Anis Matta dan Terorisme Global

0
146

Dilihat dari percakapan di medsos, ternyata yang diserempet isu terorisme bukan hanya PKS. PAN dan Gerindra juga dibawa-bawa. Ketiganya dituding sebagai partai yang menentang pengesahan RUU Anti Terorisme. RUU itu sudah dua tahun “mangkrak” di DPR.

Jelas sudah isu ini sebuah framing. Ada upaya “memelintir” isu terorisme, menjadi isu pertarungan politik domestik. Gerindra, PAN, dan PKS merupakan partai yang digadang-gadang oleh kalangan umat Islam untuk segera berkoalisi mengusung capres lawan Jokowi pada pilpres 2019

Oleh : Hersubeno Arief.

Faizal Assegaf seorang aktivis dengan banyak wajah, melaporkan sejumlah petinggi PKS ke polisi. Mereka dituduh melakukan pencemaran nama baik dan mendukung aksi terorisme. Tuduhan yang cukup serius karena membawa-bawa isu terorisme, menyusul serangkaian aksi bom bunuh diri Surabaya.

Ada empat nama yang dilaporkan Faizal. Presiden PKS M Sohibul Imam, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, dan yang cukup mengejutkan nama Anis Matta masuk dalam daftar. Anis disebut-sebut pernah membuat sebuah puisi yang “memuja” Usamah Bin Ladin.

Dilihat dari percakapan di medsos, ternyata yang diserempet isu terorisme bukan hanya PKS. PAN dan Gerindra juga dibawa-bawa. Ketiganya dituding sebagai partai yang menentang pengesahan RUU Anti Terorisme. RUU itu sudah dua tahun “mangkrak” di DPR.

Tak lama setelah bom bunuh diri di Surabaya, Presiden Jokowi mengancam akan menerbitkan Perppu Anti Terorisme, bila DPR tidak segera mengesahkan RUU Anti Terorisme. Pernyataan Jokowi diperkuat oleh sejumlah tokoh yang menuding DPR sebagai biang keladi. Akibatnya pemerintah tidak bisa segera bertindak tegas menangani aksi terorisme.

Tudingan Jokowi ini segera dimentahkan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. RUU tersebut, kata politisi Golkar itu, sebenarnya sudah 99% rampung. Hambatannya justru datang dari kubu pemerintah sendiri. Mereka belum sepakat soal definisi terorisme dan keterlibatan TNI.

Jelas sudah isu ini sebuah framing. Ada upaya “memelintir” isu terorisme, menjadi isu pertarungan politik domestik. Gerindra, PAN, dan PKS merupakan partai yang digadang-gadang oleh kalangan umat Islam untuk segera berkoalisi mengusung capres lawan Jokowi pada pilpres 2019.

Dari framing yang dibangun, setidaknya kita membaca dua tujuan dari perancang isu tersebut. Pertama, memperkuat image dan persepsi umat Islam identik dengan terorisme. Kedua, Gerindra, PAN, dan PKS adalah partai pendukung terorisme. Masyarakat dihadapkan pada dua pilihan, mau pilih Jokowi yang sangat serius memberantas terorisme, atau capres yang akan diusung oleh Gerindra, PAN, dan PKS. Koalisi partai yang mendukung aksi terorisme.

Khusus untuk Anis Matta sebagai salah satu capres yang diusung PKS, ada semacam “bukti kuat” bahwa dia mendukung aksi terorisme, karena pernah membuat ode, puisi pujian untuk Usamah Bin Ladin (1981).

Jualan ini nampaknya tak cukup laku di media. Selain karena figur Faizal Assegaf yang tidak kredibel, juga fakta yang coba dibangun, basis argumentasinya sangat lemah. Namun isu ini bergulir menjadi wacana yang menarik ketika CNN Indonesia, Rabu (23/5) secara khusus mengundang Anis Matta. Melalui “Kupas Kandidat” CNN mengubah program tersebut menjadi “panggung pengadilan” bagi Anis Matta untuk menjawab tuduhan mendukung terorisme.

Isu security menjadi isu politik

Berbeda dengan kebanyakan politisi yang melihat aksi bom bunuh diri sebagai pengalihan isu, Anis Matta justru mengajak kita untuk melihat aksi bom tersebut dalam perspektif peta geopolitik global. Dengan mereduksi terorisme menjadi isu domestik, menyebabkan kita menjadi gagal memahami akar persoalan, apalagi menyelesaikannya. “Terorisme tidak akan bisa kita atasi bila kita mengubah isu security menjadi isu politik,” tegasnya.

Bagi Anis Matta, rangkaian aksi terorisme di Suriah, Filipina, Indonesia, dan jangan kaget bila kemudian muncul juga di Rohingya, merupakan residu dari era Perang Dingin dan kelanjutannya. Pertarungan antara Blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat (AS), melawan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet. Sementara soal Rohingya kemungkinan akan muncul sebagai antisipasi atas kehadiran Cina sebagai adidaya baru dunia.

Pengaruh Cina di Myanmar belakangan ini semakin menguat. Seperti halnya di berbagai belahan dunia lainnya, pengaruh Cina di Myanmar masuk melalui celah investasi seperti di Afrika, Srilanka, Maldive, Malaysia, dan tentu saja Indonesia.

