Karena “Pertalite” Rakyat Menjerit

0
59

Oleh:
Sri Handayani S,Pd (ibu rumah tangga)

Zamrud Khatulistiwa, itulah julukan para Pujangga buat negeri indonesia. Semboyan gemah rimpah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, Sebuah ungkapan yang menggambarkan begitu makmurnya masyarakat yang hidup di bumi pertiwi ini. (Tambah data kekayaan, tulis sumbernya)

Tapi sangat di sayangkan, negeri yang kaya SDA pada kenyataanya saat ini ditimpa kemalangan. Jumlah angka kemiskinan yang terus bertambah setiap tahunnya. Belum lagi gizi buruk yang menyebabkan kematian bayi di Papua, daerah yang kaya dengan SDA. Tingginya angka TKW pencari nafkah di negeri orang lain juga identik dengan indonesia.

Ironisnya di tahun 2018 ini, pemerintah memberikan kado tambahan. Di bulan Januari kita di hadiahi kenaikan pertalite sebesar Rp. 100/liter, di bulan februari pertamax naik mulai dari Rp. 300 sampai Rp.750 , dan di bulan maret ini pemerintah menaikkan lagi pertalite sebesar Rp.200/liter. (www.tribunnews.com)

Bagi sebagian orang uang Rp. 200,- mungkin dirasa tidak berarti, tapi jika mau melihat kondisi ekonomi rakyat kecil, kenaikan ini akan sangat berpengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat.

Ketika 200 perak ini sudah masuk ke tanki bus, angkot dan truk serta transportasi lainnya, sudah pasti akan berakibat pada kenaikan harga komoditi yang diagkot, yang tentunya akan di ikuti kenaikn harga semua komoditi, bahkan sampai pada kebutuhan masyarakat yang lainnya. Seperti efek domino ketika satu titik terkena yang lain menerima dampaknya.

Kenaikan harga BBM ini hampir terjadi diseluruh pelosok negeri ini. Tentunya akan mengancam kenaikan semua komoditi, pada saat harga semakin melejit rakyat hanya bisa menjerit.

Kebijakan- kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat sangat tidak menguntungkan rakyat kecil. Dalam sistem kapitalis, sudah menjadi keniscayaan, bahwa pemilik modalllah yang berhak menguasai sektor penting termasuk SDA, yang posisinya sangat penting bagi masyarakat tapi menguntungkan para kapitalis.

Kondisi ini sangat berbeda sekali ketika SDA di kelola dengan cara Islam. Di dalam Islam di perintahkan bahwa “ kaum muslimin berserikat dalam tiga hal yaitu air, rumput dan api (energi)”.

Ketiga hal tersebut merupakan kebutuhan pokok manusia, maka ketiga hal tersebut dilarang untuk di kelola oleh asing atau swasta. Tetapi harus dikelola sepenuhnya oleh pemerinta dan hasilnya dikelola untuk kepentingan masyarakat. Dari sinilah pengelolaan pendidikan dan kesehatan benar-benar bisa dijamin oleh negara.

Persoalan kenaikan pertalite ini hanyalah secuil persoalan yang diakibatkan diadopsinya sistem ekonomi kapitalisme. Jika kita ingin keluar dari berbagai persoalan yang mendera negeri ini maka tidak ada pilihan lagi, yaitu dengan menerapkan Islam dalam semua aspek kehidupan. Karena kita semua meyakini bahwa hanya Islam yang dapat mengantarkan rahmat untuk seluruh umat manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here