“Mencibir” Demokrasi Bima dan Menakar Pemimpin Masa Depan

0
106

Kepemimpinan bukan dibawa sejak lahir, tetapi kecakapan tersebut dibentuk oleh keadaan dan pengalaman. Hal ini adalah asumsi dasar untuk menolak absolutisme kepemimpinan dan pewarisan kekuasan berdasarkan keturunan.
Permasalahan yang dihadapi Bima saat ini adalah adanya stigmatisasi kepemilikan dan persyaratan umum sebagai pemimpin harus berdasarkan keturunan tertentu. Ditambah lagi dualisme sistem kepemimpinan; sistem kepemimpinan struktural (politik dan pemerintahan) oleh Bupati beserta jajarannya dan sistem kepemimpinan kultural (kebudayaan) oleh Sultan. Hal demikian sangat mempengaruhi nuansa demokrasi yang hendak dibangun dengan asas politik berkedaulatan, kesetaraan, terbuka, adil, dan rasional. Hingga kini, kelihatannya wajah demokrasi rasional terkikis oleh politik klenik-isme bahkan irrasional yang berbau mitos, tahayyul, dan khurafat.
Keseriusan kita membangun wajah demokrasi yang menjunjung nilai meritokrasi, terkoyakkan dengan munculnya dagelan-dagelan politik yang serba mistis; mulai dari cerita mistik raja-raja, sultan-sultan, serta anak keturunannya. Cerita tersebut dengan mudahnya tersebar dan ditelan dan muntahkan oleh masyarakat pro-mistis dan bahkan mengkultuskan manusia tertentu.
Kondisi demikian memang tidak terlepas dari unsur historisitas dan berkembangnya cerita rakyat, yang tidak hanya diminati oleh kalangan masyarakat awam, tetapi juga oleh para cendikiawan dan ilmuwan. Ditambah lagi kultur masyarakat kita belum beranjak dewasa dan tercerahkan dalam memandang politik dan fenomena kepemimpinan. Mereka belum bisa memandang kepemimpinan sebagai hasil akulatif dari proses belajar dan pendewasaan diri melalui pengalaman. Tidak serta merta, karena orang tuanya sebagai Raja, Sultan, dan Bupati dan terwariskan anak keturunannya.
Budaya-budaya kuna seperti ini harus segera dikikis, agar tidak menggejala menjadi virus dari demokrasi yang kita harapkan membaik. Masyarakat harus mendapatkan pendidikan yang intens tentang demokrasi dan segala aspek yang melingkupinya. Terutama pada kriteria-kriteria pemimpin dan watak kepemimpinan secara teoritis, supaya menjadi acuan dalam menentukan sikap dan pilihannya. Dalam upaya menentukan nasib masyarakat Bima ke depan.
Pemimpin Bima ke depan harus memiliki persyaratan sebagai berikut; pertama, pemimpin harus memiliki kemampuan manajerial yang baik. Kelemahan pemimpin Bima selama ini adalah ketidakmampuannya merencanakan suatu program yang terukur, efisien, efektif, dan relevan bagi kebutuhan masyarakat. Sehingga semua masalah menumpuk, terutama untuk para petani; baik petani bawang, garam, padi, palawija, jagung, bandeng, dan lain sebagainya.
Kedua, kemampuan berkomunikasi yang baik. Persoalan komunikasi bukan hanya kepandaian berbicara, tetapi bagaimana dengan narasi-narasinya program dapat tersampaikan dengan dan dipahami secara utuh oleh lawan bicara. Sehingga mampu mengendalikan keadaan masyarakatnya dengan opini yang retorik. Memberikan keyakinan dan mempengaruhi orang lain untuk mengikutinya dengan penuh kewibawaan. Dan komunikasi sangat untuk membangun kerjasama yang baik dengan pemimpin berbagai daerah. Mereka harus membangun jaringan dagang dan saling menyuplai kebutuhan-kebutuhan pokok daerah tertentu. Misalnya, Kalimantan membutuhkan batu, Bima menyediakan kebutuhan tersebut.
Sumatera membutuhkan garam sebagai pupuk lada dan karet, serta pengebotan minyak, maka Bima menyiapkan. Sulawesi membutuhkan suplai kebutuhan pangan (Beras, bawang) dan sayur-sayuran, pemerintah Bima menyiapkan barang-barang tersebut. Membangun jaringan dagang seperti ini bukan hanya pemrintah yang berhasil membuat lahan PAD (pendapatan asli daerah), tetapi masyarakat mendapatkan pasar yang besar sehingga mereka bisa meningkatkan kinerja produksi.
Ketiga, pemimpin harus memiliki jaringan yang kuat, agar pemerintah dengan mudahnya mendapatkan informasi dalam rangka mengembangkan daerahnya. Mendatangkan investor yang siap mengelola SDA dan memberdayakan SDM secara baik. Dengan demikian tidak ada lahan yang tidak produktif, lapangan kerja tersediakan, pengangguran berkurang, terjamin kesejahteraan bagi masyarakat, dan mereka menikmati kehidupan yang layak.
Keempat, memiliki visi dan misi. Visi dan misi harus diimbangi dengan mental yang kuat, jujur, tegas dan kharismatik. Karena dalam menjalankan visi dan misi tersebut tidak mudah, pasti akan menghadapi tantangan; mulai dari level low sampai high problem.
Kelima, kecerdasan menganalisis persoalan yang menyangkut hajat orang banyak. Kelima poin penting yang harus dimiliki seorang pemimpin di atas, sekali lagi tidak dibawa dan diwariskan secara genetik. Tetapi, dibentuk oleh kondisi dan keadaan serta pengalaman berorganisasi dan belajar, juga pergaulan. Maka, budaya mengabsolutkan kepemimpinan berdasarkan keturunan adalah budaya jahiliyah. Apabila masih dianut oleh masyarakat modern sekarang, maka mereka akan ketinggalan kereta peradaban. Dan, dapat dipastikan bahwa kondisi Bima hanya begitu-begitu saja.

Penulis

Syamsurijal
(Mahasiswa Pasca Sarjana PTIQ Jakarta dan Direktur Gubuk Peradaban Foundation)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here