Aktivis 98 Solusi Untuk Kabinet Jokowi

0
53

Sejumlah Aktivis 98 menggelar Refleksi 20 Tahun Reformasi sekaligus diskusi bersama dengan berkumpul dan berembuk untuk suatu perubahan Indonesia yang lebih baik kedepan, Senin (21/5/2018) di Gedung Juang Derap Merdeka 100%, Jl. Danau Toba Kav. 145 Bendungan Hilir.

Berdasarkan hasil kajian secara marathon yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Aktivis 98 dari tanggal 18 Mei sampai dengan 21 mei 2018 dalam evaluasi 20 tahun reformasi maka menjadi penegasan dalam garis perjuangan atau keseriusan untuk suatu perubahan Indonesia.

Adapun acara ini dihadiri oleh beberapa aktivis, tokoh pelopor 98 yaitu : Aznil (KAMJAK), Wahab Talaohu (Famred), Sayed Junaidi Rizaldi/Pak Cik (FKSMJ), Sarbini (FKSMJ), Abdullah Taruna (Famred), Bambang Dwi Djanuarto (FORKOT/ISTN), Syaiful Afriady/Unpak Bogor, Robby Siahaan (Famred), Rusmarni Rusli (PIJAR INDONESIA), Yudi Bonar Sinaga, Rahmatullah (UNIT FKSMJ), Lutfi Nasution, Anthony Danar (FKSMJ), Muhhamad Fachry (FKSMJ), Ali Sutra, Heriyono (FKSMJ), Agust Q SH (KB UI), Bambang Sri Pujo (FORKOT/Unkris), Ikravany Hilman (KBUI), Arie Purnama/Birong (FAMRED), Hengky Irawan (FORKOT), Denny Agiel P (FKSMJ/YAI), Ubeidillah Badrun (FKSMJ), Suryo AB (FKSMJ), Bayquni (FKSMJ), Marlin Dinamikanto (KDP), Jeffri Parlindungan (FKSMJ), Harie Setiawan/Buluk (FORKOT/IISIP), Bobby Sanwani (FKSMJ/STTI), Junius Satrianto (KM Mpu Tantular), dan Gunawan (FKSMJ/USNI).

Dalam forum itu dijelaskan bahwa aktivis 98 adalah Pelaku Sejarah yang memiliki tanggung jawab perubahan pada Republik ini dari sistem Orba yang Otoriter, Penindas, korup, komprador, kepentingan kapitalis dan militeristik kemudian dijatuhkan oleh Mahasiswa pada tanggal 21 Mei 1998 untuk menjadi sistem yang dapat mensejahterakan kehidupan bangsa dan berkeadilan.

Dari fakta sejarah tersebut menjadi dasar para aktivis 98 di usia 20 tahun perjalanan reformasi terpanggil bukan lagi sebagai gerakan moral tetapi menjadi gerakan politik untuk merebut kekuasaan dalam mewujudkan cita-cita luhur Reformasi yang diperjuangkan dengan nyawa, darah dan airmata.

Aktivis 98 menegaskan sistem demokrasi yang diperjuangkan para aktivis 98 telah dikhianati oleh elit yang berkuasa pasca tumbangnya Orde Baru sehingga terjadi penyimpangan perjuangan Reformasi yang di cita-citakan. Diantara Pengkhianatan itu adalah masih meluasnya praktek Korupsi, dan Demokrasi berbiaya tinggi dalam Pemilu/Pilkada/Pilpres.

Gerakan politik merebut kekuasaan yang dilakukan aktivis 98 sebagai upaya Menyelamatkan Negara Republik Indonesia dari Kebobrokan pengelolaan Negara dan ancaman Kehancuran Negara.

Aktivis 98 harus terus menyatukan diri membangun kekuatan untuk berkuasa dan tidak pasrah dengan keadaan sebagaimana kekuatan dibangun pada tahun 1998 dulu.

Aznil Tan mengungkapkan, aktivis 98 memang sudah saatnya dan sepantasnya aktivis 98 mendapat kesempatan untuk menata bangsa ini.

“Karena aktivis 98 memahami betul permasalahan negara sebab mereka adalah orang Idiologis dan layak mendapat kursi menteri dan kabinet karena harus diakui mereka terlahir dari perjuangan dengan pengorbanan air mata, darah, dan sampai jatuh korban,” ucap Aznil Tan.

Aznil yang juga ketua Merdeka 100 Persen (DERAP) ini menilai, ada dua faktor yang mendorong aktivis 98 layak menempati kursi menteri di kabinet.

Aktivis 98, terang Aznil, merupakan orang-orang yang lahir dari perjuangan serta mengerti betul permasalah bangsa yang tengah dihadapi sekarang.

“Fakta sejarah bahwa terbentuknya pemerintahan sekarang adalah hasil gerakan reformasi. Terlebih saat ini aktivis 98 berumur 40 tahunan, bukan suatu hal yang aneh ketika aktivis 98 duduk sebagai menteri,”-tutupnya. (Red: Rizki Irwansyah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here