Doa untuk Negeri Peringati Hari Kemerdekaan RI ke-73 untuk Jalin Persatuan, Kesatuan dan Jaga Keutuhan Bangsa

0
11

Dalam rangka memperingati HUT RI ke – 73 tahun, Komunitas Kebangsaan yang terdiri dari PAC GP Ansor Tangerang, Pengurus Cabang Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI) Kota Tangerang, Orang Muda Katolik (OMK) Gereja Santo Agustinus, dan Muda – Mudi Khonghucu melaksanakan acara “Doa untuk Negeri” yang digelar di Lapangan Mess PT. Kumafiber, Cikokol – Tangerang, pada Kamis (16/08/2018).

Beberapa tokoh agama turut hadir dalam acara ini diantaranya KH. Zuhri Yaqub (Islam), YM. Bhante Hitesaka (Buddha), Romo Stefanus Suwarno OSC (Katolik), WS. Rudi Gunawijaya (Khonghucu) dan Pdt. Doni Susanto, S.Th. (Kristen). “Doa untuk Negeri” dipilih sebagai tema kegiatan komunitas kebangsaan kali ini sebagai bentuk syukur atas nikmat kemerdekaan yang telah Tuhan berikan bagi bangsa ini Serta menguatkan persatuan dan kesatuan dalam merawat kebhinekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan pendahulu kita.

Jajat Sudrajat (Ketua PAC GP Ansor Tangerang) dalam sambutannya menegaskan bahwa, “kemajemukan bangsa Indonesia hendaklah dipandang sebagai sebuah anugrah dan bukan alat pemecah belah. Meski berbeda seyogyanya itu tidak menghalangi kita untuk dapat hidup berdampingan dengan damai, memberikan sumbangsih bagi bangsa ini sesuai dengan bidang kita masing-masing sebagaimana para Pahlawan telah memberikan segenap jiwa raga untuk meraih kemerdekaan bagi bangsa Indonesia”.

“Tanpa ada rasa persatuan, rasa kebersamaan dan kesadaran kita bersama, maka tidak akan ada acara Doa untuk Negeri pada malam ini.  Kita rangkul 5 agama pada malam ini untuk menyatukan semuanya dalam satu wadah agar menjadi satu negeri Indonesia”, jelas Ketua RW 02 bapak M. Jauharudin dalam sambutannya.

Ketua Cabang HIKMAHBUDHI Kota Tangerang mengatakan kita sebagai putra putri bangsa indonesia jangan sekali-sekali melupakan sejarah (Jas Merah – Bung Karno), karena kita dapat bergandengan tangan rukun saat ini adalah atas perjuangan para pendiri bangsa, pahlawan dan pejuang kita terdahulu.

“Kegiatan hari ini merupakan salah satu bentuk rasa syukur kami sebagai putra-putri bangsa indonesia atas kemerdekaan yang telah diraih dan kita rasakan bersama, serta mempererat tali persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan, karena keberagaman adalah warna kehidupan yang saling melengkapi satu sama lain”, papar Hermanto.

PDt. Doni Susanto, S.Th. mewakili umat Kristen menyampaikan bahwa kita tidak dapat memilih di suku, bangsa, negara, ras mana kita dapat dilahirkan. Ketika kita dapat membangun dalam perbedaan maka kita akan dapat membangun bangsa ini menjadi lebih maju. Di tempat ini di Tangerang kita dapat menunjukan pada dunia bahwa dalam perbedaan kita semua adalah satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kami di Nasrani ada kewajiban dimana tempat kami tinggal harus dapat sama-sama membangun negara tercinta ini. Mari di tempat ini kita bersama-sama menyatakan bahwa kita adalah bangsa Indonesia. Kita bangun fondasi yang lebih kuat dengan bergandengan tangan agar Indonesia dapat menjadi lebih maju, dan acara seperti ini harus terus kita terus adakan agar keutuhan bangsa dapat terus terjaga”, tegas PDt. Doni Susanto.STh.

Sementara mewakili tokoh agama Budha yang disampaikan oleh YM. Bhante Hitesaka mengatakan kita ketahui bersama bahwa sejarah bangsa Indonesia dulu dipecah belah dengan politik adu domba hingga sampai saat ini masih banyak yang ingin memecah belah kita semua untuk kepentingan tertentu.

“Kita selayaknya membangun erat tali silahturahmi dan terus mendukung acara-acara seperti ini dimana para pemuka agama dapat duduk bersama dalam satu kebersamaan agar terjalin tali silahturahmi. Saat ini kita harus dapat mensyukuri bahwa kita dapat rukun dalam keberagaman”, ujar YM. Bhante Hitesaka.

Selanjutnya mewakili umat Katolik, Romo Stefanus Suwarno OSC mengatakan meski kita berbeda-beda kita harus tetap satu bangsa Indonesia, kita harus bersyukur atas dasar Negara yang telah dibuat oleh pendahulu kita.

“Tentunya saat ini kita mempunyai tanggung jawab agar Negara Indonesia tetap satu, adil, makmur dan sejahtera. Kita harus dapat berkontribusi untuk bangsa Indonesia agar terus maju, dan hari ini kita bersama memaknai kemerdekaan Indonesia itu dengan mengamalkan pancasila, terlihat walaupun semua yang hadir malam ini berbeda tapi dapat berkumpul bersama disini”, ungkap Romo Stefanus Suwarno OSC.

“Sedangkan mewakili umat Khonghucu, WS. Rudi Gunawijaya menyampaikan pesannya bahwa Kita adalah orang Indonesia yang kebetulan lahir dengan agama, suku, ras dan bahasa yang berbeda. Jadi kita sebagai bangsa Indonesia harus bersatu dalam kebhinekaan walapun berbeda agama, suku, ras dan bahasa”, tegasnya.

Dan terakhir mewakili umat Islam KH. Zuhri Yaqub menyampaikan bagaimana kita mengisi kemerdekaan Indonesia dimana saat ini bangsa kita menghadapi dua persoalan yaitu persoalan kebangsaan dan persoalan keumatan. Dalam hal kebangsaan semua ingin menang sendiri, merasa mereka paling baik dan rakyat menjadi pertaruhan. Sedangkan dalam hal keumatan para tokoh agama tidak dapat memberikan contoh yang baik bagi umatnya.

“Penguatan unsur keimanan menjadi unsur yang sangat kuat dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena semakin kuat keyakinan dan iman maka kita dapat saling menghargai satu sama lain. Kedalam wujudnya keyakinan dan keluar wujudnya kemanusiaan, bagaimana dengan keyakinan kita dapat membawa kemanusiaan yang damai antar sesama manusia walaupun kita berbeda dan hidup akan sangat bermakna karena ada harmoni diantara kita”, papar KH. Zuhri Yaqub.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here