Caketum PB : HMI Harus Jadi Poros Utama Pemikiran & Gerakan Mahasiswa Islam Yang Moderat 

0
96

Asep Sholahuddin

Ketua PB HMI Bidang Pembinaan Anggota 2016- 2018

Calon Ketum PB HMI 2018 – 2020

Usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 5 Februari 2018 ini –menurut perhitungan gerak edar Matahari- memasuki umur 71 tahun. Sudah menjadi kebiasaan, selalu ada refleksi dan evaluasi atas perjalanan yang telah dilalui untuk kemudian diproyeksikan gerak langkah strategi perjuangan untuk kebaikan ke depannya.

Ada beberapa catatan yang perlu kita evaluasi bersama. Pertama, HMI pada tingkat struktur kekuasaan pusat kurang memiliki strategi yang terukur dan terarah dalam mengimplementasi usaha-usaha untuk mewujudkan tujuannya sehingga kehadirannya tidak dirasakan bagi anggota HMI di akar rumput.

Kedua, telah terjadi kegagapan nalar intelektual dalam menangkap perkembangan dan tantangan zaman, sehingga HMI tidak mampu untuk memaksimalkan peran dan fungsinya untuk memberikan jawaban-jawaban yang solutif atas berbagai persoalan yang melanda umat dan bangsa pada saat ini.

Ketiga, HMI terlalu disibukkan dengan berbagai persoalan internal dan domestik sehingga energinya habis terkuras hanya untuk menyelesaikan persoalan domestik tersebut. Bagi penulis, itulah ketiga pokok permasalahan mendasar yang patut untuk kita renungkan bersama, untuk kemudian kita berkomitmen melakukan ikhtiar perbaikan untuk kebaikan bersama.

Tahun 2018 di bulan Februari ini adalah kesempatan emas bagi HMI untuk melakukan perbaikan sistem organisasi. Mengingat di saat bersamaan, di bulan ini juga akan digelar Kongres HMI ke-30 di Kota Ambon. Setidaknya ada dua hal mendasar yang harus dilakukan oleh para delegasi utusan kongres, yaitu merumuskan program kerja nasional yang strategis dengan baik dan benar; dan memilih ketua umum yang dinilai berintegritas dan amanah yang dapat mengeksekusi setiap program-program yang diputuskan oleh kongres tersebut.

Kongres HMI jangan hanya dipahami sebagai arena kontestasi untuk perebutan kekuasaan semata, melainkan di dalamnya harus ada suatu hal lain yang lebih prinsipil berupa kontribusi ide dan gagasan dari setiap individu yang terlibat di dalamnya. Jika tidak demikian, maka kongres tidak lebih bagaikan pemilihan jasad yang tidak memiliki ruh sebagai daya penggerak kehidupan.

Komitmen semacam itu harus kita pegang teguh bersama untuk perbaikan kualitas kongres nanti. Mengingat sebelumnya —dari kongres ke kongres— kita mengalami pengalaman buruk: kongres berlarut-larut dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama; forum kongres berlangsung tidak kondusif karena ada pihak-pihak yang membuat keributan baik di dalam maupun di luar arena kongres; dan delegasi utusan kongres dari masing-masing cabang sebagian besar terlalu asyik bermain di luar arena sehingga mereka abai terhadap kewajibannya dalam memberikan kontribusi ide dan gagasan di dalam forum resmi kongres.

Ikhtiar Perbaikan Himpunan

Kehadiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di tengah-tengah kehidupan Indonesia merdeka adalah untuk membangun peradaban bangsa. Prof. Azyumardi Azra menyebut, membangun sebuah peradaban tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan intelektualitas dan profesionalitas, tetapi harus diletakkan di atas landasan tumpu nilai-nilai agung kemanusiaan-keagamaan, seperti moral, spiritual dan budaya. (Agus Salim Sitompul, 2002: xx)

Ada beberapa hal yang harus kita perbaiki secara bersama untuk kebaikan HMI ke depannya, yaitu: Pertama, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus kembali mengambil peran sentral sebagai organisasi perjuangan yang menjadi poros utama pemikiran dan gerakan mahasiswa Islam yang moderat serta mampu menjadi problem solverdalam menjawab tantangan zaman; Kedua, HMI harus senantiasa memelihara dan mengembangkan tradisi dan budaya intelektual.

Ketiga, ikhtiar mewujudkan karakter jiwa kepemimpinan kader Himpunan Mahasiswa Islam yang akademis, intelektual dan profesional; dan keempat, membangun tata kelola Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dengan baik dan profesional, sehingga dapat menjadi sebuah institusi yang solid, bertanggung jawab, bersih dan transfaran serta dapat dirasakan keberadaannya bagi segenap keluarga besar himpunan di semua tingkatan.

Jadi itulah catatan, harapan dan ikhtiar kita dalam merespon dua agenda besar himpunan di bulan ini, yaitu Milad HMI ke-71 dan Kongres HMI ke-30. Semoga apa yang kita ikhtiarkan dapat memberikan nilai perbaikan untuk kemajuan himpunan yang kita cintai ini.****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here