Membongkar “Festival Material” Dalam Tradisi Lebaran

0
153

<Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Lebaran di Indonesia dijadikan sebagai festival mudik. Perantau pulang kampung. Kota-kota besar sepi. Jalanan lengang. Suasana di kampung heroik, gagap gempita, dan terasa sahdu.

Distribusi ekonomi terjadi. Uang mengalir dari kota ke desa. Para perantau alirkan jutaan rupiah. Bahkan puluhan hingga ratusan juta. Bagi-bagi angpao dan pesta keluarga. Makanan berlimpah menghiasi tradisi halal bihalal.

Wisata dan kuliner diserbu. Mall sesak pengunjung. Semua makan. Semua belanja. Setiap orang punya anggaran. Lumayan besar. Lebih besar dari uang zakat dan angaran infaq. Apa saja laku. Uang seperti tak ada harganya. Dihambur-hamburkan.

Festival materi seolah jadi kompensasi lapar-dahaga selama sebulan puasa. Saatnya lebaran. Memanjakan diri dengan kesenangan oral-material.

Disisi lain, spirit Ramadhan terlupakan. Nilai-nilai puasa yang diperjuangkan saat Ramadhan terabaikan. Tidakkah puasa adalah perjuangan manusia untuk mengurai maindset material? Keluar dari dominasi materialistik? Festival lebaran lalu menghancurkannya.

Makan dan minum itu simbol material. Dihindari dalam puasa agar manusia bisa jaga jarak. Lalu secara obyektif mampu lakukan evaluasi. Keluar dari dominasi dan penetrasinya.

Materi itu sering jadi magnet nafsu dan sumber ambisi. Di obyek inilah kepentingan manusia sering dibenturkan. Kedzaliman dan saling menguasai terjadi akibat berburu materi. Konflik muncul karena perebutan sumber materi. Stop! Begitulah pesan puasa.

Puasa memberi pesan agar manusia tidak rakus. Tapi proporsional. Kelaparan diharapkan mampu menyadarkan manusia, lalu bersedia merubah mindsetnya tentang materi. Dia berkuasa, bukan dikuasai. Manusia jadi the winner atas materi, bukan the loser. Bukan pula pecundang.

Puasa bukan sekedar memenuhi hasrat dan tugas normatif (fiqih), tapi lebih pada upaya menangkap pesan yang substantif. Sebuah pergeseran mindset secara revolusioner dari material ke spiritual. Disinilah moralitas itu bersumber.

Setelah lebaran, yang waktunya hanya sehari untuk Iedul Fitri, umat Islam disunnahkan puasa Syawal. Fungsinya? Menjaga dan merawat spirit dan nilai-nilai puasa Ramadhan.

Festival lebaran dengan segala asesoris materialnya, tanpa disadari menjadi faktor tersulit untuk menjaga spirit puasa. Anda berat untuk puasa syawal disaat keluarga dan saudara anda sedang berpesta. Di setiap meja tamu ada hidangan terbaik dan terlezat. Boleh jadi Anda tak tertarik. Tapi etika sosial mengajarkan anda untuk menghormati tuan rumah, atau tamu. Terpaksa makan bersama. Anda pun tak jadi puasa. Bagaimana dengan anak anda yang masih usia SD, SMP atau remaja? Makin berat.

Festival lebaran sarat material nampak kontraproduktif dengan spirit puasa Ramadhan. Belum lagi ketika mudik. Tarawih terakhir yang jadi taruhan Lailatul Qadar dikorbankan untuk persiapan dan mudik. Atas nama musafir, tak sedikit yang mengorbankan puasa Ramadhan.

Akhir Ramadhan yang notabene jadi raport terakhir dan penilaian final, masjid justru sepi. Sedekah berkurang. Mudik menyedot perhatian, waktu dan semua energi.

Apakah mudik itu buruk? Tidak. Apakah halal bihalal dan silaturahmi tidak baik? Baik. Apakah cuti bersama tak bagus? Bagus dan memang perlu. Hanya saja timingnya tidak tepat.

Sesuatu yang baik, jika timingnya tak tepat akan jadi kontraproduktif. Silaturahmi itu baik. Tapi kalau anda datang ke rumah orang jam 02.00 pagi, anda akan diteriakin maling. Tak tepat.

Begitu juga dengan cuti bersama dan mudik lebaran dengan semua festival materialnya. Tanpa disadari jadi ancaman terhadap nilai-nilai puasa Ramadhan yang sebulan penuh telah diperjuangkan.

Karena itu, Nabi memberi waktu Iedul Fitri cuma sehari. Tak lebih. Bahkan ketika mau berangkat shalat Iedul Fitri, dianjurkan makan dan minum. Tak ada pesta setelah itu.

Beda dengan Iedul Adha. Libur empat hari. Tahan dari makan-minum sebelum shalat Iedul Adha. Akan ada pesta bersama. Festival daging qurban.

Jika saat ini Iedul Adha orang tidak mudik, karena memang tak ada cuti bersama. Di kota-kota besar berlimpah hewan qurban, sementara kampung-kampung sepi dari dari daging qurban. Seandainya setiap perantau mudik, mereka akan pulang kampung dengan hewan qurbannya. Iedul Adha akan menjadi sarana para perantau berqurban di kampung halamannya. Pesta bersama dengan sanak saudara, teman dan tetangganya di kampung. Terjadi festival distribusi ekonomi yang masif. Daging qurban jadi simbol dan spiritnya.

Jika cuti dan mudik bersama digeser waktunya ke Iedul Adha, akan jauh lebih produktif. Spirit Ramadhan terjaga, kekhusukan qiyamullail di malam Lailatul Qadar terpelihara, dan festival mudik tetap ada. Hanya beda waktunya.

Jakarta, 12/6/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here