Acara Kaos Gratis & Musik Warga Banyuwangi Tolak Tambang Emas Tumpang Pitu Di Intimidasi

0
130

Mmorr.news – Acara sablon kaos gratis dan musik akustik terkait penolakan warga terhadap keberadaan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Banyuwangi kini mendapatkan intimidasi.

Acara yang rencananya akan dilaksanakan di Pantai Mustika, Dusun Pancer, Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran pada Minggu (4/2) secara tiba-tiba dilarang oleh Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Wisata setempat.

Hal tersebut disampaikan oleh Zainal Arifin, selaku Ketua Panitia acara tersebut kepada terbit.co. Saat dikonfirmasi, Ari panggilan akrabnya mengaku heran dengan sikap Sundik, selaku Ketua Pokmas Wisata. Padahal, tiga hari sebelumnya, yang bersangkutan tersebut sudah memberikan ijin acara.

“Yang jelas, sebelum kami mengadakan acara itu, sudah ijin sama ketua Pokmas Wisata. Udah tiga hari lebih kami ijin. Tahu-tahu, tadi malam (Sabtu/3/2), ada anggotanya bilang tidak mengijinkan,” ujarnya.

Namun Ari melihat, hal tersebut hanya kabar biasa dan juga tidak disampaikan langsung oleh Sundik sebagai ketua Pokmas Wisata kepada pihaknya. Mengingat juga, karena persiapan sudah matang serta sound system dan penyanyi juga sudah siap, akhirnya pihaknya meluncur ke Pancer pada Minggu (4/2) siang pukul 12.00 WIB.

Setibanya di Pancer, Ari kemudian konfirmasi ke Sundik langsung dengan kabar yang semalam didengarnya tersebut. Jawabannya, Sundik tidak mengijinkan acara sablon dan musik akustik tersebut berlangsung karena ada tekanan dari pihak kepolisian dan pihak pemerintahan (Lurah,red).

“Tapi saat kami konfirmasi langsung ke Polsek, tidak ada melarang acara, begitu juga kata Lurah yang bilang tidak ada pelarangan,” herannya.

Alasan lain yang disampaikan Sundik, kegiatan yang dilakukan oleh warga ini mengandung unsur provokasi. “Mana ada unsur provokasi?. Kegiatan ini adalah kegiatan sablon gratis diiringi musik akustik agar yang datang tidak boring” sindirnya.

Atas pelarangan yang disampaikan oleh Sundik, pada akhirnya acara tersebut batal dilaksanakan. Ari melihat, tindakan yang dilakukan oleh Sundik merupakan salah satu bentuk dari intimidasi terhadap gerakan warga atas penolakan tambang emas di Tumpang Pitu.

Bila tidak dilarang, acara tersebut akan diisi dengan acara sablon gratis, musik dan pada malam hari akan di gelar layar tancap. Sekadar diketahui juga, Pantai Mustika dipilih atas keinginan warga Pancer untuk mengetahui dampak pertambangan emas tersebut.

Selain itu, posisi Pantai Mustika berhadapan langsung dengan Gunung Tumpang Pitu, yang berjarak kurang lebih 3km dengan Gunung Tumpang Pitu, lokasi pertambangan emas.

Padahal pantai yang dikenal dengan pasir putih dan ombaknya ini pernah digadang-gadang pemerintah Banyuwangi sabagai salah satu wisata andalan mendampingi pantai Pulau Merah. Sebab, pantai ini masih satu garis pantai dengan pantai Pulau Merah.

“Pelarangan ini jelas salah satu bentuk intimidasi, jelas ini kan gak ada unsur politis atau komersil, jadi enggak masuk akal jika kegiatan ini dibuat ribet,” lanjut Ari.

Menariknya, meski acara kali ini dilarang, pihaknya bersama dengan warga Pancer tidak akan berhenti dan justru tambah semangat untuk menggelar acara kembali dengan membuat kegiatan serupa lagi.

“Sekarang saya lihat, temen-temen di Pancer justru mempertanyakan mengapa acara ini dilarang. Ya jadinya, mereka semakin ingin tahu, terutama terkait penolakan tambang emas di Tumpang Pitu. Ke depan kami akan gelar kembali,” tutupnya.

Perlu diketahui, sebelum di eksploitasi oleh PT. BSI, Gunung Tumpang Pitu merupakan hutan lindung. Padahal, Gunung Tumpang Pitu dibutuhkan warga sebagai benteng alami dari daya rusak tsunami, dan Kawasan Rawan Bencana (KRB). Menurut warga sebagai KRB, seharusnya hutan lindung Gunung Tumpang Pitu dikonservasi.(terbit/****)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here