LENTERA ISLAM UNTUK PEREMPUAN INDONESIA

0
102

Anita Permata Sari
Anggota Komunitas Sahabat Remaja Shalihah Bojonegoro

Bagi sebagian masyarakat, pemikiran yang berkaitan dengan kesetaraan gender dan emansipasi wanita sangat diagung-agungkan dan dielu-elukan sebagai pelindung hak asasi mereka dalam melegalkan eksistensinya diberbagai bidang.

Pemikiran ini selalu aktif digencarkan diberbagai kalangan , dengan tujuan mengaburkan batas antara laki-laki dan perempuan. Krisis moral yang diakibatkan dari pemikiran sekularis ini merujuk pada maraknya perceraian dengan berbagai macam alasan, salah satunya seorang istri yang merasa tidak butuh peran suami sebagai imam keluarga, karena merasa bisa memenuhi kebutuhan dengan usahanya sendiri.

Program konspirasi Barat untuk menghancurkan keluarga muslim, sangat mudah masuk kedalam sendi-sendi kehidupan. Adanya dukungan dari berbagai konvensi dan kesepakatan Internasional terkait dengan isu HAM serta kesetaraan gender yang selalu digencarkan, membuat kaum feminis terlena dengan secuil manfaat yang mereka dapatkan tanpa mengetahui kerusakan yang akan timbul nantinya.

Berbagai konvensi dan hasil kesepakatan ini, dipaksa untuk diadopsi oleh negara-negara didunia, termasuk negeri-negeri muslim seperti Indonesia. Alhasil, peran Islam dalam memuliakan dan menjaga kehormatan wanita , sedikit demi sedikit terkikis oleh paham feminis sekularis yang memisahkan aspek agama dari kehidupan dan mecabut kewajiban wanita sebagai seorang istri dan pendidik bagi anak-anaknya.

Fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat menengah kebawah seperti ayah dan ibu sibuk bekerja, sehingga anak ditinggal sendirian tanpa perhatian dan edukasi yang baik, berdampak pada kenakalan remaja saat ini. Belum lagi media sosial yang semakin mempersempit jarak dan waktu, membuat anak lebih leluasa mengetahui isi dunia tanpa menyaring mana yang baik dan mana yang buruk.

Tentu saja hal ini membuat anak semakin rentan berbuat maksiat dan pergaulan bebas, apalagi ditambah sikap masyarakat yang seolah acuh tak acuh dan tidak mau mengingatkan satu sama lain semakin melebarkan virus pergaulan bebas. Belum lama ini, telah viral video seorang anak dibawah umur sedang menonton video porno, padahal disampingnya ada ibunya sendiri, namun sang ibu sama sekali tidak menyadari perbuatan anaknya.

Alih-alih memperingatkan orang tua si bocah, masyrakat sekitar justru merekam dan menyebarluaskan aib tersebut.
Di tengah kondisi ini, negara harusnya turut andil dalam pemblokiran dan penghapusan konten porno secara tuntas serta membatasi adanya sinetron di televisi yang secara tidak langsung mengajarkan anak untuk berpacaran dan mendekati kemaksiatan.

Namun, ketakutak akan kerugian finansial dan material membuat pemerintah hanya bertindak sekedarnya saja dan selebihnya membiarkan virus kemaksiatan menjalar dikalangan remaja dan menghancurkan tatanan keluarga muslim. Negara sebagai pelaksana peraturan justru bertindak zalim dengan menggencarkan program –program neoliberal dan membuat perempuan hanya disibukkan dengan pencapaian materialistik sesuai standar kapitalis.

Apalagi Indonesia dianggap telah menjadi tatanan global dengan Sumber Daya Alamnya yang melimpah diklaim mampu melejitkan perekonomian dunia. Hal ini dimanfaatkan oleh sebagian individu untuk memenuhi keinginannya dalam memprivatisasi apa yang telah menjadi milik bangsa.

Proses penghancuran keluarga yang dialami oleh siapapun, termasuk keluarga muslim, pada hakekatnya adalah problem sistemik. Yakni problem yang disebabkan penerapan aturan yang berasal dari ideologi Kapitalisme, sehingga menjangkau dan mempengaruhi setiap bagian kehidupan.

Karena itulah, solusi dari persoalan penghancuran keluarga muslim tidak akan mampu diselesaikan di tingkat individual, keluarga atau komunitas-organisasi, gerakan intelektual, atau perkumpulan tertentu saja, melainkan solusi yang sempurna dan paripurna adalah kembali kepada hukum Allah, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya dan Dia adalah sebaik-baik pencipta manusia.

“Apakah hukum jahiliyah yang kalian kehendaki? Siapakah yang lebih baik hukumnya dari pada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS Al-Maidah : 50). Wallahu alam bishawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here