Berpotensi Ada Isu Sara, Para Santri Diingatkan Agar Jadi Pemilih Cerdas Dalam Pilkada 2018

0
90

MMOR.NEWS – Pada tahun 2018 ini, masyarakat Indonesia telah memasuki tahun politik. Agenda politik yang paling terdekat adalah Pilkada Serentak 2018 yang akan digelar dibeberapa daerah. Pilkada Serentak sering menimbulkan konflik horizontal, yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Demikian, hal itu disampaikan Puslitbang Kementerian Agama Republik Indonesia, Jamil Wahab, dalam acara dialog terbuka, yang digelar oleh Ikatan Alumni Pesantren Darul Arafah, yang bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin, Parung Bogor Jawa Barat.

“Pilkada serentak rawan konflik, yang menjadi pemicu, salah satunya karena isu-isu sara.” kata Jamil Wahab dalam acara diskusi terbuka.

Padahal, menurut Jamil, praktek demokrasi di Indonesia, banyak dikagumi oleh negara-negara lain. Hal ini kata Jamil, lantaran setiap momentum Pilkada, bahkan Pilpres, tingkat konfliknya bisa disebut minim, meskipun, dalam kenyataannta tetap ada.

“Negara lain mengagumi demokrasi Indonesia, yang telah sukses melaksanakan Pilkada dan Pilpres, dengan tingkat konflik yang minim, negara kita beraneka ragam, dan ini harus kita jaga,” kata Puslitbang Kementerian Agama, Jamil Wahab.

Acara diskusi terbuka tersebut dihadiri akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Badrudin, Panwascam Parung, Ahmad Asy’ari HB, Puslitbang Kemenag, Abdul Jamil, dan PPK Ciseeng, Komarudin.

Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Badruddin di tempat yang sama mengatakan, diskusi yang melibatkan banyak pelajar dan santri itu diharapkan bisa menjadi nilai positif. Ia juga menjelaskan, sebagai pelajar yang mendapatkan pendidikan lebih, seorang santri seharusnya bisa lebih bijak dalam memilih pemimpin.

Menurut Badruddin, seorang santri dalam menentukan dan memilih pemimpin, jangan hanya karena pertimbangan politis saja. Ia juga mengingatkan kepada seluruh santri, agar tidak termakan dengan isu-isu sara.

“Para santri, sudah seharusnya bisa lebih bijak dalam memilih pemimpin, bukan hanya semata pertimbangan politik apalagi termakan isu sara. Dikatakan dalam Alquran bahwa, prinsip pemimpin yang baik adalah Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah.” tegas Badruddin kepada para peserta dialog terbuka.

Senada, Ketua PPK Ciseeng Komarudin mengatakan, dalam perhelatan Pilkada, posisi Pondok Pesantren menjadi tempat-tempat paling seksi untuk di datangi oleh para calon kepala daerah.

Oleh karena itu, Komarudin mengingatkan agar, agar para santri berhati-hati dalam menentukan para calon kepala daerah. “Para santri ini memilih dengan hati nurani, bukan karena mengikuti arahan ustadz atau pun pimpinan pesantren.” kata Komarudin.

Sementara itu, Panitia Pengawas Pemilu tingkat Kecamatan, Ahmad Asy’ari menegaskan, dalam Pilkada Serentak 2018 itu, terdapat tiga kategori diantaranya para pemilih pemula, pensiunan TNI/Polri, dan yang sudah menikah.

Sementara itu, kata Asy’ari, untuk para santri yang sudah berusia 17 tahun, itu sudah tergolong sebagai pemilih pemula. “Ada tiga kategori yang dikatakan pemilih pemula, pertama sudah berusia 17 tahun, kedua purnawirawan TNI/POLRI dan ketiga, sudah atau pernah menikah,” kata Ahmad Asy’ari dalam keterangan tertulisnya, seperti diterima redaksi. (Haji Merah).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here