Ketika Pelangiku Tak Lagi Indah

0
128

Oleh:

Mala Oktavia
(Siswi SMAN 1 Bojonegoro)

Zaman terus berkembang, pengaruh perkembangan globalisasi sudah menyebar di berbagai pelosok dunia. Mulai dari anak kecil, remaja, hingga orang tua tak luput dari sebaran paham-paham barat. Sekuler, liberalis, komunis, seakan menjadi santapan biasa bagi masyarakat di negeri ini.

Tak khayal banyak masyarakat yang terjebak pada paham-paham tersebut, praktik-praktik pemuas nafsu seakan bukan hal yang tabu lagi untuk dilakukan. Salah satunya yang menjadi perbincangan hangat adalah kasus LGBT yang kian hari kian berkembang.

Organisasi-organisasi terselubung yang mempraktikkan LGBT merebah dan mewabah pada masyarakat. Para kaum feminis yang mendukung adanya praktik ini, berasumsi bahwa LGBT merupakan hak asasi manusia yang harus didukung bukan dicegah.

Banyak aktivis LGBT yang melakukan praktik ini secara tertutup, tetapi ada pula yang melakukannya secara terbuaka dan sukarela. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang tidak tahu bahkan tidak paham akan bahaya peliraku kaum sodom ini.

Diambil dari data penelitian seorang siswa SMA di Bojonegoro, hampir 70% lebih dari 100 orang yang diambil secara acak, belum mengetahui bahwa LGBT telah berkembang sangat pesat di daerah tersebut. Padahal telah banyak tempat yang disinyalir sebagai wadah praktik LGBT ini yang berkedok salon atau rumah kecantikan.

Mirisnya kebanyakan masyarakat yang tidak tahu akan informasi ini adalah pelajar tingkat SMA. Padahal sebagai generasi muda seharusnya mereka berperan aktif pada perkembangan sosial masyarakat saat ini.

Ketidaktahuan masyarakat ini menimbulkan tanda tanya besar, mengapa perkembangan LGBT yang begitu pesatnya sampai tidak diketahui oleh masyarakat? Perlu adala upaya untuk menyosialisasikan serta memberantas bahaya LGBT.

Semua elemen harus berperan aktif dalam menyosialisasikan dan memberantas praktik semacam ini. Pasalnya praktik ini bukan hanya dilarang keras oleh agama, melainkan juga tidak sesuai dengan budaya ketimuran bangsa Indonesia.

Rakyat harus cerdas dalam mengolah informasi yang masuk saat ini, tidak hanya melahap mentah-mentah tetapi juga harus bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk.

Berbagai solusi harus terus dilakukan. Solusi paling awal ialah solusi dari pribadi. Sebagai pribadi yang memiliki agama, sudah sewajibnya kita mematuhi segala hukum dari Allah SWT.

Menjadi pribadi yang bertakwa dan taat sehingga setiap kegiatan kita bernilai ibadah, bukan menjadi suatu penyimpangan. Dengan menjadi pribadi yang bertakwa, kita akan mampu membentengi diri dari perbuatan-perbuatan menyimpang seperti halnya praktik LGBT.

Selain solusi dari pribadi, diperlukan pula peran masayarakat yang juga bertakwa. Dimana masyarakat yang bertakwa ini akan mampu menjadi lingkungan yang sehat bagi perkembangan anak-anak dan remaja.

Dunia pendidikan juga harus mampu memberikan edukasi yang mumpuni dalam mencegah dan memberantas praktik LGBT. Bukan hanya sekadar informasi tekstual, melainkan juga bukti nyata melalui praktik-praktik yang dibudayakan dalam kegiatan sekolah.

Solusi terakhir yang paling fundamental ialah solusi dari negara. Negara adalah elemen yang paling berpengaruh dalam perkembangan LGBT, karena negara merupakan pintu gerbang masuknya paham-paham luar.

Disaat negara melegalkan LGBT maka akan sulit bagi masyarakat untuk menumpas praktik biadab ini, tetapi jika negara menolak keras praktik LGBT, besar kemungkinan masyarakat akan mampu mencegah dan memberantas praktik ini.

Oleh karena itu, negara harus mampu menjadi benteng utama bagi masyarakat untuk mencegah dan melindungi masyarakat dari ancaman LGBT. Kesimpulannya, antara pribadi, masyarakat, dan negara harus menjadi satu-kesatuan yang padu serta memiliki pemikiran yang selaras dalam mencegah dan memberantas LGBT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here