Derita Wanita di Tengah Gaung Emansipasi

0
500

Oleh:

Rohyati,S.Pd

(Pemerhati perempuan dan sosial)

Ditengah arus feminisme yang kian hari kian menggema, ada fenomena yang justru membuat hati terpana dan tak bisa berkata- kata. Bagaimana tidak, Wanita dengan potensinya yang luar biasa dengan sentuhan lembutnya mampu mencetak generasi cemerlang dan istimewa.

Namun, harus ikut tergerus dengan arus globalisasi atas nama pemberdayaan wanita untuk meraih kesetaraan. Bukanya bahagia dan sejahtera didapatkan namun sedikit demi sedikit menuju kejurang yang menyesatkan dan menghancurkan.

Wanita dituntut untuk bergelut dengan berbagai peran yang dilakoninya. Bukan hanya sekedar sebagai ibu dari anak anaknya tapi juga dengan peran lain yang mengejarnya.

Yah, Wanita sekarang diarahkan agar lebih punya peran diranah publik untuk menunjukkan eksistensinya. Bekerja membanting tulang untuk mengejar karir yang tak ayal anak-anak dan keluarga terabaikan. Semuanya demi profesi dan emansipasi.

Disaat pemberdayaan wanita semakin merata, ada harga mahal yang harus dibayar. Anak anak yang kurang kasih sayang dan didikan orang tua menjadi generasi yang lara. Disekolah banyak membuat ulah, dimasyarakat hanya menjadi sampah, karena moral yang goyah dan tak terarah.

Kesemuanya sebenarnya menjadi sinyal bagi para wanita untuk kembali memahami dan menjalani peran utamanya bagi generasi.

Belum cukupkah fakta ditengah-tengah kita. Berapa anak yang menjadi korban pelecehan dan pemerkosaan diusianya yang masih balita. Miris, lalu dimana peran wanita yang mestinya mendampingi tumbuh kembang anaknya, mengenalkan sedikit kata dan fakta untuk mengenal dunia. Harus berujung duka karena ibunda jauh di hati dan dimata.

Kita tengok kearah anak yang lebih dewasa yang tak punya bekal cukup agama dan akhirnya mencoba miras , seks bebas, dan lenih parah narkoba.Disaat wanita sibuk dengan pekerjaanya kehancuran keluarga menanti didepan mata. Ketika persoalan menempa pertengkaran demi pertengkaran berujung retak dan hancurnya keluarga

Wahai wanita, sungguh islam telah memuliakan wanita lebih dari yang dibayangkan. Tidak hanya kebahagiaan , kesejahteraan bahkan kehormatan dan kemulianya terjamin.

Dalam Islam Pemberdayaan perempuan bukan sembarang pemberdayaan, namun pemberdayaanya berdasarkan pada Islam yang memiliki visi : “ Menjadi perempuan unggul sebagai ummun wa robbatul bait ( ibu dan pengatur rumah tangga), sebagi mitra laki-laki demi melahirkan generasi cerdas taqwa pejuang islam dan kesakinahan keluarga.”

Adapun misinya adalah: mengokohkan ketahanan keluarga muslim yang melahirkan generasi berkualitas,membangun muslimah berkarakter kuat dalam amar maruf nahi mungkar. Wanita diberdayakan secara maksimal dalam peranya sebagai ibu sebagai pendidik generasi dan pencetak generasi pemimpin.

Disamping itu juga dioptimalkan dalam peran politik perempuan dalam keluarganya dalam kesakinahan serta menjadi muslimah yang cerdas politik menjadi panutan umat.

Peran wanita sebagai pengatur rumah tangga maka dialah yang memiliki otoritas penuh demi kelangsungan rumahtangganya. Rosulullah Saw bersabda :’Wanita adalah penghulu dirumahnya, wanita adalah penggembala dirumah suaminya dan dia akan diminta pertanggungan jawab tentang gembalanya”.

Baik dan buruknya keadaan rumah tangga tergantung baik atau tidaknya dia memyelesaikan tugas tersebut. Adapun dalam kehidupan umum islam menetapkan wanita untuk melakun interaksi dalam kehidupan masyarakat yakni berdakwah melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Dakwah ini bukanlah kewajiban laki-laki saja tetapi wanita juga wajib melaksanakanya sebagaimana QS. Ali imron 104. Disinilah islam mendudukkan peran dan fungsi perempuan ,demikian juga ada saatnya posisi perempuan sama dihadapan Allah SWT kaitanya dengan hal-hal yang memang ditetapkan untuk pria dan wanita.

Jika peran yang ditetapkan dalam islam dilaksanakan dengan baik diiringi peran Negara yang menerapkan islam dalam aspek kenegaraan , kemasyarakatan maka nestapa wanita tidak akan sedalam saat ini karena tugas pokok wanita dijalankan dengan baik tidak dialihkan kepada sesuatu yang mubah namun selangkah demi selangkah memalingkan dari tugas pokoknya.

Negara akan menjamin para wanita ditanggung oleh suaminya, keluarganya hingga Negara itu sendiri dengan mekanisme syara’. Masihkah ragu dengan islam dengan seperangkat hukumnya yang memuliakan wanita dan kehormatan wanita.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here