Istana Galau?

0
104

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pendaftaran pilpres sekitar 3 bulan lagi. Tim Jokowi intens melobi partai-partai non-koalisi. Minta mereka bergabung. Tujuannya? Calon tunggal. Kenapa? Karena posisi Jokowi tak aman. Survei Rico Marbun, 46,4% rakyat ingin ganti presiden. Hanya 45,2% yang ingin Jokowi presiden lagi. Sangat rawan.

Salah seorang pengurus PDIP bilang: Pak Jokowi tak ingin calon tunggal. Agar demokrasi bisa berjalan. Ah, bisa-bisa aja. Sulit dipercaya. Berarti bohong dong? Tidakkah dalam dunia politik, bohong itu hal biasa? Kayak gak tahu aja.

Ada juga yang bilang: jangan pikirin pilpres. Yang penting kerja…kerja…kerja… Sementara Pak Jokowi 4-5 kali ke Jawa Barat dalam sebulan. Road show dengan motor cooper. Didandani layaknya anak milenial dengan menaiki motor gede. Gak mikirin pilpres? Jelas kurang nyambung…

Supaya Jokowi aman, calon tunggal jadi pilihan utama. Caranya? Pertama, ambil Prabowo sebagai cawapres. Kalau Gerindra mendukung Jokowi, PKS akan kehilangan arah koalisi. Oposisi lumpuh. Apakah Prabowo mau? Sedang dalam proses lobi yang intens.

Pertemuan Luhut Binsar Panjaitan (LBP) dengan Prabowo ditengarai publik dalam rangka untuk melumpuhkan koalisi oposisi. Dilanjutkan pertemuan tertutup di Cijantung antara Prabowo dengan sejumlah jenderal dan tokoh pendukung istana.

Dalam situasi tak memiliki logistik yang cukup dan elektabilitas yang makin turun, tawaran istana untuk men-cawapreskan Prabowo cukup menggoda. Tak pusing mikir logistik, dan kabarnya akan dapat jatah delapan menteri. Wow. Prabowo mau? Kita tunggu jawabannya.

Kedua, tutup peluang poros ketiga yang dimotori Demokrat, PAN dan PKB. Demokrat bersedia? Infonya Demokrat siap. Tapi, ada syarat. Putra Mahkota, AHY, jadi cawapres Jokowi. Jokowi ambil?

Jika syarat itu diterima Jokowi, koalisi istana rentan pecah. Sejumlah tokoh dari partai koalisi yang selama ini menunggu dipinang jadi cawapres Jokowi akan merasa ditelikung. Terutama PDIP yang paling sensi untuk bisa terima AHY. Luka lama bisa kambuh kembali.

PDIP sudah sodorkan Puan Maharani, PPP punya Romi, di PKB ada Muhaimin Iskandar, dan Golkar siap dengan Airlangga Hartarto. Kecil kemungkinan para tokoh dari partai koalisi istana ini legowo disalip AHY. Jika dipaksakan, koalisi istana terancam bubar.

Gak deal dengan syarat Demokrat, istana mesti menggunakan strategi lain. Wiranto diutus ketemu SBY. Untuk apa? Besar dugaan untuk nego ulang. Itu tugas negara, katanya. Ah, bisa-bisa aja. Rakyat gak lugu-lugu amat untuk sekedar memahami manuver seperti ini.

Di saat lobi sedang berjalan, kasus Century muncul lagi. Budiono, mantan wakil presiden SBY jadi tersangka. Dari PN Jakarta Selatan dilimpahkan ke KPK. Terkesan mendadak dan cepat. Rakyat kaget. Lalu, apa hubungannya dengan SBY? Ah, kayak gak ngerti aja.

Nama SBY sering disebut-sebut terkait kasus Century. Benarkah? Hanya pengadilan yang bisa membuktikan. Tapi, pengadilan tak selalu steril. Tak independen maksudnya? Banyak yang bilang begitu. Loh kok? Gak usah kaget. Seringkali tangan-tangan jahil kekuasaan hadir, ikut terlibat dan intervensi. Politik menjajah hukum itu terjadi di banyak kasus.

Apakah kasus Century adalah sandera istana kepada SBY? Sulit dijawab. Meski opini terus tumbuh. Isu politik tak mudah diverifikasi. Kecuali hanya beredar di kalangan komunitas super elit.

Jika istana gagal meredam dua poros untuk melenggangnya calon tunggal, maka, langkah berikutnya akan mendorong calon yang lemah. Prabowo dianggap calon itu. Benarkah?

Eforia PDIP sebagai pimpinan koalisi istana tak bisa disembunyikan. Raut wajah gembira nampak ketika Prabowo deklarasi. Terbukti, elektabilitas Jokowi naik drastis. 58%. Prabowo jatuh di angka 21%. Hampir semua survei merilis hasil elektabilitas Prabowo di bawah 30% dan Jokowi di atas 50%, jika head to head itu terjadi. Tak salah jika sejumlah lembaga survei merekomendasikan calon lain, bukan Prabowo. Ibarat pertandingan, tak menarik ditonton lagi. Gak seru. Masa Prabowo sudah lewat. Perlu “New Comer” sebagai penantang Jokowi. Tokoh muda dan potensi menjadi “antitesa” Jokowi.

Jika istana sukses mendorong dan merawat pencapresan Prabowo, maka dua tugas lagi yang harus diselesaikan Jokowi: pertama, pastikan tidak ada poros ketiga muncul. Kedua, memastikan cawapres yang tidak berisiko membuat koalisi pecah. Akan aman kalau diambil dari luar partai. Mahfudz MD atau Sri Mulyani misalnya.

Apakah kerja keras istana untuk membuat sekenario “calon tunggal” atau “merawat Prabowo” sebagai calon yang mudah dikalahkan akan berhasil? Belum tentu. Justru, saat ini, istana sedang galau-galaunya. Galau jika ikhtiarnya untuk meredam kedua poros yang potensial jadi lawannya gagal.

Tahu-tahu Gerindra-PKS mengalihkan capresnya ke Anies Baswedan. Demokrat, PKB dan PAN capreskan Gatot Nurmantyo. Atau Anies-Gatot dipasangkan dan dicalonkan oleh lima partai. Ini sangat mungkin. Kalau terjadi, Jokowi akan kesulitan mempertahankan kekuasaannya untuk dua periode.

Jakarta, 23 April 2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here