KOHATI, Tuti Tursilawati dan Harga Diri Perempuan

0
403

MMORR.NEWS – Berita kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan sering kita temukan di berbagai media massa, terutama dalam rubrik kriminal. Mulai dari berita pemerkosaan, kekerasan rumah tangga, pelecehan, pemukulan, serta penyiksaan. Suatu perilaku dikatakan sebagai tindakan kekerasan apabila ada serangan terhadap fisik maupun mental psikologis seseorang.

Sumber kekerasan bisa muncul darimana saja, salah satunya adalah yang bersumber dari pemahaman tentang gender, yang disebut sebagai gender-related violence yang disebabkan oleh kekuasaan. Kekerasan ini bisa terjadi di tingkat rumah tangga sampai tingkat negara, bahkan tafsiran agama. (Baca: Agnes Aristiarini. op. cit., h. 17-18)

Dari fenomena tersebut, Salah satu kajian mengenai sikap dan pandangan kaum perempuan tentang pentingnya fungsi seksual yang cukup menarik untuk diulas adalah survei yang diprakarsai oleh Bayer Healthcare yang dilakukan di 12 negara pada April hingga Mei 2006.

Negara-negara tersebut adalah: Brazil, Prancis, Jerman, Italia, Meksiko, Polandia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Spanyol, Turki, Inggris dan Venezuela. Jumlah responden di setiap negara tersebut paling sedikit 1000 perempuan berusia di atas 18, sehingga jumlah keseluruhan responden adalah 12.065 orang.

Hasilnya, 8996 responden (75% perempuan) mengakui bahwa kegiatan seksual adalah sesuatu yang penting atau sangat penting bagi mereka. Ketika kepada mereka (8996 responden) yang mengaku seksual sebagai sesuatu yang penting itu ditanyakan apa alasan mereka berpendapat bahwa seksual penting, maka respons yang muncul adalah sebagai berikut.

Enam dari sepuluh (58%) perempuan mengaku seksual penting untuk memperkuat dan meningkatkan kualitas hubungan dengan pasangan. Selanjutnya, hampir separuh (47%) responden merasa bahwa seksual bertalian dengan kebanggaan diri, masing-masing 29% merasa memiliki daya tarik dan 18% merasa lebih percaya diri. Juga, tidak kurang dari 47% responden berpandangan bahwa seksual berkontribusi positif buat fisik mereka (Bayer, 2006).

Perilaku seksual adalah manisfestasi aktivitas seksual yang mencakup baik hubungan seksual (intercourse; coitus) maupun masturbasi. Hubungan seksual diartikan sebagai hubungan fisik yaitu hubungan yang melibatkan aktivitas seksual alat genital laki-laki dan perempuan (Zawid, 1994 dalam Perry & Potter, 2005).

Dorongan/ nafsu seksual adalah minat/ niat seseorang untuk memulai atau mengadakan hubungan intim (sexual relationship). Kegairahan seksual (Sexual excitement) adalah respons tubuh terhadap rangsangan seksual.

Ada dua respons yang mendasar yaitu myotonia (ketegangan otot yang meninggi) dan vasocongestion (bertambahnya aliran darah ke daerah genital) (Chandra,2005). Kini, terungkap kembali kasus Tuti Tursilawati, yang merupakan kasus pembunuhan berencana terhadap majikannya sejak 2010, dan telah divonis mati oleh pengadilan di Arab Saudi pada Juni 2011.

Singkat cerita, Tuti telah dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi pada 29 Oktober 2018 dan tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pemerintah Indonesia.  (lihat kronologi Kasus TKI Tuti Tursilawati hingga dieksekusi mati).
Usut demi usut, sejak ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian, KJRI Jeddah dan kepolisian Saudi Arabia melakukan investigasi.

Selama proses itulah Tuti mengakui telah membunuh ayah majikannya dengan alasan sering mendapatkan pelecehan dan kekerasan seksual sejak kasusnya ditetapkan di tahun 2011 silam. Risih bukan? Dia lakukan untuk kehormatan harga dirinya, namun hukum membalas lain.

Menanggapi kasus ini, memang telah banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meringankan hukuman tersebut. Yaitu pendampingan kekonsuleran sejak 2011-2018, tiga kali permohonan banding, dua kali permohonan Peninjauan Kembali (PK), dua kali mengirimkan surat Presiden kepada Raja Saudi, serta berbagai upaya non-litigasi.

Lalu, apakah KOHATI telah bersinergi dengan pemerintah akan mengawal kasus ini?

Haii KOHATI se Nusantara, mari bergerak! Sebagai lembaga yang mefokuskan diri pada wilayah keperempuanan kini sudah seyogyanya berkontribusi mengawal kasus ini. Agar tidak ada lagi Tuti, dan Tuti yang mengalami hal sama didaerah masing-masing.

Jangan menunggu kader HMI-wati sebagai korban, karena ini berbicara harga diri perempuan! Kasus pelecehan dan kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapa saja, dimana saja, oleh siapa saja tanpa melihat jabatan dan personalia. Naudzubillah!

Sebagai wadah aspirasi kader HMI-Wati di organisasi HMI, Kohati bukan hanya sebagai wadah aspirasi, tetapi juga sebagai tempat belajar, berproses dan berjuang perempuan-perempuan HMI. Ini menjadi angin segar untuk adanya proses gender mainstreaming ditubuh HMI.

KOHATI juga bertanggungjawab terciptanya adil dan makmur yang dapat ditandai dengan proses transformasi perannya sebagai pencetak dan pembina muslimah sejati untuk menegakan dan mengembangkan nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Indonesiaan dalam wilayah keperempuanan khususnya.

Penulis teringat prakata Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono saat acara Perayaan Hari Ibu ke-83 tahun 2011 silam, beliau mengilustrasikan bahwa ‘Sang Garuda, yang membawa semangat dan jiwa Pancasila, tidak mungkin terbang tinggi jika hanya menggunakan satu sayapnya, yaitu sayap laki-laki.

Garuda Pancasila hanya dapat terbang menembus awan jiwa kedua sayapnya, laki-laki dan perempuan mengepak sayap bersama dan bersinergi’. Ilustrasi tersebut menunjukkan pentingnya peran perempuan dan laki-laki, juga KOHATI dan Pemerintah dalam kedudukan yang setara untuk kepentingan dan tujuan bersama, yaitu cita-cita dan tujuan nasional.

Syarifaeni Fahdiah
Penulis Adalah Pengurus KOHATI PB HMI Periode 2018/2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here