Dilema Gatot Diantara Jokowi & Habib Rizieq

0
69

Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Gatot Nurmantyo. Nama yang tak asing bagi rakyat Indonesia. Mantan panglima TNI yang baru saja pensiun ini menjadi fenomenal. Pernyataan dan sikapnya sering mengagetkan. Tak mudah ditebak. Langkahnya “unpredictable”. Apalagi bagi orang yang awam politik.

Saat Jokowi mengalami situasi tak harmonis dengan “ulama”, Gatot tampil. Ambil momentum. Buat pernyataan “seolah-olah” mendukung ulama. Benarkah?

Beberapa pidato Gatot memang memukau. Apalagi ketika Gatot menghubungkan sejarah awal tentara dengan peran ulama. Sejumlah pihak mulai mengapresiasi. Lalu, muncul image Gatot seolah-olah berada di barisan ulama 212. Kok seolah-olah? Iya. Pro kontra mulai muncul. Sedang santer opini berbeda di kalangan beberapa ulama.

Sejumlah ulama, khususnya GNPF dan aktifis 212 tak percaya. Mereka menganggap posisi Gatot berseberangan dengan mereka. Kenapa? Pertama, Gatot dianggap sebagai mendukung Jokowi. Bukankah sudah seharusnya Panglima TNI mendukung presiden? Betul.

Tapi, pernyataan Gatot di depan para kader Nasdem menegaskan dukungannya kepada Jokowi untuk dua periode. Sementara ulama menyerukan “2019 Ganti Presiden”.

Dilihat dari diksinya, ini dianggap sebagai pernyataan politik. Bukan pernyataan seorang panglima TNI. Masuk wilayah pilpres. Ada apa? Begitulah kira-kira yang ada di benak para ulama GNPF. Pernyataan ini yang membuat sejumlah ulama 212 mulai mempertanyakan posisi Gatot.

Pernyataan Gatot seolah mengkonfirmasi rumor selama ini bahwa ia sedang “diinginkan atau ingin” menjadi cawapres Jokowi. Berita tentang Gatot masuk nominasi sebagai cawapres Jokowi sempat juga diulas di majalah tempo.

Kedua, tanggal 30 november, dua hari menjelang Aksi Bela Islam 212, Gatot dicurigai oleh sejumlah ulama telah berada di balik “Aksi Kebhinekaan”. Langkah Gatot ini dianggap oleh sejumlah ulama sebagai upaya “penggembosan” aksi 212. Benarkah?

Sejumlah pernyataan Gatot di media, juga dianggap menyindir, bahkan dicurigai telah mendiskriditkan ulama GNPF. Apakah betul demikian? Masih perlu diklarifikasi dan dikonfirmasi kepada kedua belah pihak.

Apakah perlu? Sangat perlu jika Gatot masih berminat untuk nyapres. Apalagi, selain Anies Baswedan (Gubernur DkI) yang menjadi ancaman serius Jokowi, Gatot juga punya elektabilitas yang cukup potensial untuk melawan Jokowi di pilpres 2019.

Tidak sedikit ulama yang mencurigai Gatot bermain di dua kaki. Hal biasa dan wajar dalam politik. Maksudnya, membuka jendela jika sewaktu-waktu angin istana berhembus, tapi juga mendesign pernyataan yang bisa dikesankan mendukung ulama. Ini langkah strategis dan cerdas. Sebab, akan membuka dua peluang sekaligus. Istana dan umat Islam.

Peta mulai berubah ketika Gatot dicopot dari panglima TNI. Beberapa bulan sebelum pensiun. Mendadak lagi. Sejak itu, pintu istana mulai menyempit. Kendati, tim yang dibentuk PDIP tetap memberi peluang buat Gatot untuk dinominasikan menjadi cawapres Jokowi. Tapi, kecil kemungkinan akan terjadi. Sebab, masih ada Jenderal Budi Gunawan yang lebih kuat pengaruhnya, baik kepada istana maupun PDIP.

Saat pintu istana mulai remang-remang, pilihan politik Gatot bergeser. Strategi berubah. Gatot mulai intens mendekati umat Islam. Pelan-pelan mulai memperjelas posisinya. Sejumlah pernyataan Gatot di media akhir-akhir ini memberi sinyal pergeseran politik itu. Gatot ingin dapat gerbong dan suara umat Islam. Pilihan yang diyakini paling potensial saat ini.

Tapi, langkah Gatot tak mulus. Jejak Gatot belum terlupakan. Menyisakan tanda tanya yang harus dijawab. Kabarnya, sejumlah ulama mulai menuntut Gatot untuk mengklarifikasi pernyataan dan sikapnya selama ini. Terutama terkait dukungannya kepada Jokowi dua periode. Para ulama juga mempertanyakan peran Gatot dalam “Aksi Kebhinekaan” yang dicurigai sebagai penggembosan aksi 212.

