Bendera HTI: Hoax

0
54

Oleh: Yunita Afifah
(Koordinator Back to Muslim Identity Community Samarinda)

Belum hilang dari ingatan umat islam terkait peristiwa kasus penistaan agama di tahun 2016, kembali umat ini di sulut amarahnya dengan peristiwa pembakaran bendera yang diakatakan sebagai bendera HTI oleh sejumlah oknum yang mengaku anggota banser tepat di hari santri nasional, Garut – Jawa Barat (22/10/2018).

Peristiwa itu pun memunculkan gejolak kemarahan ditubuh umat islam yang merasa terusik dengan kejadian tersebut. Ini merupakan suatu kewajaran dan panggilan iman, sebab siapa yang tidak marah jika inti dari ajaran islam tersebut di perlakukan demikian. Respond kegeraman umat islam pun tidak hanya datang dari Indonesia, sebagian umat islam di negeri-negeri kaum muslimin mengutuk keras perbuatan tersebut, maka cukuplah ini menjadi bukti bahwa memang bendera tersebut memang milik umat islam yang tersebar di seluruh dunia.

Bukan tanpa alasan, pembakaran tersebut dilakukan karena dianggap sebagai bendera suatu ormas yaitu HTI. Padahal jelas, HTI tidak memiliki bendera dan yang dibakar itu adalah bendera ar-rayah sebagaimana klarifikasi Jubir HTI Ustadz Ismail Yusanto. Begitu juga siapapun yang menyaksikan video pembakaran bendera tersebut, tampak yang dibakar adalah bendera ar-rayah berwarna hitam bertuliskan kalimat tauhid bukan tulisan HTI.

Selama ini yang dilakukan oleh HTI bukan mengklaim bahwa bendera al-liwa dan ar-rayah sebagai bendera organisasi. Memang yang tampil saat ini bendera tauhid seolah milik HTI dikarenakan selalu dipasang dalam sejumlah event, agenda akbar, masiroh dan kegiatan dakwahnya. Namun hal itu dilakukan dalam rangka syiar untuk memperkenalkan kepada umat agar tidak phobia dan ekstrim terhadap symbol-simbol agama mereka termasuk al-liwa dan ar-rayah. Justru sangat terbantukan apabila ada ormas-ormas islam maupun kaum muslimin yang juga menggunakan bendera tersebut bahkan seharusnya bukan hanya HTI yang mengibarkan bendera tersebut tetapi seluruh umat islam, karena sejatinya bendera tersebut adalah milih umat islam.

Dengan demikian, pembakaran bendera yang dilakukan oleh oknum yang mengaku banser jelas bukan sebagai bendera ormas HTI. Bendera tersebut adalah panji Rasulullah saw, ar-rayah sebagaimana diterangkan dalam hadis:
“Panji (ar-rayah) Rasulullah saw berwarna hitam dan benderanya berwarna putih (liwa’), tertulis padanya: Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah” [HR. Thabrani]; “Rayah Rasulullah saw berwarna hitam dan liwa’ nya berwarna putih.

Tertulis disitu Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah” [HR Abu Syaikh al-ashbahani dalam akhlaq an-Nabiy saw]; “Telah dinyatakan bahwa Rasulullah saw memiliki sebuah panji yang bernama al-uqab. Panji itu berwarna hitam dan berbentuk persegi empat” [Fath al-Bariy: VI/127}

Bahkan siapapun dia dari kalangan umat ini sudah seharusnya memuliakan kalimat tauhid tersbut, sebab kalimat itulah yang membedakan antara iman dan kafir, menjadi syarat utama jika menginginkan surga, bahkan ingin mati dalam kondisi mengucap kalimat tersebut. Sebagaimana hadis Rasulullah saw: “Siapa saja yang akhir ucapannya (sebelum wafat) adalah Laa Ilaaha Illallaah maka dia pasti masuk surge” [HR Abu Dawud]

Maka siapapun yang melihat dengan iman, saat ini adalah waktu dimana Allah swt berencana mengenalkan panji Rasulullah kepada seluruh umat islam melalui peristiwa 22/10/2018 di Garut tersebut. Kejadian ini justru menaruh simpati besar dan membangkitkan semangat jihad umat islam untuk bersatu dan membanggakan bendera tersebut. Sehingga tuduhan bahwa bendera tersebut adalah bendera HTI adalah hoax yang justru terbantahkan dengan sendirinya. Sebab bukan hanya aktivis HTI yang berekasi mengecam tindakan tersebut bahkan seluruh elemen umat ini bisa dipastikan tidak terima atas tindakan tersebut dengan alasan apapun.

Alhasil, perlawanan dijalan dakwah ini tidak ada yang kita dapat kecuali lelah dalam kegagalan. Berbagai cara termasuk propaganda kepada penganut dan ajarannya merupakan hal yang ditempuh oleh para musuh-musuh islam karena satu alasan yaitu menolak kebenaran. Jika dahulu di masa Rasulullah saw permusuhan terhadap dakwah dilakukan oleh kalangan nonmuslim.

Maka saat ini tidak berbeda jauh, musuh-musuh islam tidak ingin kehabisan energi dan waktu sehingga menggunakan tangan-tangan umat ini untuk menghalangi dan menolak dakwah islam. Jadi, umat islam juga perlu waspada terhadap adu domba umat yang sedang di rancang untuk menghalangi persatuan dan kebangkitan islam. Allahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here