ANDAI “DILAN” BERTEMU MUHAMMAD NAJEM

1
278

Mariyatul Qibtiyah, S.Pd
Ibu rumah tangga dan pemerhati politik

Ah, siapa sih yang tak kenal Dilan? Pemuda tampan, pintar, dan asik itu? Kisah romantisnya bersama Milea telah menyedot perhatian sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Mulai dari remaja hingga orang dewasa. Bahkan, Presiden Jokowi pun baper dibuatnya. Sampai-sampai masyarakat lupa kalau harga kebutuhan pokok semakin membumbung tinggi. Mereka lupa kalau BBM naik, tarif PDAM juga naik.

Dilan telah membuat mereka lupa dengan segala kesusahan itu. Atau, mungkin mereka yang menikmati film Dilan itu memang tidak pernah terkena dampak dari semua itu ya? Atau, mereka yang menonton film Dilan itu karena ingin melupakan sejenak kesusahan-kesusahan mereka?

Ah, hanya mereka dan Allah yang tahu.
Eh, tapi sebentar. Jadi, Dilan itu film? Ya, memang. Dilan itu hanya tokoh utama dari sebuah film yang diangkat dari novelnya Pidie Baiq.

Tapi karena begitu gencarnya promosi yang dilakukan, perhatian masyarakat pun tertuju padanya. Bahkan Dilan pun menjadi idola. Filmnya itu, hingga awal Maret ini telah ditonton oleh 6.243.000 orang (Filmindonesia.or.id). Wow, luar biasa!

Sebenarnya, fakta seperti itu sungguh memprihatinkan. Bayangkan saja, kita hidup di dunia ini hanya sementara. Kalau kita mengidolakan Dilan, kemudian kita jadikan panutan, terus kita realisasikan dalam kehidupan nyata, rugilah kita. Kenapa?

Karena kita hanya menyia-nyiakan waktu kita untuk sesuatu yang sia-sia. “Buang mase,” kata Upin Ipin. Padahal, kita diciptakan oleh Allah itu untuk beribadah, sebagai bekal di akhirat. “Dunia itu ladang akhirat,” begitu sabda Rasulullah SAW.

Jadi, kalau hanya menyibukkan diri dengan pacaran atau ikut geng motor, bagaimana kita bisa menabung amal untuk akhirat? Beda Dilan, beda pula Muhammad Najem.

Seorang remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Ghouta Timur, Suriah. Setiap hari dia harus menyaksikan bagaimana Rusia dan pasukan pemerintah Suriah membombardir Ghouta Timur.

Menurut kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, korban yang tewas akibat serangan yang dilancarkan oleh Bashar Assad sejak 18 Februari itu telah mencapai hampir 600 orang warga sipil. Seperempat dari mereka adalah anak-anak (detikNews, 1 Maret 2018).

Banyaknya korban disebabkan oleh karena perang ini tidak mengindahkan “aturan perang internasional”. Mereka menyerang tanpa pandang bulu hingga ke pemukiman warga sipil.

Namun, dunia hanya diam. PBB pun tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan, resolusi Dewan Keamanan PBB nomer 2401 pun tidak berhasil diimplementasikan. Bantuan pangan dan obat-obatan pun sering terkendala.

Menyaksikan kondisi yang seperti itulah, akhirnya Muhammad Najem beraksi. Diunggahnya video-video yang menunjukkan betapa hebatnya serangan yang dilakukan terhadap Ghouta Timur. Dia ingin dunia mengetahui apa yang sedang terjadi di sana.

Ia ingin dunia bertindak untuk menghentikan serangan-serangan itu. Namun, apalah daya, dunia dan khususnya sebagian besar kaum nuslimin dan para pemimpinnya masih tertidur. Mereka masih terlena dengan mimpi-mimpi indah tentang Dilan dan kisah-kisah dari roman-roman picisan.

Semoga mereka segera bangun dari mimpi itu dan menyadari bahwa mereka telah berdarah-darah. Semoga mereka segera bangkit untuk medirikan kembali rumah mereka yang telah hancur serta mengembalikan kemulian dan kejayaan mereka.

Bjn, 8 Maret 2018

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here