Mutiara Peradaban Yang Hilang

0
66

Rohyati,S.Pd
Guru dan pemerhati perempuan

Wanita saat ini menjadi sosok yang menjadi obyek pemberdayaan dan kesetaraan. Tentu kita bisa melihat bagaimana para wanita diseret sedikit demi sedikit untuk meninggalkan tugas utamanya dalam rumah tangga, sebagai ibu dari anak-anknya juga sebagai istri dari suaminya.

Ia harus melaksanakan suatu hal yang mubah menurut syara’, karena hal itu merupakan tugas suami. Namun diera yang serba sulit ini menjadi suatu hal yang lumrah karena memang fakta lowongan pekerjaan yang lebih banyak diberikan kepada para wanita, dengan gaji yang tak seberapa namun dirasakan berarti bagi keluarga.

Kadang, dalam keluarga harus ada peran berganti karena himpitan ekonomi. Seiring dengan waktu seolah upaya emansipasi dan kesetaraan gender teraih dengan gemilang yang menunjukkan semakin kedepanya kiprah para wanita diranah public.

Benarkah dizaman now kondisi wanita telah mendapatkan kesejahteraan dan kesetaraan pada kedudukanya diranah public telah berhasil ketika para wanita bekerja diluar rumah dan bahkan duduk di parlemen?. Sejahterakah, bahagiakah, muliakah wanita dalam kondisi demikian?
Ternyata tidak, justru penulis merasa bahwa kondisi wanita saat ini hanya diekploitasi, diperas dan di rendahkan.

Bagaimana bisa sejahtera jika pekerjaan wanita hanya dipabrik dengan gaji yang cukup murah. Jika dikaji secara mendalam wanita justru dirugikan luar biasa dengan berkecimpungnya wanita didunia kerja.

Wanita menjadi lali dengan tugasnya mendidik anak-anknya menjadi generasi cemerlang bagi negeri ini, dia juga telah melepaskan tugas dan tanggung jawabnya dalam rumah tangga yang bisa menjadi pemicu pertengkaran dan penyelewengan dengan kasus PIL (pria idaman lain) ataupun WIL( wanita idaman lain).

Terlebih dizaman dimana agama sudah tidak lagi menjadi tolok ukur dalam kehidupan. Anak-anak yang kurang didikan dan asuhan menjadi generasi yang liar dan tak punya jati diri yang akhirnya tergerus dengan modernisasi yang menghancurkan masa depan mereka.

Suatu fenomena yang tidak pernah terjadi dalam peradapan islam. Islam selama ini dianggap menomorduakan wanita, merendahkan martabat wanita dan penindas wanita.

Karena wanita dikekang dirumah, setiap keluar rumah harus menutup auratnya menggunakan jilbab, ketika keluar rumah harus seizin suaminya dan disertai mahramnya jika bepergian jauh, plus pembagian warisan yang dianggap tidak adil karena hanya mendapatkan separuh dari laki-laki.

Namun justru islam mampu mengantarkan wanita pada peran utama yang mampu memberikan kebahagiaan dan kesejahteran serta kemuliaan yang tidak terkira dalam peradapan islam. Karena dalam peradaban islam yang agung bisa tercapai karena peran wanita muslimah yang memberikan kontribusi secara langsung dan tidak langsung.

Seorang wanita muslimah tidak harus disibukkan dengan kerja yang menjadi tugas dan tanggung jawab para laki-laki,namun menjalankan secara optimal peranya sebagai ibu ataupun istri. Kita tengok fakta sejarah yang menunjukkan bahwa disetiap masa ,dibalik ulama atau ilmuwan besar ada sosok ibu yang luar biasa dan merupakan seorang istri yang luar biasa pula.

Andaikata ibu dari Imam syafi’i seperti wanita sekarang ini tentulah beliau yang yatim akan tumbuh dijalanan, menjadi pengemis atau pengamen, karena kurang perhatian dan didikan dari ibunya yang harus disibukkan dengan dunia kerja. Namun beliau adalah sosok Ibu tangguh yang mampu mendidik anaknya hingga menjadi seorang pembelajar yang memenuhi setiap rongga tubuhnya dengan ilmu.

Meskipun mereka pada kondisi yang tidak mudah yakni didera oleh kemiskinan.
Sebagai istri, andaikata istri-istri al-bukhari, ibnu kaldun tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara maksimal dan optimal dalam rumah tangga tentu para ulama’ dan ilmuwan besar akan direpotkan dengan urusan anak padahal mereka harus keluar rumah melakukan survey dan menghadiri majelis ilmu.

Yah, demikianlah peran wanita sangat luar biasa bagi ketinggian suatu peradapan . Karena wanita sebagai ibu maka dia merupakan sekolah bagi anak-anaknya. Jika peranya di persiapkan dengan baik dan dioptimalkan berarti suatu bangsa telah mempersiapkan dengan dasar yang baik untuk menjadi generasi unggul yang siap menjadi pemimpin generasi islami.

Pun demikian, peran luar biasa seorang wanita tidaklah secara otomatis tercatat dalam sejarah. Bahkan bisa dikatakn kurang tercatat dalam sejarah. Wanita muslimah peranya ibarat garam dalam aneka masakan, gula dalam aneka rasa minuman.

Tidak Nampak namun bisa dirasakan kebaradaanya dan memberikan sensasi pada setiap kondisi dan situasi. Disisi lain wanita juga menjadi actor peradapan, yang telah dimulai sejak zaman Nabi masih hidup. Taka da yang meragukan kontribusi istri Nabi atau shohabiyah yang meriwayatkan banyak hadist.

Mereka memberikan kritik kepada penguasa yang pemerintahnya memperhatikan dan mendengarkan nasehatnya meskipun dari seorang wanita dan dilakukan didepan umum.
Dibidang sains dan teknologi, meskipun banyak wanita muslimah yang berkontribusi didalamnya namun biografi mereka sulit untuk dikumpulkan dan ditemukan.

Namun cukuplah untuk menyebut sebuah nama yang tidak dikenal oleh masyarakat sekarang namun memiliki karya yang luar biasa bagi peradapan islam dulu hingga zaman now yang serba modern dan canggih ,dialah Maryam Ijliya Al Asturlabi seorang astronom yang dijuluki “ AL- Asturlabi” karena kontribusinya dalam pengembangan Astrolab( sebuah alat penting dalam navigasi astronomis).

Kondisi tersebut diatas hanya terjadi pada peradapan islam. Dimana kehormatan wanita terjaga dalam masyarakat islam baik secara kultural masyarakat dan juga peran daulah khilafah dalam mengoptimal tugas peran fungsi wanita. Syariah islam yang dituduhkan barat menindas wanita ternyata tidak menghalangi sedikitpun peran wanita dalam memajukan peradapan.

Bisakah kita temukan hal tersebut dizaman now? Mari kita renungkan,dan mari memberikan kontribusi untuk merevisi tugas dan fungsi perempuan untuk generasi. Hanya dengan islam lah wanita mulia dan dapat meraih derajat yang tinggi di dunia dan diakhirat nanti, hingga layaklah jika surga ada dibawah telapak kakinya.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here