Menanti Kembalinya Kilau Mutiara Peradaban

0
179

Oleh:
Desmaniar Ika T, S.E
Founder Komunitas Sahabat Shalihah Bojonegoro


Serasa mendapati penawar rindu akan kebangkitan mahasiswa yang lama tak terdengar gaungnya. Ditengah berlangsungnya acara Dies Natalies ke – 68 UI, Ketua BEM UI 2018 Zaadit Taqwa melakukan aksi heroik.

Memberikan kartu kuning untuk presiden Jokowi. Sinyal itu diberikan sebagai bentuk tuntutan akan tiga hal yaitu meminta tuntaskan persoalan gizi buruk di asmat papua, menolak tegas rencana pengangkatan Pj Gubenur dari kalangan Polri aktif, menolak draft Permendikti tentang Organisasi Mahasiswa yang dianggap sangat membatasi pergerakan mahasiswa (news.detik.com/02/02/2018).

Sikap berani dan kritis dari Zaadit Taqwa bagaikan angin segar. Geliat daya kritis mahasiswa kembali tampak. Aksi zaadit membuktikan tidak semua mahasiswa terbungkam dengan kebijakan yang salah. Sekalipun tidak bisa dipungkiri, lebih fokus pada urusan pribadi menjadi pilihan sebagian mahasisiwa saat ini.

Bagaimana tidak, Sistem di indonesia yang menstadartkan segala sesuatu berdasarkan materi, membuat mahasiswa sibuk memeras otak bagaimana bertahan dan melanjutkan hidup. Biaya kehidupan sehari – hari mahal ,uang kuliah mahal, BBM naik lagi, belum lagi banyaknya pengangguran sementara lapangan kerja terbatas. Akhirnya tak cukup waktu dan energi untuk memikirkan persoalan negeri
Namun tetaplah harus diyakini, bahwa Fitrah mahasiswa sebagai “agent of change” akan terus menorehkan sejarah perubahan negeri.

Sikap kritis Zaadit nyatanya menjadi iron stock mahaisswa lain. Beberapa aktivis – aktivis mahasiswa seperti, aktivis KAMMI yang menyampaikan suaranya dengan melakukan aksi protes terhadap pemerintahan Jokowi. Mahasiswa Rezki Ameliyah dan Muhammad Nur Fiqri dari Universitas Hasanudin Makasar mengungkapkan kondisi yang terjadi di kampusnya dengan menempelkan poster kritikan bertajuk “Kampus rasa Pabrik”.

Upaya kepedulian mahasiswa terhadap persoalan negeri seakan move up. “Gebrakan” ini selayaknya patut diapresiasi dan terus disuburkan. Meskipun dalam sistem ini mahasiswa tak lagi bebas beraspirasi. Terbukti, setelah gelar aksi protes Aktivis mahasiswi KAMMI diciduk dan dibubarkan.

Kemudian beberapa pekan setelahnya, kritik tempel poster berakhir pada skorsing selama dua semester. Amat disayangkan, kampus sebagai pusat intelektualitas, seharusnya menjadi wadah untuk aktivitas mengkaji masalah, mengingatkan kebijakan, mengungkapkannya secara kreatif dan solutif. Bukan buru – buru melakukan tindakan punishing.

Tentu gertakkan terhadap daya kritis diharapkan tidak lantas membuat mahasiswa enggan kembali bersuara. Justru semakin memantapkan bahwa jalan perubahan merupakan keniscayaan. Dan berjuang diatasnya adalah sebuah pilihan blirian. Dalam sebuah aktivitas perubahan, diperlukan seni dalam meniti jalan perubahan itu sendiri.

Agar perubahan tak hanya menyelesaikan persoalan – persoalan di awal namun menuntaskan hingga akar. Pertama, mahasiswa selayaknya memahami akar persoalan yang menimpa negeri ini. Mengepulnya masalah ekonomi, sosial, hukum, dan politk di Indonesia disebabkan bukan hanya karena personality penguasa negeri. Namun sistem sekuler yang di amini penguasa saat ini.

Kedua, memahami bahwa hakekat perubahan akan ditanggung bagi mereka yang berpikiran maju, kuat dan berjiwa besar. Allah SWT berfirman “ sesungguhnya allah tidak akan mengubah (keadaan suatu kaum kecuali setelah mereka mengubah (keadaan) diri mereka sendiri” . (TQS. Ar – Ra’du :11). Ketiga, memahami bahwa arah perubahan harus membawa ke tujuan yang jelas dan dilakukan sesuai dengan ketentuan Allah SWT.

Sedangkan sistem sekuler yang diyakini saat ini, tak akan mampu membawa perubahan hakiki. karena sekulerisme meletakkan aturan Allah pada koridor peribadatan semata, sementara aturan kemasyarakatan diserahkan pada manusia sepenuhnya. Ketiga, Tujuan perubahan juga harus di sertai dengan metode /jalan perubahan apa yang akan digunakan.

Rasullullah SAW sebagai teladan, telah memberikan gambaran rinci bagaimana membentuk perubahan. Dari keadaan jahiliyah hingga tegaknya sebuah sistem kehidupan yang memuliakan. Dalam sirah shahabat, Mus’ab bin Umair adalah sosok pemuda pengawal perubahan yang menyertai Rasulullah SAW .

Seorang pemuda kaya, rupawan, yang tidak goyah saat memeluk islam dengan berbagai ujian. Pemegang bendera Islam pada saat perang uhud yang tertebas kedua tangannya oleh pasukan musyik. Hingga saat syahid tidak ada kain kafan yang cukup untuk menutupi jasadnya, melainkan jika ditutup kepalanya terbukalah kakinya.

Jika ditutup kakinya terbukalah kepalanya. Ia mendapatkan kebahagiaan yang kekal diakherat. Namanya menjadi sejarah harum melebihi lama usianya.Maka selayaknya Mus’ab bin Umair menjadi teladan dan semangat pemuda untuk memilih jalan perubahan dan kuat diatasnya.

Melakukan gebrakan dengan tekad yang tak tergoyahkan. Umat menanti perubahan yang hakiki dari pemuda – pemuda sejati penopang peradaban Islam. Imam Ibnu Katsir menafsirkan fityah (pemuda) dalam al surat al Kahfi “….untuk itulah kebanyakan yang menyambut (seruan) Allah dan Rasul Nya shallalahu alaihi wassalam adalah pemuda.

Adapun orang – orang tua dari quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama mereka dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here