Pada kasus Usamah Bin Ladin yang kemudian membangun jaringan Al Qaidah, tak lepas dari pendudukan Afghanistan oleh Uni Soviet. AS yang kalah dalam perang Vietnam, mengubah Afghanistan menjadi Vietnam bagi Soviet. Mereka melatih sejumlah militan dari negara-negara Islam, termasuk dari Indonesia, menjadi pasukan Mujahidien melawan Soviet.

Setelah Soviet bercokol selama sembilan tahun di Afghanistan, mereka mengalami kekalahan dan harus menarik diri pada tahun 1988. Tak lama kemudian Soviet bubar (1991). Namun persaingan antara kedua blok masih terus berlanjut. Rusia muncul dari puing-puing reruntuhan Soviet, bangkit menjadi kekuatan baru.

Bersama Iran yang mendukung rezim Bashar Al Assad di Suriah, Rusia memerangi kelompok ISIS dan kembali berhadapan dengan Blok AS, yang didukung negara-negara Barat, dan Arab.

Seperti diakui oleh mantan Menlu AS Hillary Clinton di depan kongres, pemerintah AS lah yang membentuk Al Qaidah maupun ISIS di Suriah.

Jadi semua ini erat kaitannya peta geopolitik global. Akar masalahnya terletak pada persoalan perebutan pengaruh dan sumber daya ekonomi. Jangan lupa satu lagi yang sangat penting, hal itu berkaitan dengan industri senjata dan mesin perang yang menjadi salah satu penopang politik dan ekonomi AS.

Rusia dan Cina juga punya kepentingan besar dalam industri senjata. Sebuah lembaga riset intelijen berbasis di London Confilct Armanent Research (CAR) memaparkan data bahwa sebagian besar senjata ISIS berasal dari Cina, Rusia, dan Eropa Timur. Suplai senjata dari Cina bahkan mencapai 43.5%. Namun CAR juga melaporkan bahwa sebagian besar senjata yang digunakan ISIS berasal dari AS, dan Arab Saudi.

Awal April lalu ketika berhasil menaklukkan Povinsi Deir ez-Zour, pasukan Suriah menemukan gudang senjata yang dipenuhi persenjataan dan amunisi buatan Israel dan negara-negara pakta pertahan Atlantik Utara (NATO). Fakta-fakta tersebut menunjukkan banyak kepentingan yang bermain dibalik munculnya kelompok teror seperti ISIS.

Lantas apa hubungan dengan aksi bom di bunuh diri di Indonesia? Seperti dijelaskan oleh polisi, kelompok yang beraksi di Surabaya adalah Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Kelompok pimpinan Aman Abdurahman ini merupakan sayap ISIS di Indonesia. Mereka berbaiat kepada pimpinan ISIS Abu Bakr Al Baghdadi. Sementara untuk Bom Bali (2002), Bom di Kedubes Australia, Jakarta (2004), dan bom di JW Marriott, Jakarta (2009) dilakukan oleh kelompok Jamaah Islamiyah (JI) yang berkiblat ke Al Qaedah.

Jadi melihat serangkaian aksi teror yang merebak di Indonesia, baik oleh jaringan JI, maupun sekarang oleh JAD tidak bisa dilepaskan dari pertarungan kepentingan politik global. Indonesia hanya menuai residu dari banyaknya warga Indonesia yang ikut berjihad di Afghanistan, Filipina, maupun Suriah.

Mengapa Indonesia menjadi sasaran terorisme, tentu tak lepas dari posisi Indonesia di peta geopolitik global dan potensinya menjadi salah satu kekuatan politik global dunia. Sebagai negara muslim terbesar di dunia, pertumbuhan Indonesia harus dihambat, dan terorisme menjadi alat yang sangat efektif.

Dengan memahami perspektif geopolitik global, masalah terorisme di Indonesia, jelas tidak ada kaitannya dengan masalah agama. Indonesia hanya menjadi pion dalam pertarungan besar negara adi daya. Sayangnya karena kepentingan politik jangka pendek, kita sering gagal memahaminya.

Kita seharusnya bisa belajar dari pengalaman buruk di Timor Timur (Timtim). AS yang saat itu khawatir Timtim menjadi Kuba di Asia Tenggara mendorong Indonesia masuk ke Timtim. Tanggal 5 Desember 1975 Presiden AS Gerald Ford melakukan kunjungan singkat selama 20 jam ke Jakarta bertemu dengan Presiden Soeharto. Dua Hari kemudian pada tanggal 7 Desember 1975 pasukan Indonesia menyerbu Timtim dengan suplai perlengkapan senjata dari AS dan Australia.

Setelah era Perang Dingin berakhir dan peta geopolitik global berubah, Indonesia menjadi korban. AS dan negara-negara sekutunya menuding Indonesia sebagai negara agresor dan melakukan sejumlah pelanggaran HAM di Timtim. Melalui sebuah referendum (1999) Indonesia keluar dari Timtim sebagai bangsa yang kalah. end

Anis Matta dan Terorisme Global

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here