Penulis: Rio Emanuel

Belakangan terakhir ini suasana politik kian memanas. Berbagai cara dilakukan oleh politikus untuk mendapatkan suara terbanyak, salah satunya melalui agama. Kita telah melihat sendiri bagaimana perilaku beberapa kelompok yang mengatasnamakan agama sebagai senjata untuk kepentingan politiknya.

Emosi kita sangat mudah tersulut saat ada suatu masalah yang kerap kali dikaitkan dengan agama. Dan sangat wajar, sebab agama telah menjadi hal yang fundamental bagi manusia, layaknya pangan, sandang, dan papan.

Mungkin kita telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pelbagai macam aksi-aksi atau kecaman dari pihak-pihak tertentu dalam ranah agama, ribuan orang dengan senang hati memenuhi ibukota untuk menyatukan suara untuk membela apa yang menurut mereka benar, perlu digaris bawahi bahwa sesungguh yang mereka lakukan itu adalah benar.

Namun dibalik semua itu kita tidak bisa sepenuhnya menyatakan itu adalah murni kebenaran, sebab fasisme sendiri kini sudah mulai memasuki ranah agama. Mungkin di zaman dahulu fasisme terlihat dalam bentuk yang sangat menyeramkan, misalnya perang dunia. Namun diera kini fasisme bermetamorfosis bahkan menyerupai suatu keindahan, fasisme telah memasuki sudut keindahan yaitu agama.

Banyak sekali dari masyarakat kita yang belum menyadari seberapa pentingnya pengetahuan politik, diantara para fasis-fasis agama, sangat menguasai bidang agama dan politik.

Hal ini menjadi suatu yang meresahkan saat agama dibuat menjadi senjata politik dalam bentuk negative, tidak jarang aksi-aksi brutal dilakukan oleh mereka dengan mengatasnamakan agama, menindak suatu perbuatan yang diluar dari kepercayaan mereka adalah suatu perbuatan yang patut dilakukan, seperti peristiwa yang terjadi belakangan ini, misalnya persekusi seorang Biksu yang dilarang ibadah di daerah Tangerang, yang dalam faktanya ternyata mereka salah paham, ataupun pasal zina di RUU KUHP yang nantinya akan menjadi menjadi gerakan nyata yang dilakukan fasis agama.

Rasanya kita lupa akan penting sebuah toleransi dalam beragama, sebagaimana yang sudah tertulis dalam Sila ke satu “KeTuhanan Yang Maha Esa”, pertanyaannya adalah, mengapa kita mudah tersulut amarah. Kedua, mengapa kita harus bertindak brutal untuk membela agama kita. Dan ketiga bagaimana solusi untuk mengatasi ini.

Saya akan memulai menjawab soal yang pertama; seperti poin-poin yang ada diatas, kita mudah tersulut amarah, karena ini adalah masalah fundamental, agaknya sangat riskan bila hal ini diganggu misalnya oleh kepentingan politik, kita berbondong-bondong membawa nama agama, mengkafirkan orang lain dan mengutuk perbuatan orang lain, nampaknya perspektif kita salah besar. Saya rasa agama adalah sumber kedamaian, dan mungkin mereka yang berbuat demikian kurang memahami ilmu-ilmu penting dalam ber-agama, hanya menerima secara mentah-mentah (dogmatis), sangat dibutuhkan ke-insyafan dalam beragama sebagaimana dalam hal demokrasi.

Kedua; emosi semata. Kita sangat senang mengikuti apa yang orang lain lakukan, terlebih lagi jika dia seorang yang kita agungkan. Kekerasan yang kita lakukan hanya akan menimbulkan peperangan, bila peperangan itu terjadi tandanya keberhasilan taktik politik pemecah belah bagi segelintir dalang di baliknya berjalan dengan sukses. Kita memiliki alat yang sangat penting yakni Pancasila, yang didalamnya terkandung Bhinneka Tunggal Ika, ini adalah senjata yang berhasil mempersatukan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Lalu bila senjata ini berhasil dihancurkan, maka terpecah-belah kita semua. Dan hasilnya negara kita lebih mudah dikuasai oleh orang-orang yang hendak mengambil keuntungan. Inilah yang disebut dengan istilah “Politik Pecah Belah”

Dan ketiga. Solusi itu sendiri menurut penulis adalah, memperbanyak ilmu. Layaknya pepatah lama yang mengatakan “ilmu seperti padi, yang semakin berisi akan semakin merunduk”. Tapi ingat, kita juga harus menegakkan kepala dan melihat matahari, yang artinya ilmu yang kita ambil akan membuat kita semakin rendah hati dan juga harus membuat kita lebih baik dalam bertindak. Sebab, fasisme sendiri bisa berkembang biak karena adanya kondisi dan pembiaran.

Kesadaran akan hal ini sangat penting, karena fasisme dalam bentuk agama sangatlah sulit untuk dipadamkan. Mereka akan lebih mudah masuk lewat hal fundamental. Ingatlah sebagai umat yang beragama, agama adalah suatu jalan menuju pembebasan dan kedamaian, aksi brutal dan saling membenci sama sekali tidak akan menuju kepada pembebasan dan kedamaian. (Ed/Rizki Irwansyah)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here