Kartu Kuning Vs Joko Widodo

0
73

By

Natsir Al Walid

Ada yang aneh dengan Negeri ini, penguasa tidak mau di kritik. Semua kebijakan dan kinerja harus di puji. Makin hari, makin tidak mendemokrasi.

Orang-orang disekitarnya ramai-ramai memuji dan membela walau itu menjerit rakyat. Jangan coba-coba anda melawan, anda pasti akan di cap dengan stigma negatif. Tapi itulah cinta, jika sudah menyesar ke materi dan kekuasaan.

Misalnya tragedi yang dibuat oleh Mr. Ketua BEM UI, soal kartu kuning untuk Presiden Jokowi beberapa hari yang lalu.

Saudara, mungkinkah semua kebijakan dan kinerja Presiden Jokowi dan kabinetnya itu tidak ada yang kurang atau jauh dari kata membaik? Atau semua kebijakan dan kinerjanya itu sudah memenuhi janji politik dan harapan rakyat?

Saudara, anggaplah belum “sempurna” atau jauh dari kata “baik”, kalaulah belum sempurna atau belum membaik lalu apa salah jika ada seorang mahasiswa yang menilai kinerja Presiden dengan memberi kartu kuning sebagai tanda peringatan agar pak Presiden jauh lebih baik lagi?

Sebegitu jahat kah kita memaknai kartu kuning itu? Menuding tampa pamrih dengan berbagai stigma dan arogansi. Kebetulan pelaku kartu kuning itu adalah seorang mahasiswa, dan nama mahasiswa pun tak ketinggalan diseret oleh kelompok pecinta penguasa. Ini menyedihkan sekali.

Baiklah, kita mulai hitung-hitung kebijakan dan kinerja Pak Presiden Jokowi selama beberapa tahun ini.

Setidaknya ada beberapa perspektif untuk melihat dan menilai kinerja Pak Presiden yang saya suguhkan pada saudara (i).

1. Perspektif pertama adalah perspektif hukum, bagaimana perjalanannya dari sejak Presiden di lantik hingga saat ini, adakah kegaduhan? Bagaimana keributan kasus RS. Sumber Waras, bagaimana kesimpangsiuran kasus reklamasi? Bagaimana konflik KPK dan Polri beberapa tahun lalu? Ayo jujur bung.

2. Perspektif kedua adalah perspektif politik, bagaimana menurutmu keadaan politik saat ini? Adakah kegaduhan dalam negeri ini. Ayo bung, kita lihat lebih luas lagi, otak kita cukup besar untuk melihat keadaan politik era Pak Jokowi ini.

3. Perspektif ketiga adalah perspektif kesejahteraan ekonomi rakyat, bagaimana menurutmu keadaan ekonomi rakyat sejak Pak Presiden di lantik hingga saat ini? Bung, kau tidak perlu mengingat soal garam lagi, atau beras lagi, itu tidak seberapa, mungkin ada yang lebih besar lagi yang menggerus ekonomi dan kesejahteraan masa depan negri ini.

4. Perspektif keempat adalah perspektif kehidupan sosial dan agama di Negara ini. Bung, saya tidak mengajak anda untuk kembali mengingat aksi penistaan agama yang di lakukan oleh Ahok, namun, bagaimana kebhinekaan kita yang dibuat mainan, toleransi kita yang tumbuh subur tak di pandang, pada agama tertentu di pandang sebelah mata, seolah-olah kita mau di perhadapkan dengan sesama anak bangsa dan krisis penyelesaian yang tak dapat di elak. Ayo bung lihatlah realitas kehidupan bangsa ini, jangan cinta buta.

Masih banyak perspektif lain yang dapat kita suguhkan untuk melihat dan menilai era Pak Presiden Jokowi ini. Jika saudara menemukan masalah pada kebijakan dan kinerja Pak Presiden kita yang tidak sesuai dengan janji politik dan harapan rakyat Indonesia, itu artinya, kartu kuning yang di beri oleh Mr. Ketua BEM UI sangat tepat sasaran dan patutlah kita beri apresiasi sebagai seorang negarawan yang baik.

Ayo Mahasiswa, jangan mau berhenti bersikap kritis, saat semua diam dan takut, kalian mesti hadir dengan keberanian, berbuat untuk bangsa dan masa depan negaramu sendiri, dipundakmulah harapan besar negri ini.

Jakarta, 05/02/2018

Penulis adalah aktifis Pemuda tinggal di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here