GEMURA; Pemerintah Absen Diskusi Bahas Tiket Mahal

0
137

Kenaikan tarif transportasi udara menyebabkan efek domino bagi semua aspek kehidupan, diantaranya pariwisata dan ekonomi. Kebijakan tersebut menyebabkan dugaan adanya ketidaksinkronan antara 2 kementrian, yaitu Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pariwisata. Hal itu disampaikan oleh Yasir Arafat pada Diskusi Kebangsaan yang digelar oleh DPP GEMURA di Pempek Kita, Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Sabtu (2/3/2019).

Selaku ketua panitia, ia menyampaikan bahwa diskusi ini berdasarkan kegelisahan dari masyarakat yang berpotensi melakukan berbagai aktivitas, baik untuk bepergian ataupun bisnis. “Awalnya kami minta dari pihak pemerintah hadir menjadi narasumber untuk menjelaskan isu kenaikan tarif pesawat ini, namun hingga kemarin dikonfirmasi mereka tidak bisa hadir. Meski demikian, harapan kami narasumber yang ada saat ini akan mampu menjawab kegelisahan masyarakat,” ungkapnya.

Adapun narasumber yang hadir, diantaranya Tengku Irham Kelana (Pengamat Ekonomi UMKM), Andi Rahmah (Pengamat Transportasi), Chamad Hojin (Jurnalis) serta dipandu oleh Iwan Gunawan (Praktisi Hukum).

Andi Rahmah menyampaikan bahwa ada satu prinsip utama, yaitu pemerintah harus memberikan pilihan kepada masyarakat apakah mau naik transportasi udara, darat maupun laut. Selain itu, pemerintah harus menjamin keselamatan.

“Pemerintah perlu memperhatikan efek domino dari tarif pesawat yang naik. Dari data saja menyatakan bahwa industri ekspedisi sudah ada 4 perusahan yang gulung tikar. Di sektor pariwisata, imbasnya hingga ke pelaku industri ekonomi kecil dan souvenir karena penumpang harus berpikir tentang tarif bagasi,” ungkapnya.

Ia lalu menyarankan agar pemerintah membuat regulasi yang mengatur potensi keuntungan dari travel agen. “Karena yang paling diuntungkan dalam bisnis penerbangan adalah travel agen, khususnya yang berbasis online. Maskapai hanya menerima sedikit keuntungan,” imbuhnya. (Red-ms)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here