Energi (Politik) Sumpah Pemuda

0
36

Oleh: Wahyu Minarno

Peneliti Sosial dan Politik, Wakil Ketua DPD KNPI DIY

Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa sejarah, ia adalah gerakan politik. Suatu gerakan yang terencana dengan sangat baik, dijalankan oleh generasi-gerasi terbaik. Di dalamnya mengalir energi besar sehingga mampu merekatkan, mengarahkan, dan menuntun setiap potensi dan kesadaran anak-anak muda menjadi salah satu gerakan politik terbesar di dunia.

Sumpah Pemuda telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju persatuan dan kemerdekaan.Demi mewujudkan cita-cita sebuah bangsa yang besar dan merdeka, begitu banyak energi disumbangkan oleh Sumpah Pemuda.

Mempersatukan perbedaan, membangun kesadaran politis secara kolektif, dan berjuang bersama mewujudkan mimpi besar kebangsaan, adalah energi besar yang masih bisa diserap dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mendesak bangsa kita hari ini.

Di tengah kondisi sosial dan politik tanah air yang kembali dihadapkan dengan berbagai persoalan, kita berharap dari momentum peringatan Sumpah Pemuda kali ini, ada aliran energi yang mampu menggerakkan kembali seluruh potensi yang ada.

Kesadaran Politis

Absennya kesadaran terhadap kondisi kehidupan sosial dan politik pada waktu itu, Sumpah Pemuda tidak akan pernah terjadi. Saat itu, kesadaran tentang siapa sebenarnya musuh bersama rakyat Indonesia juga turut menentukan perjuangan dalam mencapai kemerdekaan.

Masalah persatuan, kesamaan tujuan dan garis perjuangan, serta pembangunan politik, jika tidak ada kesadaran kolektif atas perkara-perkara tersebut, setiap upaya untuk membebaskan diri dari belenggu penjajahan hanya bersifat parsial. Sementara yang dihadapi adalah kekuatan besar dengan beragam strategi; pecah belah, tipu muslihat, dan agresi militer.

Kesadaran menjadi hal paling dasar yang harus dibangun. Termasuk kesadaran akan kebutuhan terhadap perubahan ke arah yang lebih baik; merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Hari ini, setelah 90 tahun sejak Sumpah Pemuda digerakkan, hal yang menjadi dasar dari gerakan tersebut kembali dibutuhkan oleh bangsa Indonesia.

Adalah kesadaran terhadap kondisi tanah air, kesadaran tentang common ennemy, dan kesadaran akan kebutuhan terhadap perubahan sosial dan politik. Tanpa adanya kesadaran-kesadaran tersebut, kita tidak akan pernah paham seperti apa sesungguhnya kondisi bangsa saat ini, kekuatan besar apa yang sedang dihadapi, dan kemana arah tujuan pembangunan bangsa.

Kesadaran kritis-kolektif akan mengubur dalam-dalam seluruh kesadaran palsu yang selama ini ditanamkan di hampir seluruh kepala rakyat Indonesia. Kita akan bangun dan terhenyak ketika secara terang benderang menyadari bahwa kehidupan rakyat telah dikepung oleh kekuatan-kekuatan ekstraktif seperti kapitalisme, korupsi dan oligarki.

Kekuatan-kekuatan tersebut telah menguasai hampir seluruh ruang kehidupan kita. Perselingkuhannya dengan kekuasaan ekonomi dan politik mendudukkan kita di posisi yang hampir sejajar dengan 90 tahun silam. Kesadaran politis demikian tentu sangat penting dalam kehidupan bernegara dan berdemokrasi.

Persatuan

Sebesar-besar kekuatan adalah persatuan. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, itulah yang diyakini oleh para penggerak Sumpah Pemuda sehingga mampu menyatukan Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, dan seluruh kekuatan-kekuatan pemuda lainnya ke dalam satu wadah perjuangan bersama.

Energi yang kemudian menjadi bagian dari sila di dalam Pancasila tersebut berhasil menegasi seluruh perbedaan yang ada, sekaligus mengafirmasi sebagai satu kesatuan sosio-ekologi yang menyejarah, Indonesia.

Energi itu jugalah yang kemudian mengikat kuat seluruh keragaman yang ada menjadi satu kekuatan utuh yang sulit untuk dihancurkan. Memang butuh proses dan perjuangan keras untuk menyatukan seluruh elemen dan pemikiran yang ada pada waktu itu. Rentang ruang yang begitu luas menuntut kesabaran dan ketelatenan untuk bisa merajut satu demi satu energi yang tersebar sehingga menjadi satu energi besar.

Kesadaran politis bahwa hanya dengan bersatu kekuatan penjajahan dapat dihancurkan, melebur seluruh identitas politik dan personalitas perjuangan ke dalam satu tujuan perjuangan politik bersama, kemerdekaan.

Optimisme

Dalam salah satu karyanya, H. Isa Anshari mengatakan, hanya api yang bisa menyalakan kayu, hanya kayu yang menyala yang bisa menyalakan kayu-kayu yang lain. Hanya yang haq yang bisa meyakinkan hati, hanya hati yang yakin yang bisa meyakinkan hati-hati yang lain.

Jika tidak ada keyakinan yang kuat di dalam hati para pemuda Indonesia bahwa apa yang diperjuangkan adalah kebenaran yang bersumber dari Kebenaran, maka akan sulit untuk meyakinkan seluruh rakyat Indonesia. Begitu juga dengan optimisme, jika tidak ada keyakinan yang kuat bahwa kemerdekaan bisa diraih, tidak ada totalitas di dalam perjuangan.

Sikap optimis tidak membuat para pemuda dan rakyat Indonesia mundur dalam menghadapi kekuatan penjajah. Optimisme memusatkan energi hanya kepada tujuan-tujuan pokok perjuangan. Ia menuntun untuk melewati masa-masa sulit penuh tekanan dengan inisiatif-inisiatif besar.

Pembangunan Politik

Meskipun kita telah cukup berhasil dalam menjalankan demokrasi (sekurang-kurangnya kita telah menjauh dari otoritarianisme total), namun realitas obyektif hari ini menunjukkan bahwa pondasi politik kita masih membutuhkan penguatan. Konsepsi, cara pandang dan praktek-praktek politik kita masih belum menunjukkan tingkat kematangan utuh dalam bernegara.

Negarawan dan intelektual cum aktivis yang sedikit di ruang politik, praktis memudahkan lahirnya pola-pola politik yang cenderung pragmatis bahkan predatoris.

Kesadaran politis, semangat persatuan dan optimisme adalah energi besar Sumpah Pemuda yang masih bisa kita serap. Belajar dari sejarah dan semangat gerakan politik 90 tahun yang lalu, diharapkan mampu menyerap kemudian mengalirkan energi ke seluruh urat nadi gerakan sosial dan politik di seluruh penjuru tanah air.

Kita tidak boleh menjadikan Sumpah Pemuda hanya sebagai peistiwa sejarah yang diperingati setahun sekali. Kita harus mendudukkannya sebagai prototipe ikhtiar pembangunan politik berorientasi keumatan, kerakyatan dan keindonesiaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here