Bursah: Hoax Dimana-mana, Revolusi Mental Harus Terus Digelorakan

0
444

Teknologi informasi semakin pesat, penggunaan smartphone oleh masyarakat juga semakin banyak. Hal itu berimbas pada penyebaran Informasi yang mudah dan massif. Tidak jarang, informasi bohong menjadi ancaman bagi pembangunan bangsa.

“Revolusi mental sebenarnya menjadi strategi kebudayaan yang dimiliki oleh pemerintah dalam menyikapi semua hal, termasuk massifnya hoax,” ungkap Bursah Zarnubi, Ketua Umum PGK.

Hal itu disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh DPP GEMURA di Fakultas Kopi, Setia Budi, Jakarta pada Sabtu (16/2/2019). Diskusi bertajuk, “Hoax Dimana-mana, Apakah Revolusi Mental Gagal?”, dengan narasumber Bursah Zarnubi (Ketua Umum PGK), Agustinus Rahardjo (Deputi IV KSP), Bagiono Prabowo (Praktisi Hukum, BPI), Indrawati Rahmadani (Akademisi).

Bursah menyampaikan, bahwa revolusi mental sebenarnya sudah digelorakan oleh Bung Karno pada 1957. “Ada tiga aspek yang disebut oleh Bung Karno agar bangsa menjadi kuat. Pertama, ekonomi harus mandiri, politik yang berdaulat dan berkepribadian di bidang sosial-budaya. Ketiganya harus dikuatkan agar tidak mudah terpecah, namun hoax ini jadi ancaman bagi persatuan bangsa,” imbuh Bursah.

Perkembangan teknologi ini mengancam revolusi mental. Hanya dengan jari setiap orang bisa menyebarkan berita hoax. Salah satu cara mengantisipasi adalah terus-menerus mbangun karakter bangsa melalui revolusi mental.

“Saya yakin pemerintah telah berupaya mewujudkan revolusi mental itu melalui pemerataan pembangunan, penguasaan potensi negara misalnya 51 persen saham Freeport. Adapun yang menilai bahwa revolusi mental gagal itulah yang belum memahami hakikat revolusi mental,” paparnya.

Bursah mengatakan, di Era Industri 4.0 yang kesemuanya mengarah pada teknologi, harus disambut baik oleh Millenial. Bursah Millenial harus melihat itu sebagai peluang, disamping juga menumbuhkan mental literasi di setiap lini kehidupan. Pendidikan menjadi faktor penting untuk mendukung semuanya.

“Hoax ini berawal dari kurangnya literasi dari masyarakat, mereka mudah menyebarkan berita bohong tanpa menyaringnya. Kita sadari bahwa literasi kita masih lemah. Di Eropa dan Amerika, warganya membaca sekitar 4 hingga 5 jam sehari. Di Indonesia, masyarakat hanya 30 menit hingga sejam saja dalam membaca literatur. Jika ingin menuju peradaban modern, pemerintah harus menggarisbawahinya agar ditangani,” harapnya. (Red-ms)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here