Selain itu, kedekatan Gatot dengan sejumlah taipan, khususnya Tomy Winata (TW) berpotensi menambah kecurigaan baru, mengingat TW adalah pihak yang juga dianggap sangat dekat dan punya hubungan khusus dengan Ahok. Mantan gubernur DKI yang terseret kasus penistaan agama.

Tiga kecurigaan di atas masuk kategori “hot issue”. Lumayan berat. Berisiko secara politik jika tidak segera diklarifikasi. Bisa jadi bom waktu buat Gatot.

Pendaftaran pilpres masih lama. 4-5 bulan lagi. Masih ada waktu bagi Gatot untuk pertama, mengklarifikasi semua berita di atas. Gatot bisa menjelaskan serta memberi alasan rasional dan meyakinkan kepada para ulama GNPF, khususnya Habib Rizieq sebagai icon gerakan.

Diakui atau tidak, Habib Rizieq sedang berlimpah simpati dari umat Islam. Kedua, Gatot mesti mendapatkan pernyataan positif, syukur-syukur dukungan dari para ulama GNPF di bawah asuhan Habib Rizieq untuk maju di pilpres 2019.

Jika Gatot berhasil mendapatkan dukungan para ulama GNPF, khususnya Habib Rizieq, langkah Gatot nyapres akan berpeluang. Tapi, jika Gatot tak berhasil, apalagi jika para ulama GNPF, khususnya Habib Rizieq membuat pernyataan tidak mendukung Gatot, atau malah melawan Gatot, maka akan menjadi kendala serius bagi langkah politik Gatot di 2019.

Bukankah tiket nyapres itu ada di parpol? Bukan di GNPF/212? Apalagi Habib Rizieq? Betul. Tapi parpol, khususnya koalisi oposisi, tak akan mengambil langkah politik yang berseberangan dengan umat mainsteam. Terlalu berisiko. Sebab, GNPF yang dikomandoi oleh Habib Rizieq sedang berada di puncak pengaruhnya terhadap umat Islam yang punya hak mayoritas suara di negeri ini.

Posisioning Gatot ke partai oposisi dan umat Islam “mau tidak mau” mesti mendapat restu para ulama, terutama ulama GNPF. Jika parpol kasih tiket ke Gatot dan para ulama GNPF menolak, kantong umat Islam akan sulit dimasuki.

Mungkinkah para ulama GNPF akan memberi rekomendasi kepada Gatot? Tak ada yang tak mungkin dalam politik. Hanya saja, catatan sejarah hubungan Gatot dengan tokoh dan ulama GNPF telah meninggalkan jejak politik yang sedikit ternoda dan tak mudah untuk dilupakan. Gatot dan timnya butuh keluar banyak keringat serta ikhtiar lebih keras lagi untuk memperbaiki hubungan itu.

Saat ini, langkah Gatot akan ditentukan tidak lagi oleh istana. Sebab, Gatot telah “gagal” menembus brigade istana yang berisi sejumlah tokoh yang berseberngan dengannya. Pilihan yang tersisa adalah pertama, partai oposisi. Kedua, poros ketiga.

Mendapatkan tiket partai oposisi mesti melalui restu dan apresiasi para ulama, terutama ulama GNPF, yang saat ini punya pengaruh terhadap suara umat Islam. Partai-partai oposisi seperti Gerindra dan PKS khususnya, akan sangat memperhitungkan GNPF, khususnya Habib Rizieq.

Jika langkah ke parpol oposisi gagal, Gatot punya celah di koalisi parpol poros ketiga yang mungkin saja bisa terbentuk oleh Demokrat, PKB dan PAN. Meski demikian, poros ketiga ini sedang mengalami situasi surut sejak kekalahan Ahok di pilgub DKI. Apalagi, hampir pasti poros ketiga tak akan mendapat dukungan para ulama. Maka, ini akan semakin berat.

Nasib Gatot di pilpres 2019 akan sangat ditentukan oleh kemampuannya meyakinkan umat melalui pernyataan dukungan para ulama, khususnya GNPF dibawah kepemimpinan Habib Rizieq. Atau, Jokowi membuka kembali peluang Gatot untuk menjadi cawapresnya.

Sejarah Indonesia masih berproses. Tak ada yang mustahil. Kita tunggu takdir apa yang akan dihadiahkan Tuhan untuk Gatot. Diterima Habib Rizieq, atau dilamar kembali oleh Jokowi. Atau tidak dua-duanya.

Jakarta, 3 April 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here