Perempuan Dalam Teropong Zaman

0
85

Mala Oktavia
Pelajar SMA Di Bojonegoro

Beberapa dekade terakhir, fenomena gender, LGBT, feminisme membuat hangat pemberitaan dalam negeri. Isu-isu penyimpangan yang menyerang pemikiran masyarakat. Terlebih lagi generasi-generasi milenial yang dibuat terperangkap oleh sitem sekulerisme dan materialisme melahirkan remaja-remaja hedonisme pecinta kebebasan.

Sasarannya masih sama, yaitu perempuan dengan segala kecantikannya. Sistem sekulerisme membuat perempuan liberal dan seakan tak punya kehormatan. Bagaimana tidak, jajaran-jajaran perempuan cantik kini bagaikan barang di toko yang boleh dan siap dijual kapan saja. Seperti dikutip dari tribunnews.com 350 perempuan Indonesia daftar di situs lelang keperawanan Cinderella Escorts. Hal ini pun dilakukan secara sukarela, tanpa memedulikan masa depan dirinya.

Buasnya sistem sekuler kapitalis saat ini membuat orientasi setiap manusia adalah materi. Uang menjadi tolak ukur kesuksesan dan kabahagiaan seseorang.

Tak terkecuali perempuan-perempuan yang rela menjual kehormatannya hanya demi beberapa lembar uang. Pencarian materi telah membutakan mereka akan jalan yang benar.
Seharusnya dan sudah sewajibnya seorang perempuan menjaga kesucian dan kehormatannya. Tanpa kata nanti, apalagi kecuali. Dan perempuan akan benar-benar dimuliakan hanya dengan sistem Islam.

Lihatlah bagaimana dulu ketika zaman dimana Islam masih benar-benar diterapkan dalam kehidupan. Perempuan dimuliakan dengan sebaik-baik perlakuan. Adapun dari sisi pribadi perempuan itu sendiri, yang senantiasa menjalankan syari’at Allah, menutup aurat secara sempurna, selalu menjaga izzah dan iffahnya, lisannya tak luput dari zikir kepada Sang Pencipta.

Namun saat ini, justru perempuan itu sendiri yang menjatuhkan martabatnya dengan rela mengumbar aurat dan kehormatannya.
Negara yang menganut sistem Islam secara kaffah akan selalu menjaga perempuan dari penyimpangan-penyimpangan.

Adanya kisah seorang perempuan yang sengaja jubahnya ditali pada sebuah alas meja oleh seorang laki-laki, kemudian ketika perempuan itu berdiri tersingkaplah jubahnya dan terlihat betisnya. Mendengar kabar tersebut, Khalifah saat itu mengirim pasukan yang panjangnya tak dapat dilihat mata hanya demi menyelamatkan satu perempuan yang dilecehkan. Inilah bukti bahwa Islam benar-benar memuliakan perempuan, menjaga kehormatannya pada setiap mata yang melihatnya.

Ketundukan perempuan zaman dulu akan syari’at juga menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah sistem yang diterapkan. Anehnya perempuan saat ini ingin dimuliakan namun tak mau terikat oleh hukum Islam. Lalu darimana kemuliaan itu akan diraih? Syari’at Islam saat ini perlahan dicabut dari kehidupan manusia, sehingga kemuliaan itu pun hilang seiring berjalannya waktu.

Ditambah dengan sistem saat ini yang justru melegalkan kebebasan bagi perempuan untuk mengumbar auratnya, bertindak sesuka hatinya.
Pemerintah saat ini seakan abai dalam melindungi kehormatan perempuan. Karena memang cara menyejahterakan perempuan dengan sistem yang keliru. Perempuan hanya menjadi objek pemuas nafsu, tanpa berpikir masa depan yang telah mereka rusak.

Masalah ini tidak akan pernah berhenti jika hanya bertumpu pada sistem saat ini, Indonesia bahkan dunia membutuhkan solusi yang benar-benar akan menuntaskan problematika ini. Satu-satunya sistem yang akan menuntaskan masalah ini dan akan memuliakan perempuan ialah siatem Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here