kepala kita yang kemudian menjadi cara pandang bagi kita dalam melihat dunia. Maka lahirnya konsep enak dan tidak enak adalah konstruksi kebudayaan yang kemudian menjadi semacam template dalam kepala kita. Dalam kasus sahabat saya, ia jauh lebih merindukan makanan Lombok sebab ia tumbuh dan besar serta mengenal konsep enak dan tidak enak melalui makanan tersebut.

Teman saya Bang Karman tidak sekadar mencicipi makanan, namun ia sedang bernostalgia pada masa-masa ketika dirinya mulai mengenal makanan, bernostalgia pada hal-hal kecil yang menyumbang saham dan kontrbusi pada kedewasaan dan kematangannya. Karena selama hidup di Jakarta ini kita harus tampil baik, mempromosikan khas makanan kita di kancah Nasional.

Siapa yang tidak mengenal warung makanan Padang, bahkan makanan Padang sampai hari ini sudah mempunyai cabang ke-luar Negeri. Dan itu yang harus kita jadikan contoh bahwa makanan tradisional pun bisa bersaing dengan makanan dunia seperti halnya makanan khas Lombok ini.

Demikian yang bisa kita petik dari kepingan Hikmah cerita rumah makan Taliwang khas Lombok ini, kita harus mempercepat kesadaran diri sendiri dan kesadaran masyarkat kita bahwa disemua sektor persaingan dunia para pemuda harus lebih giat lagi mempromosikan, Local Wisdom lebih-lebih menjadi PR kita bersama. Makanan Indonesia adalah salah satu tradisi kuliner paling kaya di dunia dan penuh dengan cita rasa yang kuat, kekayaan jenis makanannya menjadi cerminan budaya yang beragam dan harus kita jaga bersama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here