Caketum : MENEGUHKAN VITALITAS HMI DALAM SETIAP ZAMAN

0
70

By

Asep Sholahuddin

Ketua Bidang Pembinaan Anggota PB HMI Periode 2016-2018

Bakal Calon Ketua Umum PB HMI 2018 – 2020

Kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah sesuatu yang patut dibanggakan. Organisasi yang lahir pada 5 Februari 1947 ini berpijak pada landasan spiritual keagamaan yakni agama Islam. HMI lahir dan menjadi medium untuk menegakkan spirit Keislaman di tengah-tengah kondisi keberagamaan yang minus penghayatan.

Perasaan minder, tidak percaya diri dan terkikisnya kebanggaan sebagai muslim – utamanya di kalangan mahasiswa, dimana organisasi ini menyasar– masih menjadi problema tersendiri.
Salah satu yang diperjuangkan organisasi mahasiswa Islam tertua ini waktu itu, pertama-tama, adalah membangun dan meneguhkan pemahaman dan penghayatan agama.

Fase awal ini juga dikenal (bila kita membaca sejarah HMI) sebagai ‘fase konsolidasi spiritual’. Mengapa fase ini penting? Praktik-praktik keagamaan yang kosong dari kedalaman pemahaman dan penghayatan itu hanya akan melahirkan persoalan. Setidak-tidaknya persoalan itu tergambarkan melalui fenomena ‘kejumudan’ dan ‘kemandegan’ yang melanda sebagian besar umat Islam Indonesia.

Mereka beragama. Tetapi keberagamaan mereka seolah berhenti di tataran ibadah belaka. Ada keengganan (atau mungkin juga kesulitan) menerjemahkan spirit atau cita-cita keagamaan kedalam sesuatu yang memiliki nilai guna (fungsional) bagi dirinya secara khusus atau kepada masyarakat secara umum.

Itu sebabnya, kondisi ini melahirkan – meminjam bahasa keren kekinian – ‘kegalauan’ di kalangan pemikir keagamaan. Di sebuah Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta, Lafran Pane merasakan kondisi ‘kegalauan’ ini.

Tak tinggal diam, dia berdiskusi dengan tokoh-tokoh penting yang saat itu menjadi pengajar di STI seperti Abdul Kahar Muzakkir, M. Rasjidi, Fathurrahman Kafrawi, Kasman Singodimedjo, dan Prawoto Mangkusasmito. Dia menyerap berbagai pemikiran mereka.

Melalui dorongan batin, tergugah oleh gerakan-gerakan intelektual muslim sebelum-sebelumnya serta ketidakpuasan-ketidakpuasan lainnya atas organisasi lokal yang tidak memenuhi aspirasi-aspirasi mahasiswa muslim, Pane mendirikan HMI. Selanjutnya begini Yudi Latif melukiskan ‘pertobatan batin’ Lafran Pane.

“Pertobatan batin ini memberinya dorongan psikologis untuk membentuk sebuah jaringan intelegensia muda Islam yang baru. Dia terilhami oleh hasrat intelektual Muslim generasi tua dalam mendirikan organisasi mahasiswa Islam yang –seperti JIB dan SIS di masa lalu— akan berfungsi sebagai lahan persemaian bagi para pemimpin Islam masa depan.

Alasan lainnya ialah kegagalan organisasi-organisasi mahasiswa lokal yang ada, seperti Persjarikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY, berdiri 1946) dan Sarikat Mahasiswa Indonesia Solo (SMI berdiri 1946) untuk memenuhi aspirasi-aspirasi mahasiswa Islam.

Dalam kompetisinya dengan organisasi-organisasi mahasiswa sekular untuk menarik para anggota, HMI meniru JIB dan SIS dalam kerangka islamisasi kaum terpelajar melalui modernisasi institusi-institusi Islam.” (Yudi Latif, 2012: 461-462)
Pemikiran Lafran Pane dan arah tujuan HMI, dilukiskan oleh Agus Sitompul, sebagai dua hal yang tak bisa dipisahkan. Misalnya dia mengatakan:

“Sesungguhnya, tahun-tahun permulaan riwayat HMI adalah hampir identik dengan kehidupan Lafran Pane sendiri. Karena dialah yang punya andil terbanyak pada mulabuka lahirnya HMI kalau tidak boleh kita katakan sebagai tokoh pendiri utamanya.”

