Hoax Menyasar Pemerintah, Mereka Klarifikasi Dengan Data

0
148

Integritas, kapasitas, dan kolaborasi merupakan sikap yang diharapkan muncul dari gerakan revolusi mental. Hal itu disampaikan oleh Agustinus E. Rahardjo, Deputi IV KSP, dalam Diskusi Kebangsaan yang digelar oleh DPP GEMURA di Fakultas Kopi, Setia Budi, Jakarta pada Sabtu (16/2/2019).

Diskusi bertajuk, “Hoax Dimana-mana, Apakah Revolusi Mental Gagal?”, dengan narasumber Bursah Zarnubi (Ketua Umum PGK), Agustinus Rahardjo (Deputi IV KSP), Bagiono Prabowo (Praktisi Hukum, BPI), Indrawati Rahmadani (Akademisi).

Agustinus mengungkapkan, saat ini revolusi mental masih digaungkan sebagai upaya pemerintah dalam mengatasi problem bangsa. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi informasi yang pesat menyebabkan masyarakat bebas melakukan apapun tanpa kontrol diri.

“Saat ini ada revolusi jari, hanya bermodal jari dan smartphone, setiap orang mampu melakukan revolusi. Sayangnya, revolusi ini tidak dibarengi oleh mental yang sehat dan cenderung didasarkan pada kepentingan tertentu. Contohnya, hoax atau berita bohong,” ungkapnya.

Hoax yang disebarkan oleh oknum, tidak jarang menyasar Pemerintah sehingga mengesankan bahwa kerja-kerja pemerintah tidak benar. Ini sesuatu yang menyesatkan, bisa mengakibatkan perang saudara dan kekacauan.

“Maka, melalui kementerian dan beberapa lembaga ada yang bertugas menghalau informasi bohong tersebut dengan klarifikasi berdasarkan data. Misalnya sempat heboh isu tenaga kerja asing, melalui Kemenakertrans, langsung kita sampaikan klarifikasi berita tersebut, bahkan membuat meme yang dekat dengan media sosial. Isu-isu hoax yang disebarkan cenderung menyerang pemerintah,” paparnya.

Terlebih, menuju pesta demokrasi yang akan berlangsung tahun ini. Serangan hoax semakin gencar dilakukan, namun pemerintahan akan menanggapinya dengan bijak. “Hoax sering menyebar melalui aplikasi WhatsApp, dan meresahkan masyarakat. Budaya saring dan “stop di kita” harus disosialisasikan untuk menghindari meluasnya berita hoax ini. Setiap berita yang datang kepada kita, cukup hentikan saja di kita dan saring sesuai dengan data atau rujukan utama,” imbuhnya.

Media yang dipercaya dan terverifikasi menjadi dasar bagi masyarakat untuk mengetahui berita yang benar. Literasi menjadi penting diajarkan kepada masyarakat, khususnya generasi millenial agar teknologi digunakan secara bertanggungjawab. (Red-ms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here