Faktor Debat Dalam Pilgub & Pilpres

0
22

Oleh
Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Satu hari menjelang putaran pertama pilgub DKI saya nulis artikel berjudul “Ahok Tamat, Anies Berkibar, AHY Pemimpin Masa Depan”. Maksudnya AHY kalah, tapi punya peluang masa depan. Dan terbukti. Padahal, banyak pengamat membuat prediksi AHY kuda hitam. Akan masuk putaran kedua. Saat itu, elektabilitas AHY 47%. Jatuh dan menukik tajam jadi 17,2%. Kenapa? AHY “KO” saat debat. Orang bilang, belum punya jam terbang.

AHY menang di aspek psikologi. Muda dan ganteng. Generasi milenial suka. Emak-emak, apalagi. Secara sosiologis, AHY itu Jawa dan Silfie, cawagubnya, itu Betawi. Debat menggugah rasionalitas pemilih Jakarta. Faktor psikologis dan sosiologis AHY pun lumpuh.

90% pemilih Jakarta nonton debat. 80%-nya memilih cagub berbasis pada debat. Variable ini yang membuat pasangan Anies-Sandi diuntungkan. Soal debat, Anies punya skill. Bicaranya tertata, dan cermat memilih kata. Soal konsep, Anies seorang akademisi yang terbiasa teliti mengolah data. Mantan rektor pula.
Kepiawaian oral Anies menjadi magnet pemilih. Terbukti, Anies-Sandi jadi pemenang. Debat memang bukan satu-satunya variable, tapi sangat berpengaruh.

Seandaianya AHY cagub di luar Jakarta, potensi menang lebih besar. Faktor debat kecil pengaruhnya terhadap pilihan pilkada di daerah. Sebab, masyarakat di daerah tak serasional penduduk Jakarta yang kelas menengahnya lebih besar.

Bagaimana dengan pilpres 2019? Faktor debat akan sangat berpengaruh. Jagad Indonesia akan gaduh dengan opini debat. Di warung kopi, warteg, pasar-pasar, pos ronda, arisan ibu-ibu, ruang perkantoran, debat capres-cawapres akan jadi menu utama. Semua akan ngobrol tentang debat. Dari sinilah opini terbentuk.

Medsos akan banjir content debat pilpres. Para pendukung akan menjaga gairah untuk melanjutkan debat di medsos. Debat di medsos bisa lebih seru dari debat di tv.

KPU akan menyelenggarakan tiga kali debat. Disiarkan secara langsung oleh semua tv. Termasuk TVRI. Hampir semua rakyat di seluruh pelosok negeri nonton debat. Setidaknya, tahu ceritanya. Terima opini, dan terbuka untuk dipengaruhi. Lalu memilih atas dasar opini itu.

Debat pilpres dasyat impactnya. Akan sangat besar pengaruhnya membentuk opini dan pilihan pemilih.

Di pilpres 2019, ada beberapa bakal capres. Ada Jokowi, Prabowo, Gatot dan Anies Baswedan. Keempatnya berpeluang maju.

Jokowi punya tim kuat dari sisi konsep. Tapi, kemampuan oral Jokowi tak bagus. Boleh dibilang buruk. Di medsos, tak sedikit yang ngebully “produk oral” Jokowi. Malah ada yang memberi julukan “Mr Anu”. Karena itu, tagline “kerja kerja kerja” sangat tepat. Setidaknya efektif untuk menutupi kelemahan Jokowi di sisi oral.

Dalam konteks ini, tim istana perlu kerja keras untuk menyiapkan Jokowi agar lebih kapabel dan piawai dalam acara debat. Kalau lawannya Prabowo atau Gatot Nurmantyo, Jokowi masih bisa mengatasi. Keduanya tentara, terbiasa dengan konsep tertulis, formal, normatif dan terbata-bata. Terlalu hati-hati. Maklum, biasa jadi komandan upacara.

Tapi, jika lawan Jokowi adalah Anies, mantan ketua BEM UGM dan Rektor Universitas Paramadina, seorang peneliti dan akademisi yang terbiasa mengisi panggung internasional, Jokowi akan menghadapi pesaing yang terlalu tangguh. Anies adalah satu dari seratus ilmuan dunia. Tentu, tak diragukan kemampuannya dalam bicara.

Dalam debat akan terjadi adu konsep, adu argumentasi, dan tak kalah penting adu track record. Jokowi punya 66 janji yang sebagian besar tidak mampu dipenuhi. Ini akan menjadi peluang terjadinya pengadilan di panggung debat. Di tonton oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Belum lagi sejumlah kebijakan yang dianggap merugikan rakyat dan beberapa sikap blundernya. Ini menjadi celah yang tidak menguntungkan bagi Jokowi. Bisa menjadi “kartu AS” bagi lawan untuk menyerang dan mematikan Jokowi.

Dalam hal debat, Anies Baswedan adalah lawan yang potensial mematikan bagi Jokowi. Anies sudah teruji saat memenangkan pilgub DKI. Lawan Ahok lebih berat dari pada lawan Jokowi. Ahok lebih piawai dan percaya diri dalam debat dari pada Jokowi. Celah Jokowi juga lebih lebar untuk dibidik dari pada Ahok.

Dibanding Prabowo dan Gatot, Anies lebih diunggulkan. Mantan Mendikbud ini adalah sosok yang taktis dalam bicara. Piawai dalam mematikan argumen lawan. Soal debat, Anies paling diuntungkan. Dan kita bisa berimajinasi seandainya lawan debat Jokowi adalah Anies.

Jokowi dan tim istana sadar. Anies adalah ancaman nyata dan di depan mata. Logis jika berbagai upaya kabarnya dilakukan untuk menghadang Anies agar tak mendapatkan tiket nyapres.

Bagaimana wacana Anies jadi cawapres Prabowo? Berbagai survei menempatkan Anies sebagai “top score” cawapres, baik cawapres Prabowo maupun Jokowi. Meski demikian, daya dongkrak sebagai cawapres tak akan spektakuler. Fokus rakyat tetap pada capres. Sosok capres akan paling dominan jadi pertimbangan pemilih. Sehebat apapun Anies di panggung debat, jika ia cawapres, ia tak akan menjadi fokus pemilih menetukan pilihannya. Bukan pertimbangan utama. Berbeda jika Anies jadi capresnya.

Debat pasangan capres-cawapres akan sangat berpengaruh bagi pemilih menentukan pilihan dalam presiden. Adu konsep, Kehebatan oral dan kepiawaian membombardir “track record” akan menjadi faktor yang sangat menentukan dalam memenangkan hati rakyat Indonesia yang punya hak pilih di pilpres 2019.

Jakarta, 20/4/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here