Dengan kata lain, Lafran Pane adalah satu icon kecil sebuah kegelisahan seorang muslim yang sesungguhnya juga mencerminkan kegelisahan besar kaum muslim Indonesia lainnya. HMI, yang dia dan kawan-kawannya pelopori, adalah salah satu komitmen dan ikhtiar untuk menggugah spirit keislaman agar tidak terpinggirkan oleh budaya-budaya yang ‘sekular’.

HMI adalah jawaban agar spirit agama Islam tidak terpinggirkan di dalam ruang-ruang publik kehidupan bangsa Indonesia. Bukankah ironis bila bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam tetapi tersudutkan dan kehilangan kebanggaannya disebabkan arus kebudayaan yang lain?

Itu sebabnya, tujuan HMI pertama-tama adalah memperjuangkan Islam dan Nasionalisme. HMI menegaskan hubungan keindonesiaan dan keislaman sebagai dua hal yang saling berkait berkelindan, yaitu untuk membela negara Republik Indonesia dan menaikkan harkat Indonesia; dan untuk menjaga dan memajukan agama Islam.

‘Menjaga dan memajukan agama Islam’ tentu yang dimaksud adalah menggugah penghayatan keagamaan, mendorong spirit yang terkandung dalam Islam dan terutama membedah dan mempelajari semangat Islam yang sejalan dengan semangat keindonesiaan. HMI melakukan perekrutan kader-kader dan mengajak mereka berdiskusi dan menggali pemikiran-pemikiran Islam.

Pada tahun 1959, HMI mulai mengadakan latihan kader secara sistematis yang hingga saat ini masih eksis menjadi ‘mata air’ perkaderan.
Sampai di sini, kian terang terlihat dan matang arah perjuangan HMI untuk menumbuhkan semangat memajukan Keislaman di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tradisi intelektual mulai digalakkan melalui penggalian atas kajian keislaman, pemikiran-pemikiran tokoh bangsa, kajian sosial, budaya, politik, hukum serta beragam teori-teori pengetahuan lainnya. Tujuannya untuk menggugah semangat berislam, menggugah penghayatan umat Islam bahwa ajaran agama Islam senafas dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan keindonesiaan.

Kontekstualisasi Perjuangan HMI
Apakah HMI otomatis memberikan jawaban yang sepenuhnya memuaskan atas beragam tuntutan umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum? Tentu saja tidak.

Namun demikian, keberadaan HMI hingga saat ini membuktikan bahwa organisasi ini belum ‘bubar’. Organisasi ini belum menyerah oleh berbagai penilaian negatif. HMI pernah memiliki masa yang gemilang. HMI melahirkan tokoh-tokoh penting, cendekiawan-cendekiawan muslim, yang berkontribusi besar bagi Keislaman dan Keindonesiaan. Itu setidaknya yang menjadi alasan mengapa HMI harus dipertahankan.

HMI masih bergelut dengan wacana keilmuan. Tentu spirit yang dibangun haruslah lebih kontekstual. Setiap masa ada tantangan yang berbeda-beda. Itulah yang perlu diidentifikasi oleh kader-kader HMI. Sehingga organisasi ini bisa lebih peka merespon tantangan-tantangan yang bersifat kekinian.

Kritik atas HMI tentu saja terus diterima sebagai bahan untuk melakukan koreksi. Tetapi kritik yang menempatkan HMI kini melulu dalam satu perbandingan dengan HMI di masa lalu tak selalu relevan. Tantangan hari ini jauh lebih kompleks dari apa yang bisa dihadapi oleh masa lalu.

Bukan untuk mendiskreditkan masa lalu melainkan untuk menumbuhkan optimisme masa kini dan masa depan agar tidak selalu dibayang-bayangi ketakutan atau kebanggaan atas capaian masa lalu.

Sekali lagi yang dibutuhkan oleh kader-kader HMI adalah kegigihan diri untuk terus berjuang dalam ranah ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Diskusi-diskusi di HMI haruslah diorientasikan lebih kuat untuk menjadi jembatan kesenjangan antara agama dan capaian ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kaderisasi –yang merupakan investasi kemajuan sumber daya manusia— haruslah mampu merespon kebutuhan-kebutuhan masyarakat di saat ini dan masa depan.

Di usianya yang sudah menginjak 71 tahun (05 Februari 2018), HMI harus tetap optimis serta konsisten di jalan perjuangannya dalam mengembangkan nilai-nilai luhur agama Islam yang disinergikan dengan konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sembari melakukan ijtihad pemikiran untuk dapat memberikan jawaban atas berbagai problem yang sedang melanda umat dan bangsa ini.
Selamat milad Himpunan Mahasiswa Islam yang ke-71

Yakin Usaha Sampai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here