Indonesia Bukan Hanya Tentang Jokowi & Prabowo

0
364

Oleh
Teuku Gandawan – Strategi Indonesia™

Tokoh-tokoh politik kelas kacang di sekeliling Jokowi terus berusaha mengembuskan pemikiran-pemikiran mereka yang dangkal tentang situasi politik kekinian di Indonesia. Kenapa harus dikatakan kelas kacang? Karena bahkan rakyat banyak saja sudah lelah melihat kinerja Jokowi, sementara mereka masih sibuk menjilat, memuja dan menyebut Jokowi hebat.

Pemikiran-pemikiran dangkal tentang seolah Jokowi masih disukai, seolah Jokowi berprestasi, seolah Jokowi tokoh harapan, masih coba terus didengung-dengungkan. Seolah mengajak rakyat untuk tuli dan buta dengan kenyataan. Bergiatnya mereka dalam hal ini, sudah tentu karena ada kepentingan pribadi dan atau kepentingan kelompok yang ingin dicapai.

Padahal faktanya, lihat saja perbandingan elektabilitas riil Jokowi saat Pemilu 2014 dengan hasil survei berbagai pihak pada 2017 dan 2018. Semua menceritakan elektabilitas yang terus melorot. Kekecewaaan ini tentu sangat mudah dipahami karena rakyat cukup melihat hal-hal sederhana yang begitu mencolok. Pertama, sangat sedikit janji kampanye yang dipenuhi dan sangat banyak yang direalisasikan bertolak belakang dengan janjinya.

Kedua, kehidupan ekonomi keseharian dan peluang mendapatkan lowongan kerja terasa semakin sulit. Ketiga, rakyat dijejali dengan fakta-fakta konyol dari berbagai komentar dan reaksi presiden yang tidak berkelas sama sekali. Bukannya menjadi tokoh politik internasional yang membanggakan, Jokowi malah jadi tokoh joke internasional dalam sebuah konferensi pers yang melempar pertanyaan ke para menterinya dengan alasan menguji menteri.

Di sisi lain, masih oleh para pendukung dan pemuja Jokowi, rakyat juga didorong-dorong untuk melihat seolah hanya ada Prabowo saat ini sebagai tokoh alternatif untuk jadi presiden. Dapat dipastikan tentu bukan karena mereka ingin Prabowo menjadi presiden Indonesia berikutnya. Upaya ini tak lebih dari proses membuat terjadinya dikotomi dalam memilih kepemimpinan nasional. Seolah hanya ada Jokowi dan Prabowo saja yang mungkin jadi pilihan.

Jika gagasan ini bisa “dijual” ke rakyat banyak, maka selanjutnya mereka akan mengulas habis tentang siapa Prabowo dan apa saja buruknya. Setelah itu mereka akan masuk kepada kesimpulan, ternyata jika dibandingkan Jokowi dan Prabowo, masih lebih baik Jokowi. Artinya mari kita pilih saja kembali Jokowi karena calon alternatifnya jauh lebih buruk. Itulah gagasan dangkal yang sedang direkayasa dan tak lebih dari upaya pembodohan kepada rakyat.

Rakyat Indonesia hari ini harus diingatkan, bahwa tokoh Indonesia yang layak menjadi calon presiden tidak hanya Jokowi dan Prabowo melulu! Ada banyak putera bangsa yang layak dan sangat layak untuk diberikan kesempatan menjadi calon presiden. Jika kita mulai pembahasannya dengan pertanyaan memangnya siapa lagi yang layak? Maka ini menjadi joke baru yang luar biasa bodohnya.

Karena apa? Karena KPU menyatakan potensi DPT Pemilu 2019 kemungkinan sekitar 196 juta pemilih. Apakah kita mau bersepakat dari 196 juta ini hanya ada dua orang yang layak? Sebodoh itukah kita? Buat semua orang yang merasa hanya dua orang saat ini yang layak jadi pemimpin nasional, silahkan mulai jedutkan kepala anda ke tembok. Pasti ada yang rusak dan perlu diberi kejutan di kepala anda yang bodoh itu.

Jokowi sudah diberikan kesempatan dan ternyata memang gagal. Ini realita yang harus kita terima. Kalau Jokowi tidak gagal, Indonesia tentu sudah tumbuh dan berkembang jauh lebih hebat dari sebelum 2014. Kalau Jokowi tidak gagal, tentu dia tak perlu bersusah-susah membuat pencitraan dengan berbagai cara dan lewat berbagai media.

Kalau Jokowi tidak gagal, pendukungnya, pemujanya, berbagai lembaga survei, berbagai partai dan semua media yang condong padanya, tidak perlu berulang-ulang menyakinkan semua pihak bahwa dia berhasil. Masih ingat bagaimana SBY yang berhasil di perioda 2004-2009? Saat 2009, SBY nyaris tak perlu meyakinkan siapapun untuk memilihnya kembali karena dia memang berhasil.

Akhirnya mari kita tegakkan kepala dan berpaling dari Jokowi. Ada banyak tokoh kelas nasional yang layak diberikan kesempatan tampil. Prabowo boleh saja sebagai alternatif. Tapi sadarkan dulu diri kita masing-masing bahwa Indonesia jika bukan Jokowi, tidak juga bermakna pasti Prabowo. Prabowo masih sangat boleh diajukan karena memang belum pernah gagal sebagai presiden. Jokowi sudah gagal sebagai presiden dan tidak layak dipilih ulang.

Selanjutnya mari dengan jernih kita lihat bersama. Paling tidak harusnya ada sekitar 20 hingga 100 profil yang patut dikaji bersama sebagai alternatif. Silahkan saja setiap partai, ormas, komunitas atau kelompok masyarakat mengajukan tokoh baru yang dipandang layak.

Jangan ulang Pilkada Jakarta 2017 yang berusaha memaksakan seolah hanya Ahok Penista Agama yang layak. Jangan paksa seolah Indonesia hari ini hanya ada Jokowi dan Prabowo melulu sebagai kandidat. Jangan jadi badut nasional di bawah kegagalan Jokowi.

18 April 2018 06.30
#2019PresidenBaru